July 2010
M T W T F S S
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Lihat juga ya!

visitor map

Click it!

Sehat karena Sedekah -based on true story-

Saya yakin tidak ada manusia di bumi ini yang ingin sakit, bahkan sakit yang teringan sekalipun. Di saat sehat terkadang kita menikmati dan menggunakannya begitu saja, lupa bersyukur. Sakit, mungkin adalah bahasa dari Allah Swt untuk mengingatkan kita yang lupa bersyukur. Seperti beberapa minggu yang lalu, saya sakit infeksi pencernaan selama seminggu, lemah sama sekali tak berdaya. Semalam sebelum sakit, saya tidak merasakan keluhan apa-apa bahkan saya tidur dengan nyenyaknya. Namun menjelang subuh dimulailah serangan, diare berkali-kali diselingi muntah dan mual yang luar biasa. Seketika lemas semua anggota badan. Pagi itu saya langsung dibawa ke klinik 24 jam yang ada di dekat rumah, ya Alhamdulillah bisa mengurangi sakit. Setelah mengkonsumsi obat-obatan dari klinik tersebut selama 2 hari, ternyata tidak memberikan efek menyembuhkan bagi saya. Diare, mual muntah masih menyerang. Berat badan sudah berkurang 5 kg. Ibu saya sudah mulai bingung dan mencoba memeriksakan saya di rumah sakit. Dokter rumah sakit tersebut mengatakan kepada saya untuk menghentikan mengkonsumsi obat dari klinik tapi diganti dengan obat dari resepnya. Saya cuma bisa menuruti kata dokter tersebut tanpa pikir panjang, yang ada di pikiran saya hanya ingin cepat sembuh agar bisa beraktivitas lagi.

Belum ada perubahan yang signifikan dari tubuh saya setelah mengkonsumsi obat dari rumah sakit selama 3 hari, saya masih tetap diare. Kurus bukan main. Orang tua, khususnya ibu saya mulai uring-uringan melihat kondisi saya. Saya pun sebenarnya tersiksa dengan kondisi sakit seperti itu, karena banyak tanggung jawab dan deadline yang harus saya selesaikan tapi kondisi saya sama sekali tidak bisa digunakan untuk beraktivitas normal. Untuk berlama-lama duduk saja saya merasa mual, berdiri sebentar pun tak kuat, berlama-lama tidur pun pusing. Pilu memang.

Sudah berhari-hari saya absen dari dunia perkuliahan, mungkin sudah banyak materi yang tertinggal dan tugas telah menumpuk. Suatu hari saya memaksakan diri untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah menjadi bagian saya. Yang jelas saya harus menyelesaikan sebisa saya meskipun badan ini lemah bukan main. Bagian saya adalah mengedit tugas lalu diprint dan diserahkan kepada teman sekelompok saya. Kebetulan print di rumah sedang rusak, saya masih tidak kuat untuk pergi kemana-mana. Akhirnya saya meminta bantuan teman saya untuk ngeprint dan menyerahkan tugas itu kepada teman sekelompok saya. Saya pun menyerahkan flashdisk dan uang 50ribu untuknya. Kemudian dia pergi sesuai permintaan saya.

Hari berganti, teman saya kembali lagi untuk mengembalikan flashdisk. Saya hanya bisa berterima kasih padanya secara lemas, karena kondisi saya masih sakit. Sambil menyerahkan flashdisk, teman saya teringat sesuatu. “Oh ya, ini uang 50ribu-mu kemarin ga jadi buat ngeprint. Habisnya cuma 4500, lha daripada susah kembaliannya. Pake uangku aja gapapa.” Uang 50ribu itu kemudian diberikan kepada saya, nyaris dalam genggaman tangan, uang itu kembali diambilnya lagi. “Eh, daripada nggak dipakai. Gimana kalo uangnya disedekahin aja?” Hati saya agak berontak ‘Itu kan uang 50ribu-ku…’ tapi yang terucap adalah “Mau disedekahin kemana emang?” “Ya, di rumah zakat yang di Lamper Tengah mungkin ato di PPPA depan MAJT. Tapi ya terserah sih, mau ato ga. Siapa tau bisa cepet sembuh” ucapnya. “Mm…” berpikir apakah uang 50ribu itu yakin akan disedekahkan semua. Akhirnya, “ya sudah nih. Makasih ya.” “Oke” akhirnya dia pun pergi membawa uang saya dan entah kenapa hati saya terasa lega.

