Archive for category Pengetahuan Umum

Persilangan Diallel Sebuah Teknik Analisis Dan Perancangan Penelitian Pemuliaan Tanaman

Pengertian Persilangan Diallel

Skema table n2 biasa digunakan untuk melakukan pengujian pengaruh sifat-sifat yang ada pada beberapa genotype sehingga dapat ditunjukkan pada generasi F1 ataupun F2 nya. Skema tersebut biasanya disebut dengan persilangan dialel. (B. I Hayman)

Persilangan diallel terdiri dari dua jenis yaitu : persilangan diallel penuh dan parsial. Persilangan parsial masih dapat dibagi lagi menjadi persilangan diallel parsial dengan selfing maupun tanpa selfing. Persilangan penuh digunakan bila diduga ada pengaruh maternal.

Berikut adalah skema persilangan diallel :

Diallel Penuh

a b c d e

a a x a a x b a x c a x d a x e

b b x a b x b b x c b x d b x e

c c x a c x b c x c c x d c x e

d d x a d x b d x c d x d d x e

e e x a e x b e x c e x d e x e

Dialel Parsial

Partial Diallel dengan selfing

a b c d e

a a x a

b b x a b x b

c c x a c x b c x c

d d x a d x b d x c d x d

e e x a e x b e x c e x d e x e

Partial Diallel tanpa selfing

a b c d e

a

b b x a

c c x a c x b

d d x a d x b d x c

e e x a e x b e x c e x d

Griffing

Griffing melihat adanya penurunan sifat-sifat kuantitatif pada suatu tanaman membuat beliau menjadikan rata-rata frekuensi rekombinan harus tidak pasti, antara lebih tinggi atau lebih rendah dari limit yang didapatkan masing-masing pada model indek dan modified noninterference. Griffing dalam melakukan percobaannya memerlukan persilangan diallel penuh yaitu:

1. inbreed tetua itu sendiri

2. persilangan antar induk

3. resiprikal persilangan 2

B.I. Hayman

Hayman pada 1954 menguji hipotesisnya berupa adanya kesalahan perhitungan Mendel dan galton disebabkan karena:

1. segregasi diploid

2. tidak ada perbedaan resiprokal

3. pemunculan fenotip gen-gen yang tidak sealel dan yang ada di persilangan diallel

4. tidak ada pembelahan diallel

5. induk yang homosigus

6. gen-gen secara bebes terdistribusi pada tetua.

Beberapa uji hasil statistik pada gangguan yang sama, menunjukkan proses analisis utama untuk menilai variasi genetik pada dua tetua dan studi yang spesifik, tentang varietal dan mean heteroses. Ketidaksahan uji pada pengujian heterosis yang spesifik sama dengan tidak adanya dominansi. Pengujian kesetaraan pada variasi heterosis tetua yang terjadi pada kelompok sesuai dengan uji hipotesis pada frekuensi gen yang lain. Tidak sesuainya hipotesis yang terjadi berarti tidak terdapat sifat heterosis yang dominan.

Tags: , ,

harga bahan kultur jaringan (minimal 5 l)

no

bahan

Pemuliaan

Pemakaian (gr)

