Archive for category Lifelike
Jangan Panggil Saya “Ukhti”
Posted by nisa in Inspirational, Lifelike on June 27, 2010
PROLOG

just call me Nisa :)
Bukankah dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas pengajian, keputrian, dan hal-hal lain sejenis itu yang hanya melibatkan sekelompok /komunitas tertentu yang menganggap dirinya eksklusif dan paling benar?
Tiga Harapan orangtua kepada anak perempuannya…
Posted by nisa in Inspirational, Lifelike, Relationship on May 6, 2010
Hari ini aku banyak mendapatkan nasehat dari dosenku yang dulu menjadi pembimbing akademik dan skripsiku, dosen senior di jurusanku yang paling kuidolakan. Bapak Dwi Priyantoro, idola dari dosen-dosen idola, hehe… Beliau tidak hanya membimbing akademik saja, tapi juga mengajari banyak hal seperti pengembangan karakter dan persiapan di dunia kerja. Sebenarnya aku berkali-kali kena tegur beliau, kena marah pun pernah.
Tapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan pelajaran yang banyak kudapatkan dari beliau. Tanpa semua itu, mungkin aku tidak akan menjadi Annisak Laila Rakhmawati yang sekarang.
![]()
Dan hari ini, saat sharing seputar dunia kerja, prospek program S2 yang menjanjikan, dan juga benturan pendapat antara cita-citaku dengan keinginan orangtuaku, Pak Dwi menambahkan beberapa nasehat tentang hubungan orangtua dengan anak perempuannya (beliau memiliki dua anak perempuan yang telah menikah), yaitu tentang TIGA HAL YANG DIHARAPKAN ORANG TUA KEPADA ANAK PEREMPUANNYA…
1. SAAT SEKOLAH, TIDAK MENGECEWAKAN

rajin belajar dong! ^^
— sekolah disini berlaku untuk semua tingkatan, dari sekolah dasar hingga kuliah. Tidak mengecewakan, dalam arti kita harus mengusahakan yang terbaik untuk pendidikan kita, masa depan kita. Siapa orangtua yang tidak bahagia apabila nilai dan prestasi anaknya selama sekolah cukup memuaskan?
2. SAAT LULUS, MEMBANGGAKAN

wisuda! ^^
—sederhana bukan? Kita lulus tepat waktu, dengan predikat yang bagus. Dan selanjutnya kita mencari masa depan yang baik, bekerja di tempat yang kita senangi, yang direstui oleh beliau, membuat beliau bangga dengan apa yang kita capai. Untuk hal ini memang dibutuhkan pengorbanan, tapi dengan komunikasi yang baik, semua benturan yang terjadi pada masa ini akan teratasi dengan baik, TRUST ME
3. SAAT MENIKAH, TIDAK MEMALUKAN