Hari berganti, semalam yang masih lemas dan diare ternyata di pagi hari sudah ada tenaga dan diare berhenti. Ajaib, Alhamdulillah. Hari itu, saya mulai kembali sumringah dan deg-degan (teringat tugas yang menumpuk). Teman saya datang lagi ke rumah. “Ada yang ingin aku kasi ke kamu.” “Apaan?” tanyaku. “Nih” dia memberikan sebuah kertas tipis berwarna kuning serupa nota belanja, di kertas itu tertulis nama lembaga PPPA, namaku, jenis infaq/shodaqoh, dan banyaknya uang yang diberikan. Kemudian teman saya mulai bercerita, “Malam itu rencanya aku mau sedekahin di rumah zakat, kan deket tu. Tapi setelah sampai di rumah zakat kok sepi, kaya ga ada aktivitas gitu, mungkin udah tutup. Ya udah sekalian aja aku ke PPPA. Nah, waktu di PPPA tu langsung di sambut sama yang jaga, ditanyain ‘ada perlu apa?’ ya aku jawab mau sedekah. Penjaganya langsung mempersilakan, trus aku disuruh ngisi form gitu. Nah, kemudian penjaganya ngasi kertas lagi, blangko buat nulis doa dari orang yang nyedekahin. Kata penjaganya ‘Nih diisi aja, doa dari yang nyedekahin nanti dikirim ke anak-anak penghapal Quran buat di doain.’ Gitu.” “Waw, subhanallah sekali. Hebat!” ucapku. “Terus kamu ngisi doa apa aja?”

“Mm…apa ya. Lupa” “Ga usah pura-pura lupa kamu.” “Aku lupa yo, sebentar tak ingat-ingat dulu” ucapnya sambil berpikir-pikir. “Mm, kalo ga salah yang pertama: semoga diangkat semua penyakitmu oleh Allah. Kedua: dilancarkan kuliahnya sampai selesai, dan diberikan berkah untuk ilmumu. Ketiga: dimudahkan untuk berkeluarga. Keempat: diberikan kesempatan untuk mengunjungi timur tengah, terutama ke turki. Hehe”

“Amiin, amiin ya robbal ‘alamiin. Makasih ya…lho pergi hajinya belum. Ya sudah, nanti lagi. Insha Allah. =)”

“Oke.”

Alhamdulillah.

I’m back,

Whooalaaa….halo.

Ah, sudah lama ga isi blog lagi. Bulan ini entah kenapa terasa penuh dan banyak kegiatan (yang mengharuskan bepergian ke luar kota). Ada juga sedikit ‘peringatan’ di bulan ini untukku, muntaber selama seminggu cukup melemahkan fungsi tubuh padahal banyak deadline yang harus dikejar. Whaaaa, tapi inshaAllah, Allah memudahkan segala urusanku. amiin.

Salam hangat utk beswan&pembaca semua,

:)

I’m sick,,

hm, inshaAllah cepat sembuh

Romantisme,

Saya suka dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan romantisme…

Saya rasa sikap romantis adalah aplikasi dari rasa sayang&cinta. Sikap romantis juga salah satu seni perwujudan sikap menghargai pasangan.

Yang jelas romantis harus ikhlas dan murni dari hati.  Dari sisi ikhlas dan murni inilah kualitas romantisme diuji.

Tak perlu berlebihan, saya rasa sikap romantis bisa dilakukan dalam banyak hal. Hanya Anda dan pasanganlah yang tahu selera romantis masing-masing.

Mungkin sekedar membuat sarapan untuk kekasih tercinta yang masih terlelap, meninggalkan pesan cinta di kulkas, atau menemani dengan sabar di rumah sakit. Saya rasa hal-hal seperti itu termasuk romantis…

Sederhana, indah, dan mudah dipahami = romantis.

hehe, please try this at home…

:)

Senang Sejenak….

Wew…blogku dilihat orang Turki…!

Alhamduillah, amazing…

uhuy,

:D

Crispy Fried Vegetable Cake!

We (the Indonesian) usually call it as ‘bakwan’. I think this’s a technique to modify the taste of vegetables in order to get more delicious and preferably taste.

bakwan sayurrrrr

Okay, let me list what you need to make it by yourself. ^_^d

  1. 1/4 kg of beans (slice it every 4 cm)
  2. 1/4 kg of carrots (dice it like a match)
  3. 1/4 kg 0f wheat flour
  4. 6 garlics
  5. 1/2 tsp pepper
  6. 1 tsp salt
  7. 1/4 kg 0f spicy coating flour
  8. 1 egg
  9. water
  10. vegetable oil

So, make it!