Harga @ gr

total

1

KNO3 9,5 Rp        258,00 Rp       2.451,00

2

NH4 NO3 8,25 Rp        294,00 Rp       2.425,50

3

CaCl2. 2H20 2,2 Rp        244,00 Rp          536,80

4

MgSO4.7H2O 1,85 Rp        268,00 Rp          495,80

5

KH2PO4 0,85 Rp        476,00 Rp          404,60

6

MnSO4.4H2O 2,23 Rp        268,00 Rp          597,64

7

Zn SC4.4N2O 8,64 Rp        308,00 Rp       2.661,12

8

H3BO3 0,62 Rp        286,00 Rp          177,32

9

KI 0,083 Rp        728,00 Rp             60,42

10

NaMoO4.5H2O 0,025 Rp    2.740,00 Rp             68,50

11

CuSO4.5H2O 0,0025 Rp        340,00 Rp               0,85

12

CoCl2.6H2O 0,0025 Rp    8.100,00 Rp             20,25

13

FeSO4.7H2O 2,78 Rp        286,00 Rp          795,08

14

NA2EDTA 3,73 Rp    1.590,00 Rp       5.930,70

15

Myo Inositol 1 Rp    3.060,00 Rp       3.060,00

16

Thiamine HCl 0,001 Rp    6.960,00 Rp               6,96

17

Nicotinic Acid 0,005 Rp    1.770,00 Rp               8,85

18

Phyridoxine HCl 0,005 Rp  16.800,00 Rp             84,00

19

Glycine 0,02 Rp        804,00 Rp             16,08

20

IAA 0,1 Rp  21.600,00 Rp       2.160,00

21

Agar-agar 40 Rp        214,29 Rp       8.571,43

22

HCl 400 Rp             41,20

23

NaOH 4 Rp        453,00 Rp       1.812,00

24

Sukrosa 150 Rp        210,00 Rp    31.500,00

25

Stok Kinetin 0,1 Rp        884,00 Rp             88,40

26

Aquadest 8 Rp    2.000,00 Rp    16.000,00

27

Dithane 1 Rp  40.000,00 Rp    40.000,00

total

Rp  119.974,50

di atas merupakan pembuatan stok dalam pembuatan media kultur jaringan

Tags: ,

My Memories Galery

Ini adalah gambar-gambar yang pernah q up load. Mungkin dikit narsis. Kalo mau zoom di klik ja gambarnya otreey.

Taman Bunga Nasinal

Me and My friend on beach

Dragonfly alias capung

Jahe

Aku di Pantai 2

Aku Di ruang Kultur

Bandung Euy

Di Lahan Jagung

Duren asik

Tragedi Penebangan Kayu di Dr Angka

Lahan Padi

Padi Jantan Siap Hibridisasi

Hibridisasi Padi

Emaskulasi

Daun Ungu

Oh ya buat sapa ja yang mo nampang di sini boleh koq kirim ja ke email quwh otreyyyy

Tags: ,

Istilah-istilah dalam Pelestarian Sumber Daya Hayati

Istilah

Pengertian

Reboisasi Penanaman kembali htan yang gundul
kultivar Varietas yang dibudidayakan
Rekayasa genetik Merubah atau merekayasa materi genetic  dari tanaman agar mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat yang kita inginkan
In-situ Pelestarian sumber daya hayati di habitat aslinya
Ek-situ Pelestarian sumberdaya hayati di luar habitat aslinya
populasi Kumpulan dari suatu individu dalam suatu tempat
Habitat Tempat hidup suatu populasi mh dalam suatu tempat
In-vitro Pengembangan tanaman di dalam ruangan tidak di lapang
Benih unggul Benih yang diketahui jelas asal tetuanya dan bersifat unggul
Pembiakan vegetatif Pembiakan secara tak kawin
Vegetasi Kumpulan tumbuh-tumbuhan di suatu wilayah
ekstensifikasi Peningkatan luas lahan
hidroponik Menanam tanpa menggunakan media tanah
Autogami Penyerbukan sendiri pada tanaman
pembiakan Proses mendapatkan individu baru
Toleran Suatu sifat tanaman yang tahan terhadap hama atau penyakit tertentu
Spesies Keragaman jenis makhluk hidup
Klon Hasil perkembangbiakan vegetatif
Kultur jaringan Perbanyakan tanaman dengan media in vitro
Rantai makanan Proses makan-memakan makhluk hidup
Bibit Tanaman muda yang siap tanam
Hutan lindung Hutan yang digunakan untuk memelihara dan melindungi  keragaman mahluk hidup
Stek Perkembangbiakan vegetatif melalui batang
Seleksi Pemisahan atau pemilihan antara spesies yang unggul dengan yang kurang unggul
konservasi Upaya manusia untuk melestarikan dan melindungi keanekaragaman hayati yang ada
varietas Tanaman yang memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dibedakan dengan tanaman lain dalam satu spesies
Gene bank Tempat penyimpanan gen yang dilakukan dalam freezer biasa bukan dalam ruang besar berpendingin.
Tanaman induk Tanaman yang digunakan untuk membuat suatu varietas tanaman yang baru
Kebun raya Kebun yang digunakan untuk mengkoleksi tanaman dari satu atau lebih negara
Kepunahan Hilangnya kesempatan untuk memanfaatkan potensi sumber daya hayati
Galur Keturunan tanaman hasil persilangan yang belum diresmikan/dikeluarkan oleh departemen pertanian
Kalus Jaringan yang belum terdiferensiasi yang tumbuh secara aktif
Hibridisasi Aktifitas persilangan dua induk tanaman
Plant dispersion Penyebaran suatu tanaman secara umum yang cenderung bersifat alami
Plant propagation Pembiakan tanaman yang pada dasarnya dapat berlangsung secara aseksual dan seksual

Tags: , ,

Mengenai Keseimbangan Hardy Weinberg

G.H. Hardy dan W. Weinberg (1908) secara terpisah mengemukakan dasar-dasar yang terjadi dalam frekuensi gen dalam populasi. Prinsip tersebut berbentuk pernyataan toritis yang dikenal sebagai “Prinsip Ekuilibrium Hardy-Weinberg”. (Suryo.1984).