bahagianya... :)
— betapa bahagianya orangtua kita, saat menikahkan kita dengan begitu sakral dan terhormat. Bukankah pernikahan adalah sesuatu yang begitu suci? Inilah hal terakhir yang diharapkan dari orangtua kita, melepaskan kita kedalam kehidupan baru dengan proses yang suci, pernikahan yang terhormat. Bukan hal yang sulit kan, lagipula ini untuk kebaikan kita sendiri…
My Dreams come TRUE (2) : Napak Tilas Silatnas
Kedungdoro,-Markas Besar Beswan Regional Surabaya-, 15 November 2009
Berangkat dari rumah jam 5 pagi, serasa ospek! Aku melawan udara dingin dengan semangat berapi-api untuk melakukan perjalanan Sengkaling-Takri,–tempat Beswan Malang berkumpul sebelum berangkat bersama ke Surabaya. Aku, Irul, dan Mas Wawan ikut mobilnya Pak Kusnowo (pembina Beswan Malang) yang melaju menuju Surabaya dengan kecepatan diatas 100 km/jam.
Dan aku pun mabuk darat, ahahay… >,<
Tiba di Kedungdoro, aku mencari Ichal dan Gek. Ternyata Ichal masih mengurus keperluan bus karena dia jadi koordinator. Gekta-lah yang kutemui pertama kali, -tanpa peduli kanan kiri dan pandangan “ngapain dua orang ini” dari beswan baru–,kami langsung screaming a la cheerleaders, hmm….dua sahabat yang lama tidak bertemu… ^^ ..lanjutin..
My Dreams come TRUE (1) : Berangkat ke MDP 2009
The Sisterhood of Flower Sandals memiliki satu mimpi yang jadi mimpi bersama : IKUT MDP 2009. Ga peduli berangkat sebagai pendamping ataukah sebagai penyelundup (ilegal, haghaga…), yang penting bisa ikut MDP. Hehe…, impian yang mungkin terdengar cukup konyol
Langkah pertama yang dilakukan adalah ikut LKT Beswan Djarum 2009 yang diadakan di awal tahun ini. Aku dan Gek memang lebih bersemangat daripada Dyan (walaupun semangatnya baru muncul dua hari menjelang deadline, hehe), kami sering sms dan telfon-telfon untuk saling menyemangati. …lanjut baca
Nisa, Gek, dan Dyan : The Sisterhood of Flower Sandals (1)
Posted by nisa in Inspirational, Lifelike, Relationship on November 13, 2009
Pertama kali baca judul diatas, pasti mikir “kayaknya pernah denger kalimat yang nyrempet-nyrempet itu deh… “
hehehe
Hahaha, kalian ga salah. Nama ini emang terinspirasi dari film yang booming 4 tahun lalu : The Sisterhood of the Traveling Pants” yang menceritakan persahabatan Amber, Lena, Carmen, dan Bridget. Empat cewek ini bersahabat bertahun-tahun dan berencana untuk tetap terhubung satu sama lain (walau terpisah oleh jarak yang begitu jauh..) dengan satu celana jeans yang secara ajaib bisa pas dengan ukuran tubuh mereka yang jauuuuh berbeda… Mereka setuju banget bahwa celana itu adalah sebuah keajaiban, yups… the travelling pants!
……………………………………………………………………………………………………………
Tapi kisah persahabatan yang akan aku ceritain disini bukan dihubungkan oleh sebuah celana jeans (Gekta…, aku ma Dyan ogah pake celana bekas kamu, hahaha… ), melainkan dihubungkan oleh : FLOWER SANDALS. …lanjut baca…
Mengapa aku menulis?

serius mikir...
Ada banyak jejak yang aku tinggalkan di masa lalu, dan sebagian jejak itu terlupakan. Seperti jejak yang kutinggalkan di pesisir pantai, yang akan tersapu ombak.
………
Aku berjalan lagi diatas rawa-rawa, dan aku tidak melihat jejakku, tanpa menunggu tersapu oleh apapun, jejakku hilang dengan sendirinya.
Menulis adalah jejak.
Aku melihat beberapa catatan harianku beberapa tahun yang lalu. It drag me back to the past. Semua kenangan dengan teman-teman masa kecil dan kejadian-kejadian lucu yang sempat terlupakan, jadi bangkit kembali. …read more
Generasi Indonesia dan Dahaga Nasionalisme
Posted by nisa in BrainTalk, Inspirational, Lifelike on October 29, 2009

Sumpah Pemuda 1928
Ternyata tidak semua orang ingat bahwa kemarin adalah Hari Sumpah Pemuda, memperingati 81 tahun yang lalu saat pamuda-pemuda dari seluruh negeri berkumpul dan menyuarakan kebulatan tekad para pemuda untuk mempersatukan pemuda Indonesia dibawah tiga aspek : tanah air, bangsa, dan bahasa.
Secara hafriah, kata “memperingati” berasal dari kata dasar “ingat”, artinya membuka kembali memori pada masa lalu yang telah tersimpan dalam sejarah dan ingatan. Tapi ternyata, hanya sekedar mengingat saja tidak bisa kita lakukan, apalagi merenungi dan menangkap esensinya?
Poligami (2) : “Benarkah poligami saat ini meningkatkan kedudukan perempuan?”
Posted by nisa in BrainTalk, Inspirational, Lifelike, Relationship on October 20, 2009

