Posts Tagged genetika

Mengenai Keseimbangan Hardy Weinberg

G.H. Hardy dan W. Weinberg (1908) secara terpisah mengemukakan dasar-dasar yang terjadi dalam frekuensi gen dalam populasi. Prinsip tersebut berbentuk pernyataan toritis yang dikenal sebagai “Prinsip Ekuilibrium Hardy-Weinberg”. (Suryo.1984).

Proporsi gen dan genotip mesti lebih dahulu diketahui sebelum melaksanakan seleksi terhadap suatu populasi. Secara umum proporsi atau frekuensi gen yang diinginkan relatif kecil dan biasanya dinyatakan dengan simbol p, sedangkan frekuensi gen yang tidak diinginkan disimbolkan dengan q. Frekuensi gen ini biasanya dinyatakan dalam bentuk desimal dan jumlahnya sama dengan satu. Frekuensi gen dapat ditentukan dari frekuensi genotip yang terbentuk hasil kawin silang secara acak (random mating) tanaman-tanaman yang mengandung gen tersebut (M Nasir. 2001). Contoh dari frekuensi yang terbentuk adalah :

Genotip

A1A1

A1A2

A2A2

Frekuensi

p2

2pq

q2

Jumlah Frekuensi

p2+2pq+q2=1 atau (p+q)=1

Pada populasi besar frekuensi gen akan terjadi keseimbangan dari generasi ke generasi. Konsep keseimbangan ini dikenal sebagai hukum keseimbangan Hardy-Weinberg yang menyatakan bahwa bila tidak ada faktor-faktor yang berpengaruh pada suatu populasi dan populasi tersebut mengalami random mating secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya, frekuensi gen dan genotipnya tidak mengalami perubahan setelah satu kali random mating, populasi tersebut harus a large random mating population yaitu suatu populasi yang anggota individunya besar sekali dan perkawinannya terjadi secara acak dan tidak ada generasi yang tumpang tindih (M Mangoendidjojo, 2003)

Dalam ekspresi gen dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu :

1. sifat kualitatif

2. sifat kuantitatif

Pengelompokan sifat kualitatif lebih mudah dilakukan karena sebarannya discrete dan dapat dilihat secara tapak. Oleh karena itu dalam pengujian sifat kualitatif dapat menggunakan Chi-Squared Test. Berbeda dengan sifat kuantitatif yang memiliki ukuran tersendiri sulit untuk dikelompokkan dan untuk menganalisisnya digunakan analisis varian dan modifikasinya yaitu dengan asumsi P=G+E (P adalah fenotip, G adalah genotip dan E adalah lingkungan) (M Mangoendidjojo. 2003).

Tags: , , , ,

Penjelasan Mengenai Penyimpangan Hukum Mendel

Hukum Mendel telah menjelaskan bagaimana suatu keturunan memiliki perbandingan perbandingan tertentu. Dalam perkawinan monohibrid, dihibrid maupun polihibrid dapat dijelaskan perbandingan yang terjadi pada F1 dan F2 yang ada.

Perbandingan itu terkadang tidak sesui dengan yang kita lakukan. Untuk itulah perlu sebuah evaluasi untuk mengetahui kebenaran hukum mendel yang berlaku pada perkawinan yang kita lakukan. Uji yang bisa kita lakuakan adalah tes X2 atau disebut tes Chi Square (dari bahasa inggris Chi-Square test).(Suryo.1984)

Mendel menyatakan adanya pemisahan gen yang sealel (Hukum Mendel I atau The Law of Segregation)bahwa gen-gen dari sepasang alel memisah secara bebas ketika berlangsung pembelahan reduksi (meiosis) pada waktu pembentukan gamet (Hukum Mendel II atau The Law of Assortment of Genes) yang menyebabkan rasio fenotip 9:3:3:1. Namun dalam kenyataannya perkawinan heterozigot tidak memiliki rasio tersebut. Salah satu penyimpangan itu adalah interaksi gen, yaitu pengaruh satu alel terhadap alel yang lain pada lokus yang sama dan juga pengaruh satu gen terhadap gen pada lokus lain. Hal ini menyebabkan timbulnya keragaman nisbah genetika Mendel. (Crowder 1990)

