preload
THE ULTIMATE GUIDE OF BEING… Batman Returns a.k.a…Balik lagi ngomongin Batman
Jul 08

Ahh..gara-gara pada ngomongin Pemilu, jadi ingin nge-post tulisan ini lagi…

“Loe ntar nyontreng, Gie?”

“Iye”

“Oh ya? Warga negara yang baik ye?” teman menggeleng-gelengkan kepala dengan nada minor

“Ngg..bokap gue ketua RT…”

“Ohh..pantes…Klo ga, ga bakal milih kan, kaek gue?”

“Iya lah…ngapain juga?hahahaha…” gue tertawa palsu.

Sesaat setelah percakapan itu, gue jadi bingung sendiri, kenapa gue harus punya alasan untuk ikut Pemilu? Kenapa kok kesannya memalukan banget masuk daftar DPT?

Selamat datang di era reformasi. Jika 10 tahun lalu orang dipaksa aparat pedesaan untuk memilih partai tertentu, sekarang orang ditekan kelompok sosial untuk tidak memilih.

Gue bukan masyarakat sadar politik yang gemar mencela kaum Golput. Sejujurnya, ketika gue, mamih, dan kakak mendapat tiga lembar surat suara berukuruan raksasa dengan nama-nama yang tidak dikenal, sontak kita langsung berdiskusi dengan suara rendah di bilik suara, macamnya anak SD lagi contek-contekkan saat UAN.

Mamih: “Psst…Kok caleg yang kmaren bagi kalender di RT kita kagak ada si?”

Gue: Iya ya? mungkin bukan dari daerah pemilihan kita

Kakak: Angelina Sondakh juga ga ada!

Mamih: Klo Adjie Massaid?
Gue: Kagak ada juga, emang dari Jakarta?

Kakak: Jadi pilih sapa dong?

Gue: Katanya, pilih caleg perempuan

Mamih: Klo gitu pilih yang cantik ya?

Kakak: jangaann! Klo cantik ntar duit rakyat buat oprasi plastik!

Gue: bener juga, yang ini aja nih, ada DRA-nya, kayaknya berpendidikan

Mamih: jadi yang itu?

Gue: Iya

Kakak: Bener ya? Gue contreng nih…satu..dua..tiga…

Mamih: Udah kecontreng

Gue: Ya udah, kertas berikut…

Wajar saja orang malas mencontreng. Gue saja sempat pingin walk-out saja, seperti siswa yang mendapat soal ujian kelewat sulit sehingga langsung ditinggal pulang. Tapi diluar esensi terpenting sebuah Pemilu (yaitu memberi suara), gue sangat menikmati pengalaman lima tahun sekali itu.

Pemilu di mata gue bukanlah sebuah kewajiban yang memberatkan, dimana karenanya gue harus mempertanyakan kegunaan gue berpartisipasi. Gue juga tidak terlalu sering memusingkan bagaimana satu suara gue itu menentukan nasib rakyat. Atau alasan pasti mengapa gue memilih salah seorang partai.

Pemilu adalah sebuah kenduri besar. Warga RT yang jarang keluar rumah jadi berkumpul. Kami sekeluarga foto-foto di TPS. Si mamih bahkan sudah menyesuaikan pakaian yang dipakai dengan Megawati, lalu berjalan kaki pulang ke rumah supaya makin mirip sama sang mantan presiden. Lebih seru karena semua penduduk ikut menonton penghitungan suara, yang diiringi sorak sorai dan saling ejek antar suporter. Semua ditutup oleh minum Starbuck gratis bersama-sama.

Tidak beda dengan nonton bulu tangkis. Di ajang Indonesia Open kemarin, suporter Indonesia dengan lantang mendukung pasangan ganda putra Korea Selatan yang sedang melawan Cina. Tapi dalam pertandingan berikutnya, ketika ganda putri Malaysia melawan Cina, satu Senayan sontak bersorak CINA!CINA! CINA!

Kita mendukung pasangan Cina, bukan karena kita simpatik pada pemainnya, tapi karena Manohara. Lebih jauh lagi, kita juga tidak paham sepenuhnya krisis Ambalat, atau siapa yang benar dalam kasus Mano. Yang jelas, mencela Malaysia membuat kita merasa punya musuh bersama, membuat yel-yel menjadi lebih meriah dan suporter lebih kompak.

