preload
May 18

Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut?

 

Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue itu.

 

 Kerajaan Singosari merupakan kerajaan termasyur di masa Hindu Jawa Timur, yang melahirkan generasi raja-raja Jawa, termasuk dalam Kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara, Majapahit. Tapi selain Candi Singosari, peninggalan yang lain macamnya tak pernah eksis.

 

Pamor Taman Tirta, kolam pemandian putri kerjaan  luntur digerus jaman, kalah dengan ‘Pemandian Ken Dedes’, sebuah kompleks kolam renang mirip waterboom yang laris manis dikunjungi puluhan keluarga.

 

Gue adalah satu-satunya turis ‘normal’ di taman yang tersembunyi dari jalanan itu. Sisa pengunjung adalah empat orang paranormal, satu orang yang berdiri di bawah pohon beringin sambil ngomong sendiri dan membakar kemenyan, serta dua gadis yang mengharapkan berendam di tempat yang sama bisa membuat mereka setidaknya mendekati rupa Ken Dedes.

 

Jika bukan untuk minta wangsit, pingin cantik,  mau jadi presiden, atau mau mencuri dan memenggal kepala arca-arca kuno di pinggir kolam sampai botak-botak, gak banyak yang mau bertandang ke Taman Tirta.

 

Sedangkan Pulau Wisanggeni, lepas pantai Balekambang tempat berdirinya Pura di tengah lautan Hindia, tersembunyi di tengah hutan yang tak tembus matahari. Gue tertipu habis-habisan dengan klaim accessible via public transport. Boro-boro public transport, tanya dulu dong, jalanannya ada nggak? Kecuali jika jalan setapak bolong-bolong maut yang tidak terjangkau sinyal HP dianggap sebagai jalanan….

 

Kenyataan gue tak ingat Singosari dan Balekambang, meski dengan segala kejayaannya dan keelokkannya, berbuntut pertanyaan yang lain:  Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Singosari? Sebuah bangsa yang besar dan termasyur tapi kemudian kalah oleh pergerakan jaman dan dilupakan orang? Atau bahkan bernasib seperti Balekambang yang bahkan tak pernah dikenal dan makanya tak pernah diingat?

 

Ketika mobil gue terhambat arak-arakan Reog Ponorogo di depan muka setelah turun dari Penanjakan Semeru, gue sadar, inilah pertama kalinya gue melihatnya secara nyata. Selain di siaran TV pembukaan PON Jawa Timur tahun 2000, tak pernah terlintas untuk nonton REOG. Mending nonton film India dhe!

 

Wajar-wajar saja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kalau cuma warga di atas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog? Sedangkan yang mampu akan butuh hiburan import dan mencari candi sampai ke negara lain.

 

Gue kadang berpikir, We’re not a proud nation. Saat gue mau ke Jogja di malam tahun baru kemarin, komentar yang akrab di telinga adalah, ‘Kok turun pangkat, sih?’ Seolah Jogja berderajat lebih rendah dari Singapura.

 

Gue dan teman-teman gue secara sadar dan tak sadar telah merasa tak bangga dengan apa yang dimiliki. Tak menganggap indah kesenian dan alam yang ada. Dan perlahan, mulai melupakan budaya, sejarah dan geografis yang membentuk sebuah konsep bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Gue cemas, Negara Indonesia akan bubar, warisannya diterlantarkan karena diabaikan generasi penerus, sama seperti Singosari yang dilupakan keturunannya. (yaitu kita-kita ini). Gue cemas, wilayah Indonesia akan digerogoti Negara tetangga hingga hilang dari peta dunia seperti Balekambang yang tak punya titik di peta wisata Indonesia, karena warganya tak tahu ujung-ujung negaranya sendiri. Gue cemas, gue akan jadi bagian dari bangsa yang tak dikenal orang, pasti gue-nya lebih tak diingat lagi.

 

Makanya gue memasang foto-foto dari seputar Malang ini. Supaya ketika saat gue mau berlibur di pantai Thailand, saat akan menguap pas nonton tari tradisional, saat lagi sok-sok mengagungkan Bahasa Inggris, gue ingat, Indonesia.

 

 

 

 

 

 

Tagged with:
May 02

Butuh teman? Kesepian? Ingin bepergian dengan nyaman? Jangan khawatir! Bagi kamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, ikuti cara saya! Hubungi saja nomor suka-suka 7917**** kapan saja kamu membutuhkan, 24 jam non-stop. Dalam sesaat, cowok yang dinanti akan datang dengan mobilnya yang khas, dengan lampu di atas badan mobil menyala bertuliskan…TAKSI…

 

Dan kalau kamu sudah di dalam, jangan lupa buka kuping dan buka mata terhadap si Pak Supir, serap ilmu politik, sosial, ekonomi, serta gosip-gosip teranyar yang belum tayang di infotainment. Dijamin perjalanan kamu akan makin berkesan!

 

Pernah suatu kali saya disetiri oleh mantan karyawan bos Al-Qaeda, Osama Bin Laden di Oman. Pak Supir menceritakan pengalamannya selama 4 tahun, termasuk betapa eratnya hubungan antara Oman dengan Indonesia. Buktinya, semua pembantu di rumah Osama pada masanya berasal dari Cianjur, yang tersohor geulis, sedangkan satpamnya banyak yang dari Banten, daerah yang terkenal akan aji-ajiannya.

