“So what is your job?”
“I’m working in the media industry, sir, I’m an editor for a news website.”
“Is it a citizen journalism-kind of thing? Like blogging?”
“Not really, but I do blog as well.”
“That’s good. I think it’s very important to share your life and practicing in expressing yourself. One day I’m going to create my own blog too.”
“That’s great, sir! I think you’ll have a lot of stories to share from your experience driving a cab”
Gue melihat nomor ruko yang gue cari ada di sisi kiri jalan “KIRI! KIRI! Ehhh! Sorry, I mean stop here, Sir!”
Demikianlah pertemuan singkat gue dalam taksi butut Singapura. Begitu singkat, tidak lebih dari 3 dolar 45 sen. Dan begitu melompat keluar, gue yang terburu-buru segera lupa pada sang supir taksi berbahasa indah.
Beberapa bulan setelah perjalanan pendek itu, seorang supir taksi Singapura benar-benar menulis blog. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, karir blog beliau melambung tinggi. Berita tentang dirinya mewarnai berbagai media di Kota Singa. Tulisannya akan dibukukan awal tahun depan.
Gue tidak tahu jika supir taksi istimewa ini adalah orang yang sama yang gue tumpangi beberapa bulan silam. Tapi lepas dari siapa beliau, gue bersyukur seorang supir taksi telah mengambil sebuah awal untuk membagi hal yang menarik perhatiannya dalam sebuah blog. Apa yang ditulis, telah memberi dimensi baru untuk gue dan Singapura, dan gue yakin, si supir sendiri.
Blog, mungkin cuma sarana bagi Pak Supir menyalurkan potensinya. Sebelum menjadi blogger, Pak supir memang sudah punya ‘modal’. Ia berkali-kali meraih beasiswa hingga bergelar PhD dari Stanford University dan pernah membuat berbagai riset di pemerintahan Singapura. Gaya bahasanya mudah diikuti, mungkin buah pengalaman menulis tumpukan jurnal akademis.
Tapi jika mengandalkan institusi riset, Pak Supir bisa menunggu puluhan tahun hingga perekonomian membaik dan tenaga riset ditambah, agar bisa berkarya dan berkontribusi bagi dunia. Di usia muda, sebagai akibat dari perubahan kebijakan yang tidak sensitif, Pak Supir kehilangan pekerjaannya sebagai researcher bergengsi. Kualifikasi S3 tidak membantunya mencari pekerjaan baru karena bidang yang sangat spesifik dan teoretis.
Itulah yang menghantarkan Pak Profesor pada profesi barunya, supir taksi, pekerjaan yang saat itu bisa ia dapatkan dengan mudah. Beliau bisa saja terus konsen menyetir, dan hanya akan menyentuh satu dua penumpang taksi. Tapi Pak Supir nge-blog, menceritakan kisahnya, membuka mata masyarakat tentang system yang tidak sempurna.
It’s all about getting yourself heard. Dan blog adalah satu cara untuk mengekspresikan diri yang sangat demokratis. Siapa saja bisa nge-blog, termasuk seorang supir taksi, karena blog memberikan kesempatan sama besarnya dengan warga internet lainnya untuk ‘didengar’ oleh masyarakat luas.
Lagipula kekuatan terbesar blog adalah sifatnya yang sangat personal. Sifat dasar blog adalah sebagai hasil ekspresi sebuah pribadi, atas kebutuhan individu untuk berbagi, tentang ketertarikan atau segala isu yang menjadi perhatian sang blogger itu sendiri. Karena setiap orang selalu dilahirkan dengan ketertarikan akan sesuatu, setiap orang, berpotensi membuat blog yang bermanfaat, termasuk Pak Supir, termasuk kita.
Dan jika memang blog adalah medium yang dipilih, tahap selanjutnya adalah membuat kita semakin ‘didengar’. Membuat hal yang jadi perhatian kita semakin jadi perhatian masyarakat luas agar dapat terjadi perubahan. Aktif dalam pelbagai kegiatan blog termasuk Lomba Blogging, adalah salah satunya.
Lewat lomba blog, kita ‘memaksa’ setidaknya beberapa orang lain (setidaknya para juri), untuk mendengarkan uneg-uneg kita dalam tulisan. Membiarkan apa yang jadi perhatian kita, mendapat kesempatan diketahui oleh masyarakat.
Karena tujuannya adalah untuk membagi apa yang penting bagi kita, posting dalam lomba blog bisa saja segala hal yang memang selalu jadi perhatian dan dekat dengan kita. Tema bisa dilihat dari berbagai dimensi dan diartikan secara luas. Bahkan kisah si Pak Profesor yang jadi Pak Supir-pun, bisa saja menceritakan tentang daya saing bangsa, karena Pak Profesor terpaksa menyupir karena didepak ‘foreign talent’.
Dalam posting pertama gue di blog beswan, ‘Supir taksi punya cerita’? gue mengutarakan kekhawatiran jika para supir taksi dunia mulai nge-blog. Pastinya blogger-blogger lainnya bakal dicap kurang professional lantaran harus berbanding dengan para supir taksi yang punya terlalu banyak cerita menarik untuk di-post.
Sudah jelas, kekhawatiran gue itu menjadi kenyataan. Tapi masih ada harapan! Pak Supir bukan alumni beswan dan tidak akan ikut lomba blog nanti. Itu berarti kesempatan menyetarakan diri dalam hal meraih perhatian masyarakat dan membuat perubahan masih terbuka lebar. Makanya, ayoo..tancap gas, langsung kebut daftarkan blog!