Proporsi gen dan genotip mesti lebih dahulu diketahui sebelum melaksanakan seleksi terhadap suatu populasi. Secara umum proporsi atau frekuensi gen yang diinginkan relatif kecil dan biasanya dinyatakan dengan simbol p, sedangkan frekuensi gen yang tidak diinginkan disimbolkan dengan q. Frekuensi gen ini biasanya dinyatakan dalam bentuk desimal dan jumlahnya sama dengan satu. Frekuensi gen dapat ditentukan dari frekuensi genotip yang terbentuk hasil kawin silang secara acak (random mating) tanaman-tanaman yang mengandung gen tersebut (M Nasir. 2001). Contoh dari frekuensi yang terbentuk adalah :

Genotip

A1A1

A1A2

A2A2

Frekuensi

p2

2pq

q2

Jumlah Frekuensi

p2+2pq+q2=1 atau (p+q)=1

Pada populasi besar frekuensi gen akan terjadi keseimbangan dari generasi ke generasi. Konsep keseimbangan ini dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg yang menyatakan bahwa bila tidak ada faktor-faktor yang berpengaruh pada suatu populasi dan populasi tersebut mengalami random mating secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya, frekuensi gen dan genotipnya tidak mengalami perubahan setelah satu kali random mating, populasi tersebut harus a large random mating population yaitu suatu populasi yang anggota individunya besar sekali dan perkawinannya terjadi secara acak dan tidak ada generasi yang tumpang tindih (M Mangoendidjojo, 2003)

Dalam ekspresi gen dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu :

1. sifat kualitatif

2. sifat kuantitatif

Pengelompokan sifat kualitatif lebih mudah dilakukan karena sebarannya discrete dan dapat dilihat secara tapak. Oleh karena itu dalam pengujian sifat kualitatif dapat menggunakan Chi-Squared Test. Berbeda dengan sifat kuantitatif yang memiliki ukuran tersendiri sulit untuk dikelompokkan dan untuk menganalisisnya digunakan analisis varian dan modifikasinya yaitu dengan asumsi P=G+E (P adalah fenotip, G adalah genotip dan E adalah lingkungan) (M Mangoendidjojo. 2003).

Tags: , , , ,

Penjelasan Mengenai Penyimpangan Hukum Mendel

Hukum Mendel telah menjelaskan bagaimana suatu keturunan memiliki perbandingan perbandingan tertentu. Dalam perkawinan monohibrid, dihibrid maupun polihibrid dapat dijelaskan perbandingan yang terjadi pada F1 dan F2 yang ada.

Perbandingan itu terkadang tidak sesui dengan yang kita lakukan. Untuk itulah perlu sebuah evaluasi untuk mengetahui kebenaran hukum mendel yang berlaku pada perkawinan yang kita lakukan. Uji yang bisa kita lakuakan adalah tes X2 atau disebut tes Chi Square (dari bahasa inggris Chi-Square test).(Suryo.1984)

Mendel menyatakan adanya pemisahan gen yang sealel (Hukum Mendel I atau The Law of Segregation)bahwa gen-gen dari sepasang alel memisah secara bebas ketika berlangsung pembelahan reduksi (meiosis) pada waktu pembentukan gamet (Hukum Mendel II atau The Law of Assortment of Genes) yang menyebabkan rasio fenotip 9:3:3:1. Namun dalam kenyataannya perkawinan heterozigot tidak memiliki rasio tersebut. Salah satu penyimpangan itu adalah interaksi gen, yaitu pengaruh satu alel terhadap alel yang lain pada lokus yang sama dan juga pengaruh satu gen terhadap gen pada lokus lain. Hal ini menyebabkan timbulnya keragaman nisbah genetika Mendel. (Crowder 1990)

