preload
Sep 20

“So what is your job?”
“I’m working in the media industry, sir, I’m an editor for a news website.”

“Is it a citizen journalism-kind of thing? Like blogging?”
“Not really, but I do blog as well.”

“That’s good. I think it’s very important to share your life and practicing in expressing yourself. One day I’m going to create my own blog too.”

“That’s great, sir! I think you’ll have a lot of stories to share from your experience driving a cab”

Gue melihat nomor ruko yang gue cari ada di sisi kiri jalan “KIRI! KIRI! Ehhh! Sorry, I mean stop here, Sir!”

 

Demikianlah pertemuan singkat gue dalam taksi butut Singapura. Begitu singkat, tidak lebih dari 3 dolar 45 sen. Dan begitu melompat keluar, gue yang terburu-buru segera lupa pada sang supir taksi berbahasa indah.

 

Beberapa bulan setelah perjalanan pendek itu, seorang supir taksi Singapura benar-benar menulis blog. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, karir blog beliau melambung tinggi. Berita tentang dirinya mewarnai berbagai media di Kota Singa. Tulisannya akan dibukukan awal tahun depan.

 

Gue tidak tahu jika supir taksi istimewa ini adalah orang yang sama yang gue tumpangi beberapa bulan silam. Tapi lepas dari siapa beliau, gue bersyukur seorang supir taksi telah mengambil sebuah awal untuk membagi hal yang menarik perhatiannya dalam sebuah blog. Apa yang ditulis, telah memberi dimensi baru untuk gue dan Singapura, dan gue yakin, si supir sendiri.

 

Blog, mungkin cuma sarana bagi Pak Supir menyalurkan potensinya. Sebelum menjadi blogger, Pak supir memang sudah punya ‘modal’. Ia berkali-kali meraih beasiswa hingga bergelar PhD dari Stanford University dan pernah membuat berbagai riset di pemerintahan Singapura. Gaya bahasanya mudah diikuti, mungkin buah pengalaman menulis tumpukan jurnal akademis.

 

Tapi jika mengandalkan institusi riset, Pak Supir bisa menunggu puluhan tahun hingga perekonomian membaik dan tenaga riset ditambah, agar bisa berkarya dan berkontribusi bagi dunia. Di usia muda, sebagai akibat dari perubahan kebijakan yang tidak sensitif, Pak Supir kehilangan pekerjaannya sebagai researcher bergengsi. Kualifikasi S3 tidak membantunya mencari pekerjaan baru karena bidang yang sangat spesifik dan teoretis.

 

Itulah yang menghantarkan Pak Profesor pada profesi barunya, supir taksi, pekerjaan yang saat itu bisa ia dapatkan dengan mudah. Beliau bisa saja terus konsen menyetir, dan hanya akan menyentuh satu dua penumpang taksi. Tapi Pak Supir nge-blog, menceritakan kisahnya, membuka mata masyarakat tentang system yang tidak sempurna.

 

It’s all about getting yourself heard. Dan blog adalah satu cara untuk mengekspresikan diri yang sangat demokratis. Siapa saja bisa nge-blog, termasuk seorang supir taksi, karena blog memberikan kesempatan sama besarnya dengan warga internet lainnya untuk ‘didengar’ oleh masyarakat luas.

 

Lagipula kekuatan terbesar blog adalah sifatnya yang sangat personal. Sifat dasar blog adalah sebagai hasil ekspresi sebuah pribadi, atas kebutuhan individu untuk berbagi, tentang ketertarikan  atau segala isu yang menjadi perhatian sang blogger itu sendiri. Karena setiap orang selalu dilahirkan dengan ketertarikan akan sesuatu, setiap orang, berpotensi membuat blog yang bermanfaat, termasuk Pak Supir, termasuk kita.

 

Dan jika memang blog adalah medium yang dipilih, tahap selanjutnya adalah membuat kita semakin ‘didengar’. Membuat hal yang jadi perhatian kita semakin jadi perhatian masyarakat luas agar dapat terjadi perubahan. Aktif dalam pelbagai kegiatan blog termasuk Lomba Blogging, adalah salah satunya.

 

 Lewat lomba blog, kita ‘memaksa’ setidaknya beberapa orang lain (setidaknya para juri), untuk mendengarkan uneg-uneg kita dalam tulisan. Membiarkan apa yang jadi perhatian kita, mendapat kesempatan diketahui oleh masyarakat.