  1. Grind the garlic, pepper, and salt together.
  2. Pour the grinded spice and egg into the wheat flour, spicy coating flour, and wheat flour.
  3. Mix it. Add water until you get a dough more viscous than a pancake dough.
  4. Pour the vegetable into the dough.
  5. Fry the dough into deep fry. Fry it every cup of dough.
  6. Fry until you get golden brown fried vegetable cake!

Try it.

:D

Cara Lama Tetap Efisien

Ketika saya masih SD dimana zaman pendidikan masih menggunakan kurikulum yang tetap dan buku-buku pelajaran jarang berganti, maka kakak perempuan saya yang berumur tujuh tahun lebih tua daripada saya sering mengajak saya ke pedagang buku loakan (second hand books) untuk membeli kebutuhan buku-buku sekolah kami. Tempat penjual buku loakan itu tidak jauh dari rumah kami, letaknya di kampung tetangga, berupa rumah sederhana serupa gudang buku-buku bekas yang dihuni oleh sepasang kakek dan nenek. Pada awalnya saya merasa enggan datang ke tempat itu (karena rasa gengsi anak-anak yang menginginkan buku baru), tapi ternyata pedagang buku loakan itu memberikan alternatif belanja buku sekolah atau mungkin majalah bekas yang lebih murah dengan kondisi yang masih cukup baik. Harga buku di tempat itu (saat itu, tahun 90-an) berkisar antara ratusan hingga (maksimal) ribuan rupiah, murah memang.

Setiap kenaikan kelas, kakak saya akan mengajak saya pergi ke pedagang buku loakan tersebut, berusaha dulu mencari buku bekas kelas baru di loakan (kalau ternyata buku yang dicari tidak ada di loakan, maka terpaksa beli buku yang baru). Kebiasaan kakak saya ini mulai membiasakan saya juga untuk menemaninya pergi ke pedagang buku loakan tersebut, membuat saya lama-lama mengagumi tempat yang serupa gudang itu. Rasa penasaran saya terhadap buku dimulai dari tempat yang pengap dan sedikit bau apak itu. Di tempat loakan itu, saya mulai membeli buku non pelajaran sekolah, kakak saya pun mengizinkan saya untuk membelinya. Saya menemukan buku ensiklopedi mini yang halamannya sudah tidak lengkap lagi. Di dalamnya berisi tentang pengetahuan tentang rasi bintang, labirin, dll. Saya cukup tertarik dan berminat mempraktekannya dengan melihat berbagai rasi bintang yang ada di atas rumah saya.

Sejak saat itu saya mulai keranjingan buku. Ternyata dari buku kita bisa tahu berbagai macam hal. Setiap pulang sekolah, saya langsung membaca buku. Entah itu buku sekolah saya, buku anak-anak milik saya, atau buku SMA kakak saya (tentu saja yang ringan-ringan seperti: sejarah, biologi, atau geografi untuk SMA). Yang penting saya suka dan tertarik. Dari membaca buku, ternyata bisa lebih mudah memahami pelajaran sekolah. Tentu saja saya tidak pintar, bedanya hanya saya lebih tahu dahulu tentang materi pelajaran sekolah ketimbang teman-teman saya. Itu saja. Membaca buku mempermudah saya untuk meraih prestasi di sekolah. Saat di bangku SD saya mudah meraih ranking 1 atau 2, saya dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai lomba pelajaran. Sekali lagi, saya tidak pintar. Hanya lebih dahulu tahu daripada teman-teman saya.

Berkenalan dengan Novel

Lagi-lagi kakak perempuan saya yang mengenalkan saya terhadap berbagai macam buku. Dialah yang memohon kepada ayah saya untuk membelikan ensiklopedi anak-anak untuk saya, yang akhirnya membuat saya menyayangi semua kumpulan ensiklopedi saya. Dialah yang pertama kali menghadiahkan novel remaja Enid Blyton di hari ulang tahun saya, yang awalnya saya sambut pemberiannya dengan kernyit keheranan dan sedikit penolakan tapi akhirnya saya tergila-gila mengkoleksi novel karya Enid Blyton dan mencicipi berbagai novel lainnya hingga sekarang.

reading

Masa Sekarang

Saat ini tanpa membaca akan membuat kita cepat ketinggalan informasi. Apalagi materi perkuliahan yang cukup berat memaksa kita memahaminya lebih lanjut lewat membaca. Di usia yang semakin dewasa ini, ada-ada saja godaan untuk meninggalkan bacaan bermanfaat kita. Tanpa motivasi dan niat khusus, akan cepat memudarkan keinginan kita untuk membaca. Saya sangat terinspirasi dengan perilaku kakak saya yang mendorong saya untuk mencintai buku. Saya ingin menularkan kebiasaan baik ini kepada keluarga saya, khususnya keponakan-keponakan saya yang masih kecil sehingga mereka lebih mudah membiasakannya.

Teringat betapa pentingnya membaca, lewat sebuah surat Al ‘Alaq. Awal mula tumbuhnya Islam adalah lewat membaca. Surat ini adalah surat pertama yang diturnkan Allah Swt untuk Muhammad. Allah Swt (Tuhan) menyeru kepada Muhammad yang tidak tahu menahu tentang apa-apa untuk membaca. Membaca berarti membuka pintu pikiran menuju jalan ilmu. Subhanallah…

بسم الله الرحمن الرحيم

96:1

Recite in the name of your Lord who created -

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

96:2

Created man from a clinging substance.

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

96:3

Recite, and your Lord is the most Generous -

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,

96:4

Who taught by the pen -

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

96:5

Taught man that which he knew not.

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya……….

Kesimpulan

  1. Kebiasaan baik (membaca) harus diperkenalkan secara konsisten, perlahan-lahan tapi pasti.
  2. Memperkenalkan kebiasaan membaca hendaknya dikenalkan dengan cara yang menyenangkan sehingga mudah merasuk ke dalam hati dan pikiran.
  3. Hendaknya memulai membaca dengan niat yang baik sehingga memperoleh manfaat yang baik dan tidak sia-sia

Selamat menebar virus membaca…..

:)

my sister

My Public Photos

via girls on BPK.

Semarang Book Fair-A cheaper way to get all new books!

Yap, bagi yang suka ‘melahap’ + mengkoleksi buku, pasti even Semarang Book Fair adalah momen yang dinanti-nantikan untuk dikunjungi. Selain menyediakan berbagai macam genre buku dan penerbit dengan harga diskon gede-gedean (up to 80%) juga terdapat berbagai acara untuk memeriahkan bazaar buku tersebut seperti lomba gambar, lomba puisi, lomba band, dll. Ada doorprize juga untuk pembeli yang memborong buku minimal Rp 50.000,00. Semua yang dijajakan dalam bazaar buku ini adalah buku baru semua, no second hand books. Nah, biasanya Semarang Book Fair ini diadakan dua atau 3 bulan sekali di Gedung Wanita (Jln.Sriwijaya). Menurut saya, acara seperti ini sangat membantu untuk program pencerdasan karena kita bisa beli berbagai macam buku baru dengan harga yang lebih murah. Seru!

img_0096img_0094

Lawang Sewu Exhibition 2010

Lawang Sewu (the icon of  Semarang), an ancient building from Dutch colonial era which is located on the most crowded and fabulous downtown in Semarang. Lawang Sewu (Javanese name) means a thousand doors, its name is because it have many rooms, and the rooms’s window is very big that the ancient Indonesian equalized between the door and the window based on its size. I think there was no such activity in Lawang Sewu since I was a little girl (about 90’s). Lawang Sewu stand firmly and beautifully with its emptiness, watched the crowded downtown alone. Until a TV show took an horror event (about 2000’s, an event in Lawang Sewu by leaving someone alone in the building from 12 am-5 am to feel the mystical atmosphere), then Lawang Sewu became a fabulous building that makes curious every one to explore it. But now the government starts to revive the Lawang Sewu. The government allows events to activate Lawang Sewu which can enhance tourism sector of Semarang. One of the event which I visited was Lawang Sewu Exhibition 2010. It has been held in the end of April to welcome the Semarang Anniversary. Lawang Sewu Exhibition contains local art gallery, local art shows such as: traditional dances, traditional musics, local products, band competition, and touring inside Lawang Sewu.

The outer Lawang SewuInside Lawang Sewu

The center yard

img_00841img_0085
inside lawang sewu