Penyimpangan lain dari Hukum Mendel yaitu epistasis yang terdiri antara lain :

a. Epistasis dominan (perbandingan 12 : 3 : 1)

b. Epistasis resesip (modifying gen) (perbandingan 9 : 3 : 4)

c. Epistasis dominan resesip (Inhibiting gen) (perbandingan 13 : 3)

d. Epistasis dominan duplikat (polimeri) (perbandingan 15 : 1)

e. Epistasis resesip duplikat (Complementary factor) (perbandingan 9 : 7)

f. Gen duplikat dengan efek kumulatip (perbandingan 9 : 6 :1)

(Suryo.1984)

Dalam tes Chi Square akan dibandingkan antara kemungkinan yang kita inginkan dengan hasil observasi yang kita lakukan. Menrut BR Friden.2001 “We wnt to know whethe rthe observed are consist with the presumed. If they are not, we call experiment ‘interisting’ or ‘significant’ ”. Untuk itulah dengan tes Chi Square kita dapat memastikan kebenaran Hukum Mendel dengan perkawinan yang telah kita lakukan, selama hasil yang kita peroleh masih signifikan.

Penyelidikan oleh para ahli statistik menyatakan apabila yang didapat dari perhitungan terletak di bawah kolom nilai 0,05 atau kurang dari itu berarti faktor kebetulan yang berpengaruh terhadap percobaan hanyalah 5% atau kurang. Apabila nilai Chi Square yang didapat dibawah nilai tersebut dapat dikatakan bahwa nilai yang didapat adalah signifikan atau berarti. (Suryo.1984)

Rumus uji Chi Square diperoleh K. Person, yang diperlukan untuk mengetahui fenotip praktis yang dapat dipertanggung jawabkan dan sesuai dengan rasio fenotip teoritis (Yatim, 1983). Biasanya tes Chi Square digunakan untuk menduga besarnya heritabilitas yang terjadi secara kualitatif. Sesuai Amris Makmur.1988 karakter kualitatif memiliki ciri :

1. Cara membedakan fenotipnya tidak diukur secara gradual (diberi skala)

2. Pegaruh lingkungan sedikit atau tidak ada

3. Sebarannya diskrit dapat diuji dengan tes Chi Square

4. Seleksi dengan observasi bukan dengan statistik

5. Jumlah gen yang mengendalikan sedikit

Tags: , , ,

Ilmu-ilmu Pertanian Menolak Teori Maltus

Hasil tanaman merupakan pokok dari kebutuhan hidup manusia. Meninjau asal usul dari semua barang-barang yang ada di dunia ini tidak akan terlepas dengan adanya hasil tanaman. Daging, ikan, meja, kursi, kertas, plastik dan berbagai macam benda non mineral (seperti batu, nitrogen, magnesium dan sebagainya) berdasar akan bahan tanaman. Plastik berasal dari polimer minyak bumi yang berasal dari jasad renik dimana renik/mikroba purba ini memperoleh energi dari pelapukan tanaman. Begitu pula dengan barang lainnya yang memang berasal dari tanaman. Meskipun demikian ada beberapa barang yang memang bukan berasal dari tanaman yaitu mineral (sumber dari sumber penyusun). Mineral memang sulit dirubah kecuali dengan energi nuklir. Barang barang yang berasal dari mineral seperti batu, gas mineral, larutan dan sebagainya bukan berasal dari tanaman. Akan tetapi perlu diingat mineral di manfaatkan tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Jadi dapat dikatakan mineral juga memiliki keeratan tersendiri dengan tanaman.

*********

Terlepas dari mineral dan tanaman, hasil tanaman yang menjadi fokus manusia adalah hasil tanaman untuk bahan tanam. Pangan yang secara langsung dan tidak langsung berasal dari tanaman (kecuali yang terbuat dari mineral alami) menjadi tolak ukur kemakmuran suatu kehidupan. Bayangkan saja, tanpa adanya pangan bagaimana manusia dapat hidup.