 

Karena tujuannya adalah untuk membagi apa yang penting bagi kita, posting dalam lomba blog bisa saja segala hal yang memang selalu jadi perhatian dan dekat dengan kita. Tema bisa dilihat dari berbagai dimensi dan diartikan secara luas. Bahkan kisah si Pak Profesor yang jadi Pak Supir-pun, bisa saja menceritakan tentang daya saing bangsa, karena Pak Profesor terpaksa menyupir karena didepak ‘foreign talent’.

 

Dalam posting pertama gue di blog beswan, ‘Supir taksi punya cerita’?  gue mengutarakan kekhawatiran jika para supir taksi dunia mulai nge-blog. Pastinya blogger-blogger lainnya bakal dicap kurang professional lantaran harus berbanding dengan para supir taksi yang punya terlalu banyak cerita menarik untuk di-post.

 

Sudah jelas, kekhawatiran gue itu menjadi kenyataan. Tapi masih ada harapan! Pak Supir bukan alumni beswan dan tidak akan ikut lomba blog nanti. Itu berarti kesempatan menyetarakan diri dalam hal meraih perhatian masyarakat dan membuat perubahan masih terbuka lebar. Makanya, ayoo..tancap gas, langsung kebut daftarkan blog!

Jun 26

Seorang penulis novel popular pernah menyarankan ‘Bagaimana menjadi penulis fiksi yang baik.’ Salah satu idenya adalah: hindari menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ini tidak akan bertahan lama. Anda akan menulis satu buku yang sangat booming tapi kemudian tidak mampu menulis novel berikutnya.

 

Ada seorang penulis lain. Secara lugas dan utuh, ia mengadopsi dirinya dalam novel fiksinya. Pemeran utama dalam novel tersebut adalah seorang mantan Jesuit yang berjiwa petualang dan mendalami ilmu gaib. Secara menyeluruh ia menuangkan apa yang telah ia pelajari di kimia dalam buku tersebut.

 

Si pengarang ini kemudian menulis buku baru, tentang seseorang yang hidup dalam kehampaan dan mencari makna hidup. Buku berikutnya, adalah tentang seseorang yang mencari makna hidup hingga ke gurun pasir, dibumbui pencarian malaikat dan peristiwa mujizat. Jika melihat biografi hidupnya, sangat jelas bahwa banyak dari buku-bukunya bersumber dari diri si pengarang itu sendiri.

 

Pengarang ini bernama Paulo Coelho, penulis the Alchemist, dan hampir semua buku-bukunya menjadi best-seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

 

Kalau ditanya yang mana benar, saya mungkin akan bilang: dua-duanya benar. Betapapun berbedanya prinsip mereka, keduanya berhasil menjual begitu banyak copy dari buku mereka masing-masing dan menarik pembaca dari segmen yang spesial. Mungkin jika penulis pertama pakai metode ala Paulo yang diimpor dari Brazil, novel dan filmnya ga bakalan sesukses sekarang.

 

Dan setiap kali saya memberi workshop tentang blogging, dan menulis, saya selalu teringat dua penulis ini. Sangat mudah bagi seorang pembicara, nara sumber, dan sejenisnya untuk terjerumus dalam pemaparan ‘The Ultimate Guide of How to be a Good…”Padahal, saya bukan orang yang 100% percaya buku, presentasi, atau seminar tentang, “How to be a good….”

 

Dari sekian banyak orang yang membaca buku kiat sukses ala Starbucks, cuma ada satu Starbucks di dunia ini. Sedangkan coffee shop kenamaan lainnya bikin resep sukses sendiri, yang bisa sangat beda dengan Starbucks, membuat saya meragukan kemanjuran guide “how to be a good…” tadi.

 

Inget si panda gendut dalam film Kungfu Panda? Resep training yang sudah teruji perguruan silat ternama ternyata ga klop sama Po. Tapi pas dilatih dengan metode khusus untuk satu murid, Po bisa jadi jagoan kungfu. Karena there’s no secret ingredient!