Penyimpangan lain dari Hukum Mendel yaitu epistasis yang terdiri antara lain :

a. Epistasis dominan (perbandingan 12 : 3 : 1)

b. Epistasis resesip (modifying gen) (perbandingan 9 : 3 : 4)

c. Epistasis dominan resesip (Inhibiting gen) (perbandingan 13 : 3)

d. Epistasis dominan duplikat (polimeri) (perbandingan 15 : 1)

e. Epistasis resesip duplikat (Complementary factor) (perbandingan 9 : 7)

f. Gen duplikat dengan efek kumulatip (perbandingan 9 : 6 :1)

(Suryo.1984)

Dalam tes Chi Square akan dibandingkan antara kemungkinan yang kita inginkan dengan hasil observasi yang kita lakukan. Menrut BR Friden.2001 “We wnt to know whethe rthe observed are consist with the presumed. If they are not, we call experiment ‘interisting’ or ‘significant’ ”. Untuk itulah dengan tes Chi Square kita dapat memastikan kebenaran Hukum Mendel dengan perkawinan yang telah kita lakukan, selama hasil yang kita peroleh masih signifikan.

Penyelidikan oleh para ahli statistik menyatakan apabila yang didapat dari perhitungan terletak di bawah kolom nilai 0,05 atau kurang dari itu berarti faktor kebetulan yang berpengaruh terhadap percobaan hanyalah 5% atau kurang. Apabila nilai Chi Square yang didapat dibawah nilai tersebut dapat dikatakan bahwa nilai yang didapat adalah signifikan atau berarti. (Suryo.1984)

Rumus uji Chi Square diperoleh K. Person, yang diperlukan untuk mengetahui fenotip praktis yang dapat dipertanggung jawabkan dan sesuai dengan rasio fenotip teoritis (Yatim, 1983). Biasanya tes Chi Square digunakan untuk menduga besarnya heritabilitas yang terjadi secara kualitatif. Sesuai Amris Makmur.1988 karakter kualitatif memiliki ciri :

1. Cara membedakan fenotipnya tidak diukur secara gradual (diberi skala)

2. Pegaruh lingkungan sedikit atau tidak ada

3. Sebarannya diskrit dapat diuji dengan tes Chi Square

4. Seleksi dengan observasi bukan dengan statistik

5. Jumlah gen yang mengendalikan sedikit

Tags: , , ,

Seri Mengenal Tanaman (kali ini plus ada hewannya): Jumlah kromosom

Kromosom merupakan untaian dna yang membawa informasi pembentukan senyawa-senyawa protein dimana protein ini nantinya akan mengendalikan proses metabolismo tubuh seluruhnya. Setiap makhluk hidup memiliki keunikan tersendiri dalam kromosom-kromosom yang mereka bawa. Dalam satu spesies perbedaan tidak akan lebih dari jumlah kromosom (kecuali mutasi). Akantetapi untuk tingkatan antar spesies akan mencapai perbedaan jumlah kromosom bahkan jumlah genom (set kromosom). Berikut hádala jumlah kromosom bagi tiap spesies

ORGANISME

JUMLAH KROMOSOM

Shimpanse, Pan troglodytes

48

Kuda, Equus caballus

64

Anjing Canis familiaris

78

Kucing Felis domesticus

38

Mencit Mus musculus

40

Ayam Gallus domesticus

78

Kodok Rana cancrivora

26

Ulat sutra bombyx mori

56

Lalat musca domestica

12

Nyamuk culex pipiens

6

Kecoa blatta germanica

23 ♂, 24 ♀

Pinus pinus ponderusa

24

Cherry prunus cerasus

32

Kobis, brassica oleracea

18

Radis Raphanus sativus

18

Ercis pisum sativum

14

Kacang merah phaseolus vulgaris

22

Mentimun cucumis sativus

14

Kapas gossypium hirsutum

52

Kentang solanum tuberosum

48

Gandum triticum aestivum

42

Padi oryza sativa

24

Ragi saccharomyces cerevisae

34

Gangang hijau acetabularia mediterranea

20

Jagung zea mays

20

Kedelai (Glycine max)

40

Tags: , ,