*********

Suatu ramalan pernah dikemukakan oleh salah seorang ilmuan terkenal bernama Maltus bahwa bangsa Inggris akan mengalami kepunahan pada pertengahan abad 19 dikarenakan kekurangan pangan. Ramalan maltus itu didasarkan Maltus pada teori pertambahan penduduk yang tidak seimbang dengan pertambahan kesediaan bahan pangan. Tetapi apa yang diramalkan oleh Maltus tidaklah benar secara mutlak. Seperti yang kita ketahui saat ini kebutuhan pangan di dunia masih bisa dikatakan cukup (walau terkadang ada yang kelaparan). Hal ini dapat disebabkan oleh dua faktor ini:

  1. Rendahnya keinginan manusia untuk mendapat banyak keturunan
  2. Meningkatnya hasil produksi tanaman pangan

rendahnya keinginan manusia untuk mendapat keturunan banyak lebih didasari dengan tingkatan ekonomi di masyarakat. Apalagi pemerintah di seluruh dunia mendukung hal tersebut. Peningkatan produksi yang terjadi di dunia pada era revolusi hijau memang luar biasa. Bisa dikatakan produktivitas pangan meningkat berkalilipat.

*********

Peningkatan ini tidak lepas dengan peningkatan teknologi di bidang pertanian. Ada tiga teknologi pertanian yang mendominasi peningkatan hasil tersebut. Ketiga hal tersebut adalah:

  1. Munculnya varietas unggul baru dan munculnya teknologi hibrida
  2. Tingginya teknologi manipulasi lingkungan baik tanah, hama penyakit, agroklimat dan lain sebagainya
  3. Alih penggunaan mesin-mesin industri menjadi mesin mesin pertanian.

Teknologi manipulasi lingkungan merupakan teknologi agar tanaman mampu memproduksi secara maksimal sesuai potensi tanaman tersebut. Pemupukan, pestisida dan pengolahan serta pemeliharaan yang tepat pada era tersebut mendongkrak naiknya hasil per satuan luas. Selain hal itu didukung pula perbaikan materi genetiknya berupa muncul varietas unggul baru (produksi tinggi) dan varietas hibrida (terutama jagung sebagai pakan ternak utama saat itu). Munculnya jenis baru tersebut menjadikan potensi hasil meningkat. Ketika dua hal tersebut diterapkan maka produksi pangan dunia benar-benar terdongkrak. Penggunaan mesinpun tidak kalah pentingnya, hal tersebut karena dengan adanya mesin pertanian proses pengolahan dapat dilakukan dalam areal luas serta mengurangi kehilangan hasil yang besar.

Tags: , ,

Merubah Dunia Pertanian di Masyarakat Dengan Internet

Kali ini kita akan mengulas mengenai sistem pembelajaran pertanian di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan Negara Agraris dimana dari sabang sampai merauke kepulauan di Indonesia memiliki kondisi tanah yang subur. Banyak sekali peluang di negara ini yang musti di gali. Penggalian ilmu pengetahuan pertanian terus dikaji mendalam oleh berbagai instansi pendidikan formal dan nonformal.

Pendalaman ilmu pertanian merupakan pendalaman ilmu yang cukup sulit sama halnya dengan ilmu-ilmu hayati lainnya seperti biologi, peternakan, lingkungan, perikanan dan kelautan serta ilmu hayati lainnya. Hal tersebut dikarenakan ilmu pertanian dan ilmu hayati lainnya merupakan ilmu yang berhubungan langsung dengan alam. Perubahan sedikit di alam menjadikan ilmu pertanian harus dikaji ulang. Apalagi saat ini isu global warming sedang banyak di pantau karena kondisi yang khawatirkan.

Kondisi-kondisi tersebut menjadikan ilmu pertanian harus up to date dengan berita yang ada. Sitem pengkajian ilmu pertanian yang digunakan oleh universitas-universitas di Indonesia sebelum era internet di mulai sudah tidak dapat digunakan lagi. Arus informasi cepat sangat dibutuhkan dalam mempelajari ilmu pertanian.

Dukungan jaringan dunia berupa internet merupakan salah satu media bagi pengkajian informasi teknologi. Dalam pendidikan ilmu pertanian dan ilmu hayati internet membantu masyarakat ilmiah (mahasiswa, dosen dan peneliti) dalam mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi iklim, kondisi politik pertanian, kondisi alam, penemuan baru dan berbagai informasi baru yang memang harus diketahui oleh kita sebagai warga ilmiah. jurnal-jurnal ilmiah pun kini tidak lepas dari internet. Mereka lebih menyukai publikasi lewat internet karena lebih hemat dan tepat sasaran sehingga para pelajar dan peneliti yang membutuhkan info tersebut dapat langsung mengaksesnya tanpa adanya kesulitan.