Bahkan lebih…lebih jauh lagi, gue mungkin tidak terlalu peduli akan kekalahan semua pemain Indonesia. Kalau pemain Indonesia menang, tentunya lebih menyenangkan, bisa punya alasan untuk bersorak-sorai lebih lama. Tapi melihat prestasi bulu tangkis Indonesia akhir-akhir ini, ada alasan lain gue tetap berteriak-teriak di pinggir lapangan.

Selain karena berjiwa nasionalis, gue bersorak sorai karena kejuaraan bulu tangkis adalah sebuah pertunjukan. Menang kalah, siapa yang mati siapa yang pingsan, yang penting gue sudah mengisi hari dengan tujuan baik; membela Indonesia, plus mendapat tontonan menarik.

Gue, bagian dari masyarakat gladiator. Yang suka MENONTON, atau menjadikan segala sesuatunya tontonan. Tidak gemar berpikir makna sebenarnya, tidak gemar mengetahui pengorbanan setiap pihak, selama gue bisa terhibur .

Makanya Pemilu pun gue jadikan tontonan. Sebuah acara lima tahunan yang memberi selingan dalam hidup yang ‘begitu-begitu’ saja. Satu kali dalam lima tahun gue bisa ketawa-ketawa mendengar percakapan di angkot:

“Loe pilih Demokrat dong, biar SBY bisa jadi presiden lagi!”

“Kagak mau! Gue mau pilih nomer 31!”
“Yee..loe gimana sih? Klo SBY ga jadi presiden gmana? Kan kasihan?”

“Yee..bodo amat! Pokoknya pilihan gue nomer 31!”
“Payah loe! Buang-buang suara! Pilih Demokrat aja!”
“Hak orang dong mau milih apa! Klo gue mau milih nomer 31 ya biarin aja!”

Tidak peduli keduanya berantem tentang partai yang sebenarnya…sama…Yang penting Satu kali dalam lima tahun, ada topik pembicaraan yang lain dari biasanya…

Tapi sebagai anggota, gue pantang menjelek-jelekan masyarakat spectator. See from the bright side, biarpun jadi sering dikatain nasionalisme lapangan, penonton Indonesia yang heboh itu selalu membuat nyaman para pemain internasional (yang ganteng, dan yang lagi melawan Malaysia). Peter Gade bilang penonton dunia harus mencontoh orang Indonesia. Jadi selain komodo dan kita punya kebanggan baru: suporter olahraga.

Kalau di Pemilu, menjadi golput mungkin adalah tanda kedewasaan berpolitik, menyadari bahwa pilihannya bakal mempengaruhi masa depan berbangsa, dan oleh karenanya jika belum bisa bertanggung jawab atas hak tersebut, memilih untuk tidak memilih.

Tapi juga bisa mengindikasikan bahwa masyarakat penonton sudah berkembang ke arah bentuk yang paling kronis, yang keasyikan nonton sampai tidak mau berpartisipasi sedikitpun. Bahkan terlalu malas untuk bergerak dan menciptakan tontonan buat orang lain. Makanya orang yang ga golput itu sekarang jadi ga asik, mereka pekerja yang mengusahakan hiburan bagi nyonya besar.

Dan gue gak pergi belibur pas liburan PilPres ini. Bukan karena gue nasionalis, tapi semata karena ini adalah pesta, merayakan sebuah hak, menjadi bagian dari hiruk pikuk tetangga. Untungnya, yang jadi presiden pasti orang Indonesia, coba kalau di bulu tangkis, kan deg-degan kalau yang masuk final tak bisa didukung sepenuh hati…

Posting ini juga ada di http://margareta.kompasiana.com

3 Responses to “Nonton Pemilu”

  1. wawans Says:

    mantap

  2. abdurrahim arsyad Says:

    iy. pemilu memang agak sedikit ruwet. tapi berbahagialah karena telah masuk dalam DPT. dari pada saya, harus di paksa golput dua kali oleh KPU.
    iya. saya mahasiswa luar pulau. susah untuk dapat DPT. padahal saya punya pilihan pasti untuk jadi wakil rakyat.
    tenang aja. kalau dilihat dengan cermat akan ketahuan wakil rakyat yang betul2 amanah.
    waktu akan membuktikannya.
    salam kenal…

  3. margareta Says:

    @abdurrahim, wah, sayang sekali ya…memang pemilu kemarin masih banyak sekali kekurangannya..tapi aku sangatt menyayangkan yang masuk DPT, tapi malah pergi liburan! Kan hak suaranya harusnya bisa digunakan oleh temen-temen seperti Abdurrahim yang memang ingin memilih…

    @wawans..thanks ya!! keep blogging.. :)

Leave a Reply