 

Manusia itu kan diciptakan beda-beda yah… Bakatnya..gayanya..pribadinya..semuanya bervariasi. Oleh karena itu, saya ngerasa ga bakalan ada one-size-fits-all rule yang bisa menjamin kesuksesan semua orang. Masing-masing bakal punya resep sukses sendiri dan si factor X, yang bikin tiap orang beda itulah yang harus dieksploitasi supaya menonjol.

 

Ayu Utami memang penulis handal. Tapi alangkah membosankannya jika seluruh penulis Indonesia mengarang dengan satu bahasa yang sama dengan topik yang sama juga. Bisa-bisa toko buku jadi ga seru lagi. Justru karena ada orang lain yang menulis novel roman picisan yang memberi variasi dalam dunia sastra….

 

Ga bisa dipungkiri, banyak banget buku-buku guide of how to… itu yang telah menginspirasikan banyak orang. Dengan mengkombinasikan unsur yang pas dari berbagai buku, kadang seseorang berhasil menemukan gayanya sendiri yang bikin sukses beratz. Belajar dan menyimak pengalaman orang lain adalah cara hemat dan murah untuk belajar daripada harus mengalami sendiri.

 

Tapi apapun yang dituliskan, atau diomongkan, akan selalu ada satu hal yang tidak bisa diajarkan: Tentang menjadi diri sendiri. Tentang menemukan hal yang paling menarik dan paling nyaman untuk diri sendiri dan menggunakannya sebagai kekuatan kita.

May 02

Butuh teman? Kesepian? Ingin bepergian dengan nyaman? Jangan khawatir! Bagi kamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, ikuti cara saya! Hubungi saja nomor suka-suka 7917**** kapan saja kamu membutuhkan, 24 jam non-stop. Dalam sesaat, cowok yang dinanti akan datang dengan mobilnya yang khas, dengan lampu di atas badan mobil menyala bertuliskan…TAKSI…

 

Dan kalau kamu sudah di dalam, jangan lupa buka kuping dan buka mata terhadap si Pak Supir, serap ilmu politik, sosial, ekonomi, serta gosip-gosip teranyar yang belum tayang di infotainment. Dijamin perjalanan kamu akan makin berkesan!

 

Pernah suatu kali saya disetiri oleh mantan karyawan bos Al-Qaeda, Osama Bin Laden di Oman. Pak Supir menceritakan pengalamannya selama 4 tahun, termasuk betapa eratnya hubungan antara Oman dengan Indonesia. Buktinya, semua pembantu di rumah Osama pada masanya berasal dari Cianjur, yang tersohor geulis, sedangkan satpamnya banyak yang dari Banten, daerah yang terkenal akan aji-ajiannya.

 

Beliau juga membuat saya begitu bersyukur tinggal di Indonesia yang tanam padi tumbuh padi. Segala usahanya menanam mangga, kangkung daun pandan di halaman rumah Osama yang sudah termasuk subur ukuran Timur Tengah gagal total. Apapun yang ditanam, yang tumbuh korma lagi korma lagi…

 

Di lain kesempatan, supir yang lain selama tiga jam non-stop MENDONGENG. Macet total yang mematikan jadi tidak terasa karena diisi oleh legenda daerah Jawa Tengah, seperti Kuntilanak, Nyai Roro Kidul dan Petani Miskin, hingga tentang pelbagai siluman. Pada saat saya sampai rumah, kisah putri bungsu Kerajaan Jalasutra, sebuah kerajaan siluman buaya, yang jatuh cinta pada pemuda desanya hingga menarik beliau ke dasar anak sungai Bengawan Solo sudah mencapai kata tamat.

 

Tidak semua supir taksi memuaskan hati. Ada juga supir yang lebih pendiam (atau lebih jutek?) agar lebih konsen menjalankan tugas yang utama.

            “Pak, apa kabarnya narik hari ini, Pak?” saya bertanya sok-sok akrab.

“Ya biasa aja neng, namanya juga nyopir, mau gimana lagi, sehari-harian di mobil terus, ga kemana-mana, ga ngeliat apa-apa, ga ketemu siapa-siapa.”

“Tapi kan penumpangnya macem-macem, Pak…” saya berusaha menghibur.

“Ya..” Pak supir menjawab pendek sambil menancap gas yang membuat saya semakin berdebar-debar!

