09 Apr 2010 @ 9:41 AM 

Pangan merupakan masalah strategis bagi semua negara di dunia. permasalahan tersebut dikarenakan pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Permasalahan pangan mengakibatkan banyak negara mereformulasikan ketahanan pangan negara-negara tersebut. Pemerintah selalu memperbaiki pengaturan, pembinaan, pengendalian dan pengawasan pangan guna tercapainya ketahanan pangan di dalam Negara.

Berdasarkan definisi UU RI No. 7 tahun 1996 dalam Ristek (2000) Ketahanan pangan merupakan suatu kondisi di mana tercukupinya pangan bagi masyarakat secara jumlah dan kualitas serta mampu di jangkau oleh masyarakat secara ekonomi. Melemahnya ketahanan Indonesia mendorong dilakukanya upaya-upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan tersebut. Salah satu upaya tersebut adalah meningkatkan produktivitas pangan sehingga aspek-aspek dari ketahanan pangan dapat terpenuhi.

Padi merupakan komoditas tanaman pangan yang penting di Indonesia. Penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan makanan pokok. Sembilan puluh lima persen penduduk Indonesia mengonsumsi bahan makanan ini (Swastika et al., 2007). Beras mampu mencukupi 63% total kecukupan energi, 38% protein dan 21,5% Protein (Indrasari et al., 2006). Kandungan gizi dari beras tersebut menjadikan komoditas padi sangat penting untuk kebutuhan pangan sehingga menjadi perhatian di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan beras.

Kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan beras di Indonesia sangat penting. Menurut Swastika et al.(2007) kemampuan Indonesia dalam memenuhi swasembada beras menurun dalam waktu tiga dekade setelah terjadinya swasembada beras pada tahun 1984. Salah satu penyebab terjadinya hal tersebut adalah terjadinya konversi lahan sawah menjadi areal pembangunan sebesar 30,8%. Meningkatnya konversi lahan tersebut memperlemah ketahanan pangan di Indonesia.

Indikator beras sebagai ketahanan pangan dilihat dari kuantitas produksi padi sehingga Indonesia dapat mencapai swasembada pangan. Peningkatan kuantitas tersebut telah dilakukan dengan banyak cara dan telah diteliti oleh banyak instansi.

Peningkatan potensi produktivitas padi secara nasional dapat ditingkatkan kembali melalui lahan-lahan non irigasi untuk mengganti lahan irigasi yang telah di konversi menjadi areal pembangunan. Pemanfaatan lahan non irigasi berupa lahan kering dapat dipergunakan untuk penanaman padi. Lahan kering berupa tegalan dan lahan belum termanfaatkan di Indonesia mencapai lebih dari dua puluh empat juta hektar. Lahan tersebut jauh lebih luas dibanding dengan lahan irigasi yang berkisar antara tujuh juta hektar (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007) . Pemanfaatan lahan kering dan belum termanfaatkan tersebut dapat dilakukan dengan penggunaan padi gogo. Penanaman padi gogo pada lahan tersebut diharapkan dapat menambah produksi padi nasional.

Selama ini padi gogo sulit berkembang meskipun potensi penggunaan lahan di Indonesia sangat luas. Kurang diminatinya penggunaan padi gogo oleh petani dikarenakan perbedaan produktivitas dan kualitas padi gogo yang di peroleh petani lebih rendah dibandingkan dengan penanaman komoditas lain. Rendahnya produktivitas dan kualitas padi gogo tersebut mendorong pemulia tanaman untuk melakukan pengembangan varietas baru padi gogo. Pengembangan varietas baru padi gogo meliputi peningkatan produktivitas padi, peningkatan kualitas padi dan peningkatan ketahanan penyakit pada padi. Pengembangan varietas padi gogo terus diupayakan sehingga banyak galur-galur padi gogo mulai dilakukan pengujian untuk proses pelepasan varietas (Bernier et al., 2008).

* Tulisan ini merupakan salah satu latar belakang dari skripsi yang sedang saya susun doakan biar berhasil.

Posted By: fuad nur azis
Last Edit: 09 Apr 2010 @ 09:42 AM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
 03 Dec 2009 @ 10:04 AM 

Padi merupakan tanaman utama yang telah dikonsumsi hampir setengah dari penduduk dunia, terutama di negara-negara asia. (Nanda, 1999). Produsen utama dunia (sekitar 90%) padi berasal dari negara asia karena pusat asal dari tanaman ini dari India (Sunarto, 1997), sehingga banyak sekali plasma nutfah yang tersebar di daerah sekitar India (Asia).

