preload
Generasi tanpa Mimpi Nonton Pemilu
Jun 26

Seorang penulis novel popular pernah menyarankan ‘Bagaimana menjadi penulis fiksi yang baik.’ Salah satu idenya adalah: hindari menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ini tidak akan bertahan lama. Anda akan menulis satu buku yang sangat booming tapi kemudian tidak mampu menulis novel berikutnya.

 

Ada seorang penulis lain. Secara lugas dan utuh, ia mengadopsi dirinya dalam novel fiksinya. Pemeran utama dalam novel tersebut adalah seorang mantan Jesuit yang berjiwa petualang dan mendalami ilmu gaib. Secara menyeluruh ia menuangkan apa yang telah ia pelajari di kimia dalam buku tersebut.

 

Si pengarang ini kemudian menulis buku baru, tentang seseorang yang hidup dalam kehampaan dan mencari makna hidup. Buku berikutnya, adalah tentang seseorang yang mencari makna hidup hingga ke gurun pasir, dibumbui pencarian malaikat dan peristiwa mujizat. Jika melihat biografi hidupnya, sangat jelas bahwa banyak dari buku-bukunya bersumber dari diri si pengarang itu sendiri.

 

Pengarang ini bernama Paulo Coelho, penulis the Alchemist, dan hampir semua buku-bukunya menjadi best-seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

 

Kalau ditanya yang mana benar, saya mungkin akan bilang: dua-duanya benar. Betapapun berbedanya prinsip mereka, keduanya berhasil menjual begitu banyak copy dari buku mereka masing-masing dan menarik pembaca dari segmen yang spesial. Mungkin jika penulis pertama pakai metode ala Paulo yang diimpor dari Brazil, novel dan filmnya ga bakalan sesukses sekarang.

 

Dan setiap kali saya memberi workshop tentang blogging, dan menulis, saya selalu teringat dua penulis ini. Sangat mudah bagi seorang pembicara, nara sumber, dan sejenisnya untuk terjerumus dalam pemaparan ‘The Ultimate Guide of How to be a Good…”Padahal, saya bukan orang yang 100% percaya buku, presentasi, atau seminar tentang, “How to be a good….”

 

Dari sekian banyak orang yang membaca buku kiat sukses ala Starbucks, cuma ada satu Starbucks di dunia ini. Sedangkan coffee shop kenamaan lainnya bikin resep sukses sendiri, yang bisa sangat beda dengan Starbucks, membuat saya meragukan kemanjuran guide “how to be a good…” tadi.

 

Inget si panda gendut dalam film Kungfu Panda? Resep training yang sudah teruji perguruan silat ternama ternyata ga klop sama Po. Tapi pas dilatih dengan metode khusus untuk satu murid, Po bisa jadi jagoan kungfu. Karena there’s no secret ingredient!

 

Manusia itu kan diciptakan beda-beda yah… Bakatnya..gayanya..pribadinya..semuanya bervariasi. Oleh karena itu, saya ngerasa ga bakalan ada one-size-fits-all rule yang bisa menjamin kesuksesan semua orang. Masing-masing bakal punya resep sukses sendiri dan si factor X, yang bikin tiap orang beda itulah yang harus dieksploitasi supaya menonjol.

 

Ayu Utami memang penulis handal. Tapi alangkah membosankannya jika seluruh penulis Indonesia mengarang dengan satu bahasa yang sama dengan topik yang sama juga. Bisa-bisa toko buku jadi ga seru lagi. Justru karena ada orang lain yang menulis novel roman picisan yang memberi variasi dalam dunia sastra….

 

Ga bisa dipungkiri, banyak banget buku-buku guide of how to… itu yang telah menginspirasikan banyak orang. Dengan mengkombinasikan unsur yang pas dari berbagai buku, kadang seseorang berhasil menemukan gayanya sendiri yang bikin sukses beratz. Belajar dan menyimak pengalaman orang lain adalah cara hemat dan murah untuk belajar daripada harus mengalami sendiri.

 

Tapi apapun yang dituliskan, atau diomongkan, akan selalu ada satu hal yang tidak bisa diajarkan: Tentang menjadi diri sendiri. Tentang menemukan hal yang paling menarik dan paling nyaman untuk diri sendiri dan menggunakannya sebagai kekuatan kita.

10 Responses to “THE ULTIMATE GUIDE OF BEING…”

  1. wawans Says:

    mantab

  2. wawans Says:

    mantap tulisannya

  3. margareta Says:

    Wahahhaa…thanks wawans…*tidak bisa membalas dengan gurindam…*

  4. winky Says:

    setuju deh…mungkin memang ada jalan/pakem yg harus ditempuh agar seseorang menjadi “good” dalam bidang tertentu…tapi pada suatu titik setiap orang juga harus menemukan keunikan dirinya..kreatif dan menjadi diri sendiri…

    nice post..as usual.. :D

  5. margareta Says:

    @winky: wahh…thanks sudah berkunjung…iya, moga2 emang bisa menemukan keunikan diri ya? Bayangkan klo semua artis pendatang baru ngomongnya kaek Cinta Laura, karena si CinLau tenar…bisa2 sinetron jadi sulit dipahami…hihihihi…

  6. lely Says:

    bener banget gie.
    gw sndiri butuh back and forth untuk akhirnya bisa meramu gaya nulis gw sndr. mulai dari mengikuti abis gaya seorang penulis yang satu sampe mencoba menjungkirbalikkan bahasa penulis lain. gw sadar itu tidak berhasil ketika gw mandek, gak tau kudu nulis gmn ato apa lagi. sampe akhirnya gw mencoba menulis apapun yang lwt di otak gw. lancarr… :D
    metode gw trial and error. it works the best for me,

  7. uswa Says:

    wwuuaahhhh…mksh ya kak marji ats coment2 X…

  8. margareta Says:

    @uswa sama-sama Uswa! Yuk kita rame2 mengunjungi blog temen-temen yang lain dan saling bagi komentar, pasti lebih seru blog-nya. :)

  9. dessyandriyani Says:

    Jadi inget kutipan ini “Jadilah sesuatu sebaik-baiknya dari dirimu sendiri - Anonymous”.

    Memang setiap orang dilahirkan dengan memiliki keunikannya masing-masing dan hal itu yang harus kita pahami dan gali sehingga nanti dapat dipakai sebagai kekuatan kita. ;)

  10. pujiprabowo Says:

    semangat terus mba!

Leave a Reply