Pengembangan internet sangat pesat. Penggunaannya pun saat ini telah masuk hingga titik terkecil di ilmu pengetahuan. Masyarakat biasa kini dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai informasi pertanian melalui media internet yang disediakan. Bahkan masyarakat yang sebenarnya tidak berniat mencari informasi mengenai pertanian pun terkadang menjadi tahu karena informasi ini masuk melalui media internet yang menyenangkan seperti blog, facebook, purk, twitter dan iklan iklan yang ada. Sebagai contoh nyata adalah adanya kesadaran masyarakat terhadap aktivitas Go Green. Aktivitas yang mendukung lingkungan menjadi jiwa bagi setiap masyarakat, hal tersebut dikarenakan pengetahuan mengenai global warming ada di setiap website bahkan di jejaring sosial. Saat ini sedang berkembang isu masyarakat organik. Masyarakat organik ini timbul akibat adanya pendidikan mengenai kebaikan dan nilai lebih produk-produk organik yang diajarkan oleh beberapa blog-blog baik dari dalam dan dari luar.

Sebenarnya tidak hanya pendidikan mengenai ilmu pertanian dan ilmu hayati saja yang bisa memanfaatkan internet sebagai mediator pembelajaran bagi masyarakat. Semua ilmupun bisa tinggal penerapannya. Saat ini istilah yang cocok untuk pendidikan di internet adalah:

“Mau Merubah Dunia? Sebarkan Pengetahuanmu di Sini di Dunia Maya Tempat Berkumpulnya Informasimu”

Tags: ,

Dukung Revitalisasi Pertanian Indonesia

Ditulis untuk mengikuti : Kompetisi Website Kompas MuDA - KFC
Hantaman krisis yang terus menekan Indonesia memaksa kita agar dilakukan perbaikan ekonomi di segala bidang. Sebagai negeri agraris Indonesia melakukan revitalisasi pertanian merupakan salah satu langkah yang sangat tepat untuk mengokohkan perekonomian Indonesia. Revitalisasi pertanian berarti menguatkan kondisi pertanian yang merupakan sektor vital dengan mempertinggi prioritas sehingga hasilnya lebih optimal.


Lemahnya sektor pertanian saat ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adanya kendala pemasaran hasil pertanian yang menyebabkan kerugian pada pihak petani. Kendala itu mengurangi kinerja petani sehingga banyak petani yang menjual lahannya untuk dibangun sektor industri dan pemukiman. Oleh sebab itulah revitalisasi pertanian sangat diperlukan. Salah satu upaya untuk merevitalisasi pertanian adalah dengan memperbaiki pemasaran hasil pertanian.


Saat ini pemerintah hanya fokus pada target produksi saja. Mereka merasa berhasil apabila target produksi telah tercapai. Sebenarnya telah dipahami bahwa pemberdayaan masyarakat juga memerlukan pendekatan non teknis, namun aparat yang bertugas memberikan pelayanan belum didukung oleh metode kerja, Khusus untuk bahan pokok beras karena sifat sebagai barang publik interpensi pemerintah untuk menjamin penyediaannya sistem dan keterampilan operasional untuk melakukan pendekatan terhadap aspek sosial berdaya petani pada lokalita yang dibina oleh karena itu diperlukan cara pendekatan baru dalam pelaksanaan pembangunan yang menentukan pilihan usaha serta merespons kebutuhan pelayanan untuk mengembangkan usahanya. Sehingga pemberian subsidi harga input, kredit dan harga produk selama ini dijalankan tidak efektif dalam mengatasi ketidaksempurnaan atau kegagalan pasar.


Cara yang paling efektif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memperbaiki harga tawar produsen terhadap pedagang atau konsumen. Cara itu dapat memberikan dampak multifungsi yang akhirnya dapat menjadi kunci utama meningkatnya pendapatan petani sehingga revitalisasi pertanian dapat berhasil.


Sebelum masa industrialisasi, pertanian merupakan sektor utama bagi bangsa Indonesia. Bahkan pada Indonesia mampu melaksanakan swasembada beras. Namun mulai tahun 1970 Indonesia mulai melakukan industrialisasi, sehingga banyak lahan pertanian yang diubah menjadi pabrik-pabrik besar yang mencemari lingkungan sehingga dampaknya meluas sampai menurunkan produksi pertanian di wilayah sekitar.


