preload
Oct 22

Jalan yang sedang gue lalui saat ini cuma dua jalur, dua arah; jika dilihat dari batas marka jalan bewarna putih yang samar-samar terlihat di balik ban puluhan mobil. Tapi gue berada di jalur ketiga, sedangkan mikrolet yang sarat penumpang itu berada di antara baris keempat dan kelima, atau pertama dan kedua dari arah sebaliknya.

 

Kok bisa?

 

“Orang Indonesia itu oportunis ya?” gue nyeletuk, sambil meredakan ketegangan dalam mobil.  Gue menunjukkan pemandangan jalan dua jadi lima yang membentang panjang. “Kalau ngantri sudah pasti lama, tapi kalau nyerobot, mungkin bisa lebih cepet, tapi ternyata..yahhh malah bikin tambah macet!”

 

Lawan bicara yang bertugas sebagai supir hari itu langsung nyureng. “Yang kaya gini nih yang bikin Indonesia gak bisa maju!” cetusnya. Sensitif amat sih, mentang-mentang situ yang nyetir, batin gue dalam hati.

 

“Iya lah, namanya juga macet, ya nggak bisa maju, kalau lancar, baru mobilnya bisa maju,” gue menjawab ringan, berharap bisa mengganti topik pembicaraan. Tapi lawan bicara punya kehendak lain.

“Dig deeper,” ujarnya. Sudah macet, disuruh mikir, gue kembali membatin.

“Ini bukan masalah ngambil risiko, tapi masalah ga tau aturan, sehingga tidak menaati dan akhirnya berantakan!” lanjut lawan bicara. Gue menghela nafas tertahan. Gue punya feeling,  jalanan benar-benar macet saat ini akan memberi kami begitu banyak waktu untuk membahas kemacetan dan kemajuan…

 

Menurut rekan bicara, ia benar-benar sudah muak dengan kemacetan semacam di jalan ini, karena itu terjadi di aspek hidup orang Indonesia mana saja, akibat manifestasi sifat orang Indonesia yang mutlak dan mengakar.

 

Yaitu: orang Indonesia tidak lahir dengan aturan. Segala hal yang ada di bumi pertiwi ini terlihat acak kadut berantakan sejak tangis bayi pertama. Makanya, sang bayi tidak pernah belajar menaati aturan. Jangankan paham untuk taat; tahu bahwa aturan itu ada atau tidak saja belum tentu! Padahal, tak kenal maka tak sayang. Karena tak pernah tau betapa baiknya guna sebuah aturan, tak pernah ada keinginan untuk menggunakannya.

 

Lihat saja jalanan ini. Berapa orang dalam mobil yang mengantri sungguh-sungguh ikut tes mengemudi dan menghafal marka jalan? Mungkin bisa dihitung sebelah jari. Sisanya nembak SIM. Makanya, mereka (ya, termasuk dalam mobil yang  gue tumpangi ini), tidak paham arti marka jalan. Bahwa ini cuma dua jalur, bukan LIMA.

 

Satu-satunya yang mereka paham adalah jika melanggar marka jalan akan kena kemplang tilang…kalau ada polisi! Seolah aturan dibuat karena ada polisi. Padahal polisi jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jalanan Jakarta. Akibatnya, macet gundah gulana. Seandainya saja mereka paham kegunaan tertib lalu lintas, tentunya akan taat supaya semua bisa sampai di tujuan dengan selamat, baik raga maupun kejiwaan.

 

Dan gaya menyetir dengan kepribadian semacam itu dibawa dalam setiap aspek kehidupan setiap orang Indonesia. Tidak paham jika membeli kaset bajakan itu salah, karena memang tidak pernah tahu aturan hak cipta. Hanya membeli produk software asli karena takut disidak di bandara, bukan karena mengetahui keuntungan menggunakan produk yang sah di mata hukum. Pokoknya setiap perbuatan tidak dikaji atas dasar ketepatan dengan aturan yang berlaku.

 

Buntutnya, macet dimana-mana. Kredit macet. Pembangunan macet. Pengembangan inovasi macet. Konversi tabung gas macet. Dengan macet-macet dalam setiap jalan hidup akibat ulah manusia tak kenal aturan ini, bagaimana inovasi bisa berkembang? Pembangunan apapun harus difasilitasi, dan itu yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah negeri ini. Semua sibuk berpartisipasi dalam keacak-kadutan.

 

Gue manggut-manggut. Bener juga. Gue teringat sepasang suami istri pemilik usaha sepatu yang ingin bertetangga dengan pabrik tempat bokap gue bekerja. Mereka cinta Indonesia, melihat potensi mendirikan usaha, dan ingin berinvestasi disini, membagi sedikit teknologi yang dikuasai bagi warga negeri.

