Perumahan Makin Marak, Banjir pun menemukan “Markas Baru”-nya


Sebagai kota yang sejuk, nyaman dan gak terlalu bising, Malang memang pas banget dijadiin tempat tinggal. Saran pendidikan memadai, hiburan dan wisata juga cukup oke. Jadi nggak heran kalo banyak banget masyarakat pendatang yang akhirnya menetap di Malang (termasuk aku,,hehehe…), dan hal ini bikin usaha properti makin marak.

banjir lagi...

banjir lagi...

Maraknya perumahan baru di Kota Malang itu saat ini dinilai menjadi penyebab munculnya lokasi-lokasi banjir baru di Kota Malang. Setelah diteliti lagi, ternyata itu terjadi karena nggak ada outlet atau saluran keluar air dari sistem drainase di sana. Beberapa lokasi banjir baru itu antara lain di simpang LA Sucipto, daerah Bunulrejo, dan sebagainya. Rata-rata di lokasi tersebut marak sedang dikembangkan perumahan-perumahan baru di Kota Malang.

Memang sih, kebutuhan perumahan baru ini akan selalu ada. Sementara, biasanya perumahan-perumahan itu bergantung pada saluran drainase utama yang udah pernah ada.

Logikanya nih :

kalau dengan curah hujan yang sama tetapi beban saluran drainase bertambah, maka air akan meluber dan terjadilah genangan atau banjir.


Untuk ngatasin hal itu…, sebaiknya dibuat peraturan daerah (perda) tentang layout kawasan. Dalam perda ini harus termuat kajian drainase lingkungan. Apakah lingkungan tersebut akan meresapkan air yang ada hanya 10 persen sementara yang dialirkan 90 persen dan sebaliknya, semua nantinya harus ada di perda tersebut…

Yang lebih penting nih, perda itu akan menentukan dengan jelas siapa yang berhak menerbitakan atau mengesahkan site plan atau lay out suatu kawasan yang akan dibangun. Dengan tercantum dalam perda, maka siapa yang menentukan lay out kawasan itu tidak akan berubah-ubah.

Selama ini, site plan kawasan di Kota Malang yang berkaitan dengan sistem drainasenya belum jelas. Belum ada arahan yang jelas tentang arahan sistem drainase bangunan baru. Akibatnya, semua membebani saluran drainase utama. Inilah yang membuat persoalan banjir di Kota Malang nggak pernah berakhir…

Dari informasi yang aku dapet, Kimpraswil masih menyisakan 12 lokasi banjir dari 25 lokasi yang selama ini ditangani. Ke-12 lokasi banjir itu akan segera diselesaikan tahun ini. Lokasi-lokasi banjir tersisa untuk digarap Kimpraswil itu adalah lokasi sekitar kampusku yang selalu banjir walo hujan cuma berlangsung sejam, (Brawijaya tercinta,hehehe..)

….yaitu pertigaan Jalan Ahmad Yani, perempatan ITN, Jalan Veteran depan MATOS, dan sebagainya. Rata-rata selain karena tersumbat sampah, di lokasi-lokasi itu terjadi penyempitan saluran drainase karena munculnya bangunan-bangunan.

Sejak taun 2007 tuh sebenarnya revitalisasi gorong-gorong dan pembenahan daerah aliran sungai sudah dilakukan oleh Pemkot Malang. Dalam APBD 2007, Dinas Kimpraswil telah dianggarkan dana sekitar Rp 1,25 M (Miliarrrrrrrrrr….) untuk pemeliharaan rutin jalan dan drainase. Sedangkan untuk pembangunan jalan, jembatan, dan drainase dianggarkan sekitar Rp 2,5 M sendiri. Gila, ga bisa ku bayangin duit sebanyak itu, huhuhu…

Menurutku nih…, kalau memang masih terjadi banjir di Kota Malang, itu artinya program perencanaan di Kota Malang tidak tepat. Maksudnya bahwa konstruksi dari gorong-gorong yang sudah dibetulkan tidak pas. Sehingga air bisa kembali melimpas.

Untuk itu, diperlukan engineer-engineer muda (seperti aku…hehehe…) yang kreatif dan inovatif dalam mengusulkan teknologi baru untuk penanggulangan banjir yang partisipatif, alias bisa dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan mudah, murah, efektif dan tepat guna.

Apa itu?

Tunggu posting selanjutnya tentang Webio Techno, hehe… Moga-moga Dikti mau mendanai proposalku buat teknologi ini. Doain ya kawan-kawan…, untuk negeri kita tercinta nih ^^

  1. #1 by margareta on October 17, 2009 - 2:48 pm

    Ditunggu Webio Techno-nya ya! :) Penasaran nih!

  2. #2 by nisa on October 19, 2009 - 5:51 am

    Technonya dalam bentuk alat dan masih nunggu proses pendanaan mbak,heheu… moga aja bisa segera di publish… siap2 bebas banjir, hehehehew… ( yakin mode on) ^^

(will not be published)