aksi tolak poligami di perspektif.net
Kembali lagi bahas tentang headline kedatangan Klub Poligami di Indonesia.
Aku browsing tentang informasi ini dibantu Mas Google, hehe… Ini salah satu infonya…
Ø Detik.yogyakarta.net
Peluncuran klub poligami asal Malaysia, Poligami Ikhwan langsung mendapat respons negatif. LBH Apik menyatakan menolak adanya klub yang di Malaysia memiliki 300 anggota itu.
“Kami mengecam acara launching klub poligami yang telah diadakan di Bandung dan menolak pendirian klub poligami Global Ikhwan cabang Indonesia,” kata Staf Divisi Pelayanan Hukum LBH Apik Abdul Hamim Jauzie dalam rilis kepada detikcom, Senin (19/10/2009).
Abdul mengatakan, berdasarkan pengaduan yang diterima LBH Apik selama ini, praktek poligami dinilai menimbulkan tekanan psikis, penganiayaan fisik, dan penelantaran baik istri maupun anak. Selain itu, poligami juga merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan seperti dalam UU No 7/1984 tentang Ratifikasi CEDAW (The Convention on The Elimination of Discrimination Againts Women).
Biar lebih jelas juga, aku scan artikel di Harian Surya, hari ini 20 Oktober 2009…
Poligami (1) : Kontroversi pernyataan “Poligami itu Sunnah”
Posted by nisa in BrainTalk, Inspirational, Lifelike, Relationship on October 20, 2009

headline hari ini
Pagi ini merasa terusik dengan headline sebuah surat kabar berjudul : Ibu-ibu Deklarasi Klub Poligami”.
What???
POLIGAMI?
Dengan memajang gambar seorang suami dengan tiga istri dengan 12 anaknya (mungkin lebih) yang bergandengan tangan menuh-menuhin jalanan, dengan ekspresi berlebihan yang (seolah-olah?) bahagia…
Poligami selalu jadi perdebatan seru, apalagi kalo perdebatan itu dilakukan multigender..,hahaha… secara laki-laki seneng banget bersikap seperti menyetujui poligami, tapi kalo ibunya atau adiknya atau kakaknya dipoligami dia bisa jadi orang pertama yang gak setuju…
Keseimbangan Alam dalam Filosofi Air, Tai-chi, dan Sembahyang…
Posted by nisa in BrainTalk, Enviro-water, Inspirational, Lifelike on October 19, 2009
Esensi kompleks, …yang dihasilkan dari ajaran hidup sesuai dengan hukum alam merupakan kebenaran yang mendalam dari semua agama. Gimanapun juga, esensi ini sangat ditekankan untuk semua ajaran religius. Esensi yang kompleks yang dihasilkan dari ajaran hidup yang sesuai dengan hukum alam juga menjadi tujuan dari segala ilmu.
Ajaran ini kayak kunci master (guru) yang dapat membuka semua pintu yang membimbing kita ke arah kebenaran utama dalam tingkat emosi, juga tidak terkunci pada tingkat pikiran sehingga tidak membuat kita tidak skeptis (tau skeptis kan? Hehe…)

semesta...
Apalagi perkembangan hidup modern sekarang ni sangat pesat di berbagai bidang, ditambah dengan penemuan-penemuan modern yang nggak diragukan lagi mempunyai manfaat besar bagi semua orang. Tapi sayangnya, kehidupan psikologis dan perkembangan kepribadian manusia tu belum setaraf dengan perkembangan teknologi modern.
……………………………
……………………………
- Kayak di Barat misalnya, agama dominan dalam banyak aspek kehidupan, dengan akibat positif dan negatifnya. Agama sebagai pengatur psikologis menawarkan kekuatan psikologis bagi seseorang dan membuat manusia bisa menghadapi problem sehari-hari. Akan tetapi ketika ilmu pengetahuan mulai berkembang pengatur psikologis ini mulai melemah sebagai hasil dari perkembangan intelektualitas. Sehingga akibatnya kehidupan psikologis jadi nggak terlindungi. Dan akhirnya, kebingungan mulai muncul dalam berbagai bentuk.
- Lain halnya dengan dunia Timur, agama sebagai pengatur psikologis yang menjadi pegangan dasar dalam menjalankan kehidupan tetap dipertahankan walaupun penemuan-penemuan teknologi modern mulai berkembang dan semakin canggih, tidak banyak mempengaruhinya dalam menjalankan ritual keagamaan sehari-hari, dengan demikian psikologi dapat terlindungi sehingga ketentraman jiwa tetap terkontrol.









Recent Comments