 

Tapi ternyata Indonesia tak seindah Bali dan tak senikmat sate ayam. Prosedur mendirikan perusahaan di Indonesia begitu berbelit-belit. Aparat negara yang mau dibantu malah minta persenan terlebih dahulu. Akhirnya minggatlah mereka dan menanam modal di Vietnam.

 

Peraturan membuat usaha, membayar pajak, perlindungan hak cipta hingga pengadaan keamanan nasional seringkali dibuat berputar-putar tak jelas. Bahkan terkadang para penegak hukum dan pencipta aturan juga tidak khatam dengan aturan bikinan sendiri. Membuat bingung, membuat malas ‘kemana-mana’.

 

Kalau sudah begini, siapa yang mau mengembangkan diri? Mau usaha baik-baik saja  harus main ‘jelek’ dulu. Ibaratnya nyetir, yang nyetirnya taat aturan, tidak nyerobot-nyerobot, bakal sampai paling belakang! Memuakkan!

 

Tapi…apakah macet dan nyerobot itu selalu jelek?

 

Gue pernah hidup di sebuah Negara dimana tidak pernah ada kemacetan sedikitpun. Becandaannya, kalau disini mah orang itu ga pernah macet, tapi ngantri di jalan…Habisnya mobil bisa dirunut ke belakang dalam satu garis lurus, tidak ada yang berusaha ‘memperbaiki nasib’ dengan nyelip di antara dua jalur.

 

Sebuah negara yang begitu teratur, rapi, bersih loh jenawi. Negara yang segala aspek kehidupannya diatur dan diurus oleh pihak berwenang dengan jelas. Nyaris tidak pernah ada pertanyaan di negeri ini. Segalanya telah diatur dan direncanakan sedemikian rupa. Setiap warga paham aturan, hidup berdasarkan aturan, dan tak perlu sibuk ‘mengacau.’

 

Begitu teraturnya hingga terkadang gue bertanya, apakah aturan dibuat untuk hidup atau orang diciptakan untuk sekadar memenuhi aturan? Di saat segalanya didefinisikan oleh aturan, ruang untuk kreasi menjadi semakin sempit. Peraturan menjadi ilmu absolut yang menguasai kehidupan, tanpa pernah mempertanyakan sebab keberadaannya.

 

Dalam sebuah proses menciptakan inovasi, kasarnya ada dua tahap. Yang satu adalah tahap ‘mengembangkan’. Menelusuri sebuah ide dan konsep, menjadikannya nyata, dan membuatnya bernilai guna.

 

Keteraturan sangat menunjang proses ini. Negara yang gue sempat tinggal itu sangat peka terhadap ide yang muncul. Segala sesuatu yang membawa ke arah lebih baik akan difasilitasi, dibuat aturan mainnya, dan dijalankan dengan sempurna.

 

Tapi jauh sebelum proses yang satu itu, ada proses ‘menemukan’, mendapatkan ide dan konsep, mencetuskan sesuatu dan mengambil risiko untuk gagal dalam ide kasar ini. Ide baru pasti belum dibuat aturannya. Dan karena menuruti aturan adalah absolut, ide yang tidak ada dalam aturan ini bisa saja mati sebelum berkembang.

 

Mengalami hidup di Negara yang begitu teratur mematikan ‘hidup’ gue. Semuanya hidup dalam satu garis lurus, hingga tak dimungkinkan membuat garis memotong yang masih dalam dunia khayal. Meski mungkin saja, garis memotong itu akan jadi trend seperti garis lurus suatu saat nanti.

 

Berbeda dan nyentrik dianggap salah karena tak sesuai aturan yang berlaku. Lambat laun, memang tidak ada keinginan untuk menjadi berbeda. Semuanya didefinisikan dalam garis lurus tadi sehingga tak bisa melihat kehidupan di luar garis.

 

Membentuk manusia yang sadar dan taat aturan adalah wajib dan perlu. Tidak terbantahkan, negara yang gue tinggali itu merdeka belakangan dari Indonesia, tapi statusnya kini sudah menjadi ‘negara maju’. Pendapatan perkapita tinggi. Perkembangan ilmu teknologi begitu pesat. Tidak ada hal yang mereka inginkan dan tidak bisa mereka kerjakan. Bahkan balap malam-pun bisa mereka buat dengan sukses.

 

Tapi tinggal dan menjadi bagian dari negeri ini, gue merasakan ada yang hilang. Gue kangen ‘macet’. Ada sesuatu yang estetis dari tumpukkan mobil dalam posisi statis seperti saat ini. Rentetan motor, mikrolet, bajaj, mobil layak uji dan tidak layak uji emisi ini punya nilai seni yang tak bisa dijelaskan.

 

Begitu banyak warna. Begitu banyak suara. Begitu banyak aroma. Begitu banyak bentuk, yang tidak akan muncul dalam sebuah keteraturan. Kesemerawutan ini telah menyemburatkan semangat, gairah, bahkan emosi, yang menandakan adanya kehidupan. Dan hanya manusia yang bisa maju dan membentuk bangsa, bukan robot. Kita masih membutuhkan semangat ‘oportunis’ dan keberanian membangkang aturan untuk mengembangkan diri.

