Archive for October 18th, 2009

Mencipta Konten Lokal, Memperkokoh Daya Saing Bangsa

Di era digital, teori global village yang dikatakan Friedman dalam buku The World is Flat terbukti. Global village telah menyebabkan dunia tidak memiliki tapal batas sedikit pun. Berita yang terjadi di kutub selatan akan terekspos hanya dalam hitungan menit.

Dengan Internet, semua  informasi yang kita butuhkan mudah terkases. Hanya saja ada kemuan nggak untuk bisa maju bersama-sama.

Dengan Internet, semua informasi yang kita butuhkan mudah terkases. Hanya saja ada kemuan nggak untuk bisa maju bersama-sama.

Tidak hanya informasi, segala jenis budaya, nilai, dan idiologi akan dikonsumsi dengan menggunakan internet, TV, HP, dan majalah dengan mudahnya. Media itulah, yang kini bisa mempengaruhi pola pikir dunia dengan mudah.

Semenjak adanya akses internet, orang bisa berselancar kemanapun untuk mengorek informasi di belahan dunia, asalkan bisa menguasai bahasa Inggris, kita bisa membaca petunjuk yang tersedia dalam fitur-fitur dalam website yang disediakan. Ketika kita bisa membaca semua petunjuk itu, semua infomormasi dapat kita akses tanpa bersusah payah.

Dengan Internet pula, kita dapat melakukan sosialisasi, menawarkan semua potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, baik potensi alam, pariwisata, kebudayaan , pendidikan maupun kesenian yang begitu banyak kita miliki.

Saat ini, bicara persoalan potensi yang bangsa Indonesia milki, belum tentu kalah dengan bangsa lain, Persoalannya, mampukah kita mengkomunikasikan dan menawarkan daya saing bangsa yang kita miliki ini ke negara lain agar tertarik untuk melihat Indonesia yang sesungguhnya?.

Dalam banyak hal, terutama di dunia Internet, fitur yang disediakan atau petunjuk-petunjuk yang ada, rata-rata menggunakan bahasa Inggris atau konten-konten yang jauh dari nilai-nilai keindonesiaan.

Padahal, kata Pierre Bourdin (2008), bahwa bahasa dan kekuasaan adalah hal yang tidak terpisahkan. Bahasa mencirikan status sosial dan bahasa pulalah yang bisa membantu kita mengidentifikasi siapa yang berbicara; politisi, rakyat bisa, guru, mahasiswa dan lain sebagainya.

Bahasa yang disampaikan lewat media seperti teks, buku, radio, koran, dan televisi tidak diragukan lagi menjadi unsur yang paling berperan dalam membangun konstruksi berpikir para pembaca, pendengar dan penonton dalam kehidupan sehari-hari. Namun bahasa juga seperti manusia dan media, tidak pernah lepas dari kepentingan dan nilai tertentu.

Artinya, dengan bahasa, baik yang sifatnya karya kata maupun gambar, tertulis maupun terucap dapat menunjukkan eksistensi pencipta karya tersebut. Orang luar negeri terlihat canggih dalam hal teknologi terutama internet karena mereka menguasai dan memenuhi isi internet itu dengan bahasa dan gambar program mereka yang menunjukkan kebudayaan mereka.

Satu layar datar, bisa merubah paradigma seseorang.

Satu layar datar, bisa merubah paradigma seseorang.

Sehingga kenyataan yang terjadi, banyak diantara kita meniru tanpa filter gaya-gaya mereka. Seperti gaya hidup, pornografi, pakaian dan sebagainya.

Oke, yang kita hadapi saat ini, teruatama dalam internet baik bahasa maupun konten yang di dalamnya rata rata dikuasai oleh orang yang berasal dari luar Indonesia.

Untuk keluar dari silau citra pengaruh itu, kita harus mampu mencipta untuk menandinginya dengan menunjukkan konten lokal (local content) atau program-program seperti penyebaran pengembangan shofware yang berbasis keindonesiaan. Tentunya bukan asal shofware yang asal-asalan, tapi juga harus mengandung nilai moralitas dan edukasi.

Konten local

Bicara daya saing bangsa Indonesia terutama dalam teknologi, sebenarnya kita bisa sedikit membusungkan dada kalau para praktisi teknologinya mau mengembangkan konten local untuk dipasarkan ke dunia.

Kalau mau sedkikit menengok potensi Indonesia dalam hal konten local, Indonesia mempunyai peluang-pelunag untuk dapat dikembangkan. Menurut IDC Professional Developer Model (2004), Jumlah software house di Indonesia mencapai 250 dan akan meningkat 2 kali dalam 5 tahun ke depan. Jumlah pengembang profesional mencapai 56.500 orang dan akan meningkat sampai 71.600 orang di tahun 2010.

Budaya Indonesia yang layak diajarkan dan disebarkan melalui content lokal

Budaya Indonesia yang layak diajarkan dan disebarkan melalui content lokal

Perlu diingat bahwa total pengembang profesional di dunia adalah 13,5 juta (Indonesia menyumbang 0,5%). Sumbangan terbesar dari India (10,5%) dan Amerika (18,9%). Region Asia Pacific penyumbang developer terbesar di dunia (29,2%) disusul North America (21,7%).