Padi Hibridisasi <Diklik untuk memperbesar>

Keragaman antara kelompok dalam spesies padi (Oryza sativa) mendukung program pemuliaan tanaman. Hal tersebut dikarenakan semakin banyak keragaman dalam suatu spesies semakin mudah bagi seorang pemuliaan tanaman untuk merakitnya. Bagi pemulia padi target yang saat ini sedang diinginkan antara lain:

More »

Posted By: fuad nur azis
Last Edit: 04 Dec 2009 @ 04:27 AM

EmailPermalinkComments (0)
Tags
 02 Dec 2009 @ 7:03 PM 

Fenotip atau sifat yang tampak dari suatu tanaman dipengaruhi oleh sifat atau susunan genetik dan lingkungan. Pengaruh yang besar dari lingkungan umumnya terlihat pada sifat-sifat kuantitatif seperti panjang akar, tinggi tanaman, lebar daun, dll. Ekspresi dari sifat-sifat kualitatif biasanya sangat kecil pengaruh dari lingkungan hal ini karena sifat kualittaif dikendalikan oleh gen sederhana (satu atau dua gen).

Pemuliaan tanaman adalah suatu ilmu bagiumana cara merubah susunan genetic genotip dari suatu tanaman sehingga lebih baik atau berharga. Metode dalam pemuliaan tanamn sangat beragam mulia dari yang konvensional dengan seleksi dan hibridissai sdamapi yang modern dengan rekayasa genetic dan kultur jaringan. Salah satu metode merubah sususnan genetic suatu tanaman adakah dengan melipat gandakan jumlah kromosom. Cara ini dilakukan dengan menambahkan alkaloid dari tanaman Cholcicum autummnale.

Colchicine (C22H25O6N) merupakan suatu alkaloid yang berasal dari umbi dan biji tanaman Autumn crocus atau cholcicum autumnale Linn yang termasuk dalam familia Liliaceae. Colchicine bersifat sebagai racun yang terutama pada tumbuhan memperlihatkan pengaruhnya pada nucleus yang sedang membelah. Larutan colchicine dengan konsentrasi yang kritis mencegah terbentuknya benang-benang spindle dari gelondong inti sehingga pemisahan kromosom pada anaphase dari mitosis tidak berlangsung dan menyebabkan penggandaan kromosom tanpa pembentukan dinding sel (Suryo, 1995).

Blakeslee menemukan kegunaan colchine pada tahun 1937. larutan colchicine digunakan pada jaringan meristematik untuk menginduksi penggandaan somatik (Nasir, 2001). Menurut Suryo (1995) fungsi colchicines yaitu untuk menghalang-halangi terbentuknya spindel (gelendong inti) pada mitosis. Colchicine bersifat racun, larut dalam air, merupakan alkaloid dan sangat aktif pada konsentrasi rendah. Pada mitosis, colchicine dapat memperjelas detil morfologi kromosom bahkan memungkinkan terjadinya poliploidi. Larutan colchicines dengan konsentrasi yang kritis mencegah terbentuknya benang-benang plasma dari gelendong inti (“spindel”) sehingga pemisahan kromosom pada anafase dari mitosis tidak berlangsung, dan menyebabkan penggandaan kromosom tanpa pembentukan dinding sel.

Menurut Nasir (2001), penggandaan kromosom dapat terjadi secara spontan atau buatan. Penggandaan buatan terjadi bila pada pembelahan sel kromosomnya juga mengganda, tetapi nukleusnya gagal mengganda sehingga membentuk inti dengan jumlah kromosom ganda. Bila penggandaan kromosom terjadi segera setelah pembuahan maka individu yang dihasilkan akan menjadi poliploid sempurna, sedangkan penggandaan pada tahap perkembangan lanjut hanya membentuk sektor poliploid saja. Bila penggandaan terjadi setelah meiosis maka pengurangan gamet akan terbentuk dan bila dibuahi dengan gamet normal maka akan terbentuk poliploid tidak berimbang.

More »

Posted By: fuad nur azis
Last Edit: 04 Dec 2009 @ 04:26 AM

EmailPermalinkComments (2)
Tags
Change Theme...
  • Users » 2153
  • Posts/Pages » 59
  • Comments » 87
Change Theme...
  • VoidVoid « Default
  • LifeLife
  • EarthEarth
  • WindWind
  • WaterWater
  • FireFire
  • LightLight

BlogWalking



    No Child Pages.

Penulis



    No Child Pages.