Ditambah lagi dalam rangka perluasan usaha dan upaya meningkatkan komoditi ekspor non-migas, kehadiran industri pertanian bukannya menolong untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga petani, tetapi justru mendepak petani dari lahan pertaniannya; kehidupan petani makin marjinal, terpuruk, dan desa dengan demikian telah kehilangan kulturnya sebagai lahan pertanian. Kehabisan sumber tenaga manusia dalam mempertahankan diri dari ancaman masa industrialisasi. Di desa-desa mulai banyak muncul orang-orang yang haus akan tanah, merampas tanah milik rakyat dengan dalih pemberdayaan, pemerataan pembangunan dan pengembangan desa, industrialisasi pertanian, penciptaan lapangan kerja, dan bermacam-macam yang lainnya.


Hal ini berarti dan menyebabkan banyak keluarga petani desa yang dipaksa keluar dari sektor pertanian, kemudian mereka berduyun-duyun meninggalkan desa dan pindah ke kota-kota besar (urbanisasi) dan memasuki sektor-sektor kehidupan yang sama sekali baru atau alih profesi. Akibat arus urbanisasi ini proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan meningkat pesat, dari 22% tahun 1980 meningkat menjadi 31% tahun 1990. Selama Pelita I-IV (antara 1971-1990) jumlah penduduk perkotaan meningkat dua kali lipat, 4,43%. Di Jakarta saja misalnya, berdasarkan data Dinas Kependudukan DKI Jakarta (1996), diperkirakan 1.000 orang pendatang baru setiap hari memasuki Jakarta. Alasannya, tiada lagi yang dapat mereka kerjakan di desa dan dalam benaknya hanya Jakarta yang bisa memberikan harapan, menjadi tumpuan untuk membangun hari depan bagi dirinya dan anak cucu. Sayangnya mereka masuk Jakarta tanpa bekal pendidikan dan keterampilan yang memadai, dengan demikian sulit bagi mereka memasuki sektor-sektor modern yang lebih mensyaratkan (ijazah) pendidikan formal dan koneksi. Dengan demikian terpaksa mereka harus “rela” menjadi buruh murah di pabrik-pabrik industri atau memasuki sektor-sektor informal, dan tinggal berdesak-desakan di kantong-kantong pemukiman kumuh kota.


Hal tersebut bukan berarti pertanian tidak mempunyai masa depan sama sekali. Meskipun lahan pertanian menyempit dan masyarakat desa mulai pindah ke kota sehingga tidak ada tenaga kerja di desa, pertanian di Indonesia masih tetap dapat dijadikan pegangan hidup. Hal tersebut dikarenakan manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa hasil pertanian meskipun tidak secara langsung. Saat ini bukan hanya produk pertanian berupa bahan pokok makanan yang dapat dipakai pegangan bagi pertanian Indonesia, namun sayur-sayuran, buah musiman ataupun tahunan, bahkan tanaman yang sebenarnya tanaman liar di hutan kini dapat dijual sampai puluhan juta sebagai tanaman hias.


Meskipun telah dihantam oleh krisis pada tahun 1997 Ekspor hasil pertanian Indonesia tetap stabil bahkan meningkat meskipun diimbangi dengan meningkatnya impor hasil pertanian karena kebijakan pemerintah. Hal tersebut dapat dipakai sebagai landasan bahwa pertanian merupakan sektor yang dapat dijadikan sektor utama bagi negara Indonesia.


Indonesia adalah negara agraris ini poin utama kita mari dukung revitalisasi pertanian Indonesia.

Tags: , ,

Perakitan Tanaman dengan Teknik Hibridisasi

Padi merupakan tanaman utama yang telah dikonsumsi hampir setengah dari penduduk dunia, terutama di negara-negara asia. (Nanda, 1999). Produsen utama dunia (sekitar 90%) padi berasal dari negara asia karena pusat asal dari tanaman ini dari India (Sunarto, 1997), sehingga banyak sekali plasma nutfah yang tersebar di daerah sekitar India (Asia).

Padi Hibridisasi <Diklik untuk memperbesar>

Keragaman antara kelompok dalam spesies padi (Oryza sativa) mendukung program pemuliaan tanaman. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak keragaman dalam suatu spesies semakin mudah bagi seorang pemuliaan tanaman untuk merakitnya. Bagi pemulia padi target yang saat ini sedang diinginkan antara lain:

Read the rest of this entry »

Tags: , ,