Dan yang menarik, saya yakin ini termasuk keunggulan komparatif bagi pengembang di Asia Pasifik, software spending per developer region Asia Pacific sangat rendah, hanya 50% dari region North America.

Indonesia bukanlah negara yang tidur dalam software development, hanya masalahnya sekarang banyak yang bergerak secara sendiri-sendiri, bergerilya dan tidak terkoordinasi. Kita dapat melihat bahwa lebih dari 200 komunitas, forum dan milis pengembang Indonesia, baik yang berkumpul karena kesamaan bahasa pemrograman yang digunakan, atau bidang software yang digarap.

Yang cukup menggembirakan bahwa pasar Teknologi Informasi (TI) akan bergerak positif di Indonesia. Laporan IDC menyatakan bahwa dalam lima tahun ke depan, sektor IT di Indonesia akan didominasi oleh IT services. Ini akan menumbuhkan 81.000 lapangan pekerjaan dan 1100 perusahaan IT baru.

Lebuh baik anak-anak Indonesia mengenal tokoh-tokoh ini dari pada tokoh-tokoh imajinatif buatan asing

Lebuh baik anak-anak Indonesia mengenal tokoh-tokoh ini dari pada tokoh-tokoh imajinatif buatan asing

Dalam periode tersebut, software spending akan naik hingga mencapai 11.4% dari total IT Spending. 29.9% dari seluruh pekerja IT di Indonesia akan terlibat dalam pengembangan, pendistribusian atau layanan implementasi software.

Masalah berikutnya tentu apakah kita akan membiarkan potensi ini semua dinikmati oleh industri asing yang kuat (Jepang, Korea, Taiwan, dsb) atau kita masih punya semangat dan ambisi untuk berjuang di sini. Kita punya peluang untuk memasuki potensi-potensi itu. Kalau tidak sekarang, lantas mulai kapan?

kita harus berjuang matian-matian untuk menembus dan menguasai potensi-potensi dalam mengambangkan konten-konten local kita untuk menyaingi industri-industri besar yang selama ini menghegemoni kehidupan.

Hanya saja, ada beberapa persoalan yang perlu dicarikan solusinya, seperti Software di Indonesia belum bisa menjadi industri profesional, tapi masih model pengrajin atau pedagang buah di pinggiran jalan yang jualan karena ada panen atau mood.

Selain itu, persolan yang acap mengganjal orang Indonesia adalah lemah di tataran ide produk dan inovasi, Kurangnya sarana penghubung dengan pihak yang membutuhkan software, dan Kurangnya keterlibatan pemerintah untuk melindungi pengembang software lokal.

Sebanarnya kalau mau menengok geliat konten local tekonologi di Indonesia sudah banyak yang memulai, seperti, Software dan sistem informasi. Semisal software buatan lokal untuk sistem informasi pendidikan, egovernment, perbankan, game, dsb.

Contoh lain yang sedang marak adalah Multimedia Content dan Edutainment. Ini diam-diam Indonesia termasuk jagonya. Mobile content kita marak, multimedia pendidikan juga makin heboh. Produk buatan IlmuKomputer.Com (Brainmatics) sudah masuk ke bank-bank asing, perusahaan asing, perusahaan penerbangan, perusahaan perkebunan, universitas, sma/smk dan juga TV edukasi.

Nah, potensi-potensi itu bisa dijadikan modal untuk mempertahankan atau menjadi daya saing bangsa Indonesia ditengah-tengah kompleksitas dunia, jikalau kita mau lebih merapat dan saling koordinasi untuk belajar lebih giat dan mengembangkan konten-konten local itu, daya saing Indonesia sulit diterpa oleh mata dunia. Kita akan kokoh mengembangkan ciri khas dan identitas keindonesiaan.

Konten-konten local, baik yang berisi tentang informasi, pendidikan atau hanya sekedar game yang berbasis keindonesiaan bisa dikonsumsi oleh bangsa Indonesia sendiri, atau tidak menutup kemungkinan jika disebarkan ke luar negeri melalui pasar internet.

Aku bangga menjadi bagian dirimu

Aku bangga menjadi bagian dirimu

Dengan cara ini, semua aspek kebudayaan, kesenian, pendidikan yang asli dimiliki dan berasal dari Indonesia dengan cirikhas pekertinya dapat ditawarkan di luar dengan mudah kalau menggunakan akses internet.

Kalau konten-konten local itu sudah mendunia dan berpengaruh, saya yakin daya saing bangsa Indonesia akan tegar, tidak menutup kemungkinan mata dunia akan berguru kepada kita tentang isi dan hakekat yang kita miliki.

Setidaknya perjuangan membangun local content (konten lokal) ini adalah juga perjuangan penyelamatan generasi. Menyelamatkan para anak muda kita dari konten-konten yang tidak mendidik di Internet. Ketika Internet kita penuhi konten-konten pendidikan, karier, peningkatan ilmu dan skill tentu lambat laun konten pornografi dan cracking akan tergerus.

Satu hal lagi yang menarik, realita membuktikan, bahwa pendataran dunia oleh Internet membuat perubahan di dunia memungkinkan dilakukan oleh individu (komunitas kecil), dan bukan lagi monopoli negara atau konglomerasi besar.

Ayo kita mulai kawan….!!! Selamatkan dan tegarkan bangsa kita..!!!! dari diri sendiri dan sekarang.

5 Comments