 

Beliau juga membuat saya begitu bersyukur tinggal di Indonesia yang tanam padi tumbuh padi. Segala usahanya menanam mangga, kangkung daun pandan di halaman rumah Osama yang sudah termasuk subur ukuran Timur Tengah gagal total. Apapun yang ditanam, yang tumbuh korma lagi korma lagi…

 

Di lain kesempatan, supir yang lain selama tiga jam non-stop MENDONGENG. Macet total yang mematikan jadi tidak terasa karena diisi oleh legenda daerah Jawa Tengah, seperti Kuntilanak, Nyai Roro Kidul dan Petani Miskin, hingga tentang pelbagai siluman. Pada saat saya sampai rumah, kisah putri bungsu Kerajaan Jalasutra, sebuah kerajaan siluman buaya, yang jatuh cinta pada pemuda desanya hingga menarik beliau ke dasar anak sungai Bengawan Solo sudah mencapai kata tamat.

 

Tidak semua supir taksi memuaskan hati. Ada juga supir yang lebih pendiam (atau lebih jutek?) agar lebih konsen menjalankan tugas yang utama.

            “Pak, apa kabarnya narik hari ini, Pak?” saya bertanya sok-sok akrab.

“Ya biasa aja neng, namanya juga nyopir, mau gimana lagi, sehari-harian di mobil terus, ga kemana-mana, ga ngeliat apa-apa, ga ketemu siapa-siapa.”

“Tapi kan penumpangnya macem-macem, Pak…” saya berusaha menghibur.

“Ya..” Pak supir menjawab pendek sambil menancap gas yang membuat saya semakin berdebar-debar!

Saat sedang berada dalam taksi, kadang saya jadi merasa sehati sejiwa dengan para pengemudinya. Dalam hidup, kita semua adalah supir taksi. Yang melalui jalan-jalan kehidupan dengan satu tujuan awal dan akhir, yang singgah sana sini, kadang lama kadang sebentar. Dalam perjalanan itu, akan banyak orang yang ditemui, hal-hal yang terliat di pinggir jalan, yang bisa dicela, dikeluhkesahkan, diketawain.

 

Sekarang terserah saya, apakah mau jadi supir taksi yang memberi makna lebih bagi para penumpang saya dengan berbagi cerita-cerita menarik, memberikan opini, dan menginspirasikan mereka? Atau saya bakal jadi supir taksi yang pelit cerita, yang menganggap hidupnya terlalu monoton untuk dibagi?

 

Life is an extremely huge story book. Tidak ada hidup seseorang yang begitu membosankannya sehingga habis dirangkum dalam sebuah buku. Cukup naik taksi saja sudah mendapat hal baru. Coba bayangkan kalau si supir taksi ini nge-blog. Dari hidup yang cuma terdiri dari gigi satu ke gigi dua, gas sama rem saja bisa dibuat posting tak berkesudahan!

 

Hidup terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Selalu ada hal baru, selalu ada pelajaran menarik, selalu ada hikmahnya. Saya tidak perlu lari ke gunung….merenungi nasib di gua, atau bahkan mencari supir taksi untuk mengamati hidup. Yang perlu dilakukan cuma menggunakan indra: memelototkan mata, menyibak rambut di kuping, menarik nafas panjang dan TADAAA…ada drama yang sedang berlangsung!

 

Bahkan seandainya saya terjebak dalam rumah saja, tetap ada TV yang menayangkan Cinta Laura, dan Cinta Laura bisa diambil hikmahnya. Bahkan kalau ga ada Cinta Laura, setidaknya ada saya sendiri. Mendengarkan apa yang pikiran saya ocehkan, melihat apa yang selama ini jadi pandangan saya, memikirkan mengapa saya punya pikiran tertentu, dan menemukan, cerita lain dalam hidup milik sendiri.

 

Berangkat dari keyakinan ini saya memberanikan diri mulai membuat blog beberapa waktu yang lalu. Itung-itung sebagai latihan menjadi tukang taksi yang baik…Supaya sebosan apapun rutinitas, se-‘segitu-segitunya’ nasib, tetap bisa bersemangat dalam melihat hidup dan membaginya untuk calon penumpang.

 

Dalam perjalanannya, si blog biasa saja tentang seorang mahasiswa perempuan kota besar yang tinggal nge-kos ini secara kebetulan mampir di hidup Dian Sastro yang mungkin habis cape syuting sehingga mudah terhibur oleh lelucon pendek. Lalu mampir dalam hidup seorang perempuan di Saudi Arabia yang kemudian jadi yakin untuk kembali ke Indonesia dan mencari kebahagiaan menurut definisi sendiri. Postingan lain singgah di mata seorang mahasiswa PhD yang lalu memutuskan untuk mengejar mimpi masa kecil meski berarti harus berhenti kuliah.

 

Dengan keyakinan yang sama juga saya manggut-manggut saja ketika diminta Pak Daniel Tumiwa dari Djarum untuk menjadi pembimbing blog Beswan, supaya lebih banyak lagi supir-supir (ehh..maksudnya blogger-blogger) handal yang berbagi lewat jalur internet.

 

Bukan karena saya yakin blog saya yang paling bagus. Justru saya, sebagai bukan selebritis dan hidup dalam rutinitas, adalah yang paling mirip dengan rekan-rekan blogger atau calon blogger di Beswan ini. Hanya saja, ibaratnya supir taksi, saya sudah ‘narik’ duluan dan mencari ‘penumpang’ lebih banyak. Siapa tahu saya bisa memberi tips tentang jalan tikus yang bisa diambil dalam trayek tertentu, cara ‘mengemudi’ biar irit bensin, atau taktik meraih hati ‘konsumen’ agar bisa dapat ‘penumpang’ lebih banyak lagi!

 

Dan saya yakin masih banyak lagi cerita, pandangan, dan kehidupan dari teman-teman di Beswan yang wajib di-share untuk menginspirasikan hidup Dian Sastro yang lain, mahasiswa PhD yang lain, dan pastinya saya. Karena supir taksi saja punya cerita, kalau kamu?