 

TEEETT!!! Rentetan klakson melemparkan gue kembali ke dunia nyata, membuyarkan utopia macet yang begitu indah. Gue kini berada di jalur kedua dari SATU jalur seharusnya, dan TIDAK bergerak sedikitpun. Gue menghela nafas panjang. Gue tetap mendukung keberanian ‘breaking the rules’ saat aturan sudah tak lagi mendukung tujuannya. Tapi mungkin kita juga harus belajar dari negara tetangga, in order to break the rules, you have to know the rules…

May 18

Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut?

 

Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue itu.

 

 Kerajaan Singosari merupakan kerajaan termasyur di masa Hindu Jawa Timur, yang melahirkan generasi raja-raja Jawa, termasuk dalam Kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara, Majapahit. Tapi selain Candi Singosari, peninggalan yang lain macamnya tak pernah eksis.

 

Pamor Taman Tirta, kolam pemandian putri kerjaan  luntur digerus jaman, kalah dengan ‘Pemandian Ken Dedes’, sebuah kompleks kolam renang mirip waterboom yang laris manis dikunjungi puluhan keluarga.

 

Gue adalah satu-satunya turis ‘normal’ di taman yang tersembunyi dari jalanan itu. Sisa pengunjung adalah empat orang paranormal, satu orang yang berdiri di bawah pohon beringin sambil ngomong sendiri dan membakar kemenyan, serta dua gadis yang mengharapkan berendam di tempat yang sama bisa membuat mereka setidaknya mendekati rupa Ken Dedes.

 

Jika bukan untuk minta wangsit, pingin cantik,  mau jadi presiden, atau mau mencuri dan memenggal kepala arca-arca kuno di pinggir kolam sampai botak-botak, gak banyak yang mau bertandang ke Taman Tirta.

 

Sedangkan Pulau Wisanggeni, lepas pantai Balekambang tempat berdirinya Pura di tengah lautan Hindia, tersembunyi di tengah hutan yang tak tembus matahari. Gue tertipu habis-habisan dengan klaim accessible via public transport. Boro-boro public transport, tanya dulu dong, jalanannya ada nggak? Kecuali jika jalan setapak bolong-bolong maut yang tidak terjangkau sinyal HP dianggap sebagai jalanan….

 

Kenyataan gue tak ingat Singosari dan Balekambang, meski dengan segala kejayaannya dan keelokkannya, berbuntut pertanyaan yang lain:  Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Singosari? Sebuah bangsa yang besar dan termasyur tapi kemudian kalah oleh pergerakan jaman dan dilupakan orang? Atau bahkan bernasib seperti Balekambang yang bahkan tak pernah dikenal dan makanya tak pernah diingat?

 

Ketika mobil gue terhambat arak-arakan Reog Ponorogo di depan muka setelah turun dari Penanjakan Semeru, gue sadar, inilah pertama kalinya gue melihatnya secara nyata. Selain di siaran TV pembukaan PON Jawa Timur tahun 2000, tak pernah terlintas untuk nonton REOG. Mending nonton film India dhe!

 

Wajar-wajar saja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kalau cuma warga di atas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog? Sedangkan yang mampu akan butuh hiburan import dan mencari candi sampai ke negara lain.

 

Gue kadang berpikir, We’re not a proud nation. Saat gue mau ke Jogja di malam tahun baru kemarin, komentar yang akrab di telinga adalah, ‘Kok turun pangkat, sih?’ Seolah Jogja berderajat lebih rendah dari Singapura.

 

Gue dan teman-teman gue secara sadar dan tak sadar telah merasa tak bangga dengan apa yang dimiliki. Tak menganggap indah kesenian dan alam yang ada. Dan perlahan, mulai melupakan budaya, sejarah dan geografis yang membentuk sebuah konsep bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Gue cemas, Negara Indonesia akan bubar, warisannya diterlantarkan karena diabaikan generasi penerus, sama seperti Singosari yang dilupakan keturunannya. (yaitu kita-kita ini). Gue cemas, wilayah Indonesia akan digerogoti Negara tetangga hingga hilang dari peta dunia seperti Balekambang yang tak punya titik di peta wisata Indonesia, karena warganya tak tahu ujung-ujung negaranya sendiri. Gue cemas, gue akan jadi bagian dari bangsa yang tak dikenal orang, pasti gue-nya lebih tak diingat lagi.

 

Makanya gue memasang foto-foto dari seputar Malang ini. Supaya ketika saat gue mau berlibur di pantai Thailand, saat akan menguap pas nonton tari tradisional, saat lagi sok-sok mengagungkan Bahasa Inggris, gue ingat, Indonesia.

 

 

 

 

 

 

Tagged with: