Berbagai tanaman perlu dilakukan pembudidayaan dan pelestarian, sehingga kelangsungan generasi dari tanaman akan selalu terjaga. Adanya tanaman langka dikarenakan kurangnya pembudidayaan dan pelestarian tanaman tertentu yang saat ini dibutuhkan karena memiliki cirri khas tertentu yang diminati oleh beberapa konsumen. Pelestarian tanaman langka perlu dilakukan, hal ini dikarenakan tidak punah plasma nutfah berbagai tanaman yang dimiliki. Ada beberapa tanaman buah-buahan yang saat ini perlu konservasi khusus karena kelangkaannya, diantaranya kepel, kesemek, kopi anjing (nam-nam), pepino, duwet putih dan ungu, gowok, manila, kemang, buah buni, buah naga dan lain-lain.
Kepel tumbuh liar pada tanah hat yang lembap dan dalam, di hutan-hutan sekunder di Jawa. Dibudidayakan sebagai pohon buah pada ketinggian mencapai 600 m dpl., dan mampu berbuah pada 18° LS di Queensland. Jenis ini dapat tumbuh baik di sela-sela rumpun bambu, yang di tempat itu pohon-pohon lain tidak mampu bersaing. Secara geografis pohon kepel ditemui di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Orang Jawa menamainya kepel karena besarnya sekepal tangan orang dewasa. Tanaman ini tumbuh baik di tanah yang subur, mengandung humus dan lembab di ketinggian 150 sampai 300 meter di atas permukaan laut. Pohon kepel bisa tumbuh mencapai ketinggian sampai 20 meter. Dengan ketinggian ini pohon kepel amat layak dijadikan pohon peneduh. Bentuk batang pohon ini tegak lurus dengan tajuk berbentuk kerucut sehingga menarik untuk dijadikan tanaman hias. Buah pohon ini tidak tumbuh di dahan seperti pohon lain.
Biji kepel tersusun melintang dalam buah. Daging buah kepel hanya sedikit. Rasa buahnya segar dan manis. Sayang, sebagian besar isi buah dipenuhi oleh biji sehingga tidak ada orang yang tertarik untuk membudidayakannya. Oleh karenanya, lambat laun pohon kepel menjadi langka seperti sekarang ini. Rasa takut kualat rakyat jelata juga menyebabkan pohon kepel menjadi pohon yang
langka sekarang. Sampai sekarang penangkaran bibit pohon kepel hanya dapat dilakukan dengan biji. Usaha penangkaran dengan setek, tempelan, dan okulasi masih belum berhasil. Belum diketahui apa penyebabnya, sehingga belum ditemukan cara mengatasinya.

Tanaman kepel (Stelechocarpus buharol) salah satu famili Annonaceae, merupakan flora asli Indonesia ini yang belum banyak diperdayakan. Berbagai penelitian terhadap beberapa tanaman dari tingkat taksonomi yang sama menyebutkan bahwa terdapat kandungan zat sitotoksik dalam tanaman tersebut. Zat sitotoksik tersebut antara lain acetogeninns, styryl lactons, isoflavon, dan alkaloid phenanhtrene lactams. Sampai saat ini belum terdapat penjelasan mengenai zat sitotoksik yang paling berpengaruh terhadap aktivitas sitistatik antimutagenesis dan anticarcinogenesis.
Penanganan dalam pembudidayaan yang baik akan menghasilkan tanaman hidup dengan menghasilkan buah yang optimal. Pemilihan bibit dan penanaman penting diperhatikan diawal pembudidayaan. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan tanaman kepel yang baik, perlu penanganan yang baik pula dari awal pertanaman. Pengaturan jarak tanam dan pemupukan dasar yang perlu dilakukan dalam penanaman, sehingga tanaman tidak saling berebut unsur hara dengan tanaman yang lain dan tersedia makanan dengan pupuk kandang.
Kepel umumnya diperbanyak dengan benih yang diambil dari buah matang dan disemaikan secepatnya. Biji untuk itu harus diambil dari buah yang benar-benar sudah masak. Yaitu buah yang sudah jatuh sendiri di tanah. Uji kemasakannya dapat dilakukan dengan menggores kulit buah yang bersangkutan. Kalau bekas goresan berwana kuning atau coklat muda, itu tanda bahwa buah sudah masak betul. Sesudah dikupas dan dikeluarkan dari daging buahnya, biji-biji dicuci bersih agar bebas dari getah dan daging buah. Lalu dikering-anginkan di tempat teduh (tapi berangin), sampai kering sendiri. Karena kulitnya tebal dan keras, biji perlu diampelas dulu. Jadi air penyiram di tempat pesemaian nanti mudah menembus dinding biji. Sedangkan tunas dari dalam juga mudah menembus keluar, dan cepat berkecambah nanti. Tidak usah semua dinding diampelas. Cukup bagian yang ada lembaganya saja.
Benihnya dibersihkan dengan jalan dicuci dan dikeringkan di tempat teduh. Sebelum disemai benih diskarifikasi, tetapi perkecambahannya masih memerlukan waktu beberapa bulan. Lambat-laun persentase perkecambahannya tinggi juga. Mula-mula biji dikecambahkan dalam kotak kayu berisi pasir bersih yang sudah diayak halus, setebal 5 cm, dan ditutup pasir setebal 5 cm juga. Sesudah berkecambah (kalau disirami setiap hari), biji yang sekarang disebut benih itu dipindahtanamkan ke bedengan pesemaian di lapangan. Tanah bedengan ini dicampur pupuk kandang dulu dengan perbandingan 1 : 1. Jarak tanam benih diusahakan 20 cm dalam barisan, dan 60 cm antarbarisan. Lubang penanaman ini dibuat yang cukup dalam, yaitu 50 cm x 50 cm x 50 cm. Tanah lapisan atas yang digundukkan di suatu tempat dicampur pupuk kandang sebanyak dua kaleng (bekas) minyak tanah, sebelum dikembalikan ke lubang, setelah bibit ditanamkan. (Kantung plastiknya dirobek dan dibuang, tentunya).
Perkecambahannya hipogeal, akar tunggangnya membengkak dan tidak bercabang untuk beberapa waktu. Mula-mula semai itu tumbuh lambat. Pada saat semai berdaun 3-5 helai, dipindahtanamkan ke dalam pot. Ketika tingginya mencapai 0,5-1,0 m bibit dipindahtanamkan ke lapangan dengan jarak tanam 6-8 meter. Fase remajanya berlangsung selama 6-9 tahun. Setelah menumbuhkan 3 – 5 helai daun, tanaman yang sekarang disebut bibit itu dipindahtanamkan lagi ke dalam kantung plastik hitam bergaris tengah 30 cm, berisi campuran tanah, pupuk kandang, dan pasir halus dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Deretan bibit dalam kantung (sekantung satu batang) kemudian dirawat di bawah naungan pohon di kebun. Sesudah tumbuh setinggi 0,5 m, bibit boleh ditanam dalam lubang penanaman yang permanen di kebun pekarangan, lahan tidur, atau lahan kritis.
Jarak tanam di kebun permanen ini 6 m kalau ditanam berbaris sebagai tanda batas, atau peneduh tepi jalan. Pohon kepel tidak lazim ditanam sebagai tanaman utama di tengah kebun, dengan jarak tanam segi empat atau segi tiga seperti rambutan misalnya, atau mangga manalagi.