Saat sedang berada dalam taksi, kadang saya jadi merasa sehati sejiwa dengan para pengemudinya. Dalam hidup, kita semua adalah supir taksi. Yang melalui jalan-jalan kehidupan dengan satu tujuan awal dan akhir, yang singgah sana sini, kadang lama kadang sebentar. Dalam perjalanan itu, akan banyak orang yang ditemui, hal-hal yang terliat di pinggir jalan, yang bisa dicela, dikeluhkesahkan, diketawain.

 

Sekarang terserah saya, apakah mau jadi supir taksi yang memberi makna lebih bagi para penumpang saya dengan berbagi cerita-cerita menarik, memberikan opini, dan menginspirasikan mereka? Atau saya bakal jadi supir taksi yang pelit cerita, yang menganggap hidupnya terlalu monoton untuk dibagi?

 

Life is an extremely huge story book. Tidak ada hidup seseorang yang begitu membosankannya sehingga habis dirangkum dalam sebuah buku. Cukup naik taksi saja sudah mendapat hal baru. Coba bayangkan kalau si supir taksi ini nge-blog. Dari hidup yang cuma terdiri dari gigi satu ke gigi dua, gas sama rem saja bisa dibuat posting tak berkesudahan!

 

Hidup terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Selalu ada hal baru, selalu ada pelajaran menarik, selalu ada hikmahnya. Saya tidak perlu lari ke gunung….merenungi nasib di gua, atau bahkan mencari supir taksi untuk mengamati hidup. Yang perlu dilakukan cuma menggunakan indra: memelototkan mata, menyibak rambut di kuping, menarik nafas panjang dan TADAAA…ada drama yang sedang berlangsung!

 

Bahkan seandainya saya terjebak dalam rumah saja, tetap ada TV yang menayangkan Cinta Laura, dan Cinta Laura bisa diambil hikmahnya. Bahkan kalau ga ada Cinta Laura, setidaknya ada saya sendiri. Mendengarkan apa yang pikiran saya ocehkan, melihat apa yang selama ini jadi pandangan saya, memikirkan mengapa saya punya pikiran tertentu, dan menemukan, cerita lain dalam hidup milik sendiri.

 

Berangkat dari keyakinan ini saya memberanikan diri mulai membuat blog beberapa waktu yang lalu. Itung-itung sebagai latihan menjadi tukang taksi yang baik…Supaya sebosan apapun rutinitas, se-‘segitu-segitunya’ nasib, tetap bisa bersemangat dalam melihat hidup dan membaginya untuk calon penumpang.

 

Dalam perjalanannya, si blog biasa saja tentang seorang mahasiswa perempuan kota besar yang tinggal nge-kos ini secara kebetulan mampir di hidup Dian Sastro yang mungkin habis cape syuting sehingga mudah terhibur oleh lelucon pendek. Lalu mampir dalam hidup seorang perempuan di Saudi Arabia yang kemudian jadi yakin untuk kembali ke Indonesia dan mencari kebahagiaan menurut definisi sendiri. Postingan lain singgah di mata seorang mahasiswa PhD yang lalu memutuskan untuk mengejar mimpi masa kecil meski berarti harus berhenti kuliah.

 

Dengan keyakinan yang sama juga saya manggut-manggut saja ketika diminta Pak Daniel Tumiwa dari Djarum untuk menjadi pembimbing blog Beswan, supaya lebih banyak lagi supir-supir (ehh..maksudnya blogger-blogger) handal yang berbagi lewat jalur internet.

 

Bukan karena saya yakin blog saya yang paling bagus. Justru saya, sebagai bukan selebritis dan hidup dalam rutinitas, adalah yang paling mirip dengan rekan-rekan blogger atau calon blogger di Beswan ini. Hanya saja, ibaratnya supir taksi, saya sudah ‘narik’ duluan dan mencari ‘penumpang’ lebih banyak. Siapa tahu saya bisa memberi tips tentang jalan tikus yang bisa diambil dalam trayek tertentu, cara ‘mengemudi’ biar irit bensin, atau taktik meraih hati ‘konsumen’ agar bisa dapat ‘penumpang’ lebih banyak lagi!

 

Dan saya yakin masih banyak lagi cerita, pandangan, dan kehidupan dari teman-teman di Beswan yang wajib di-share untuk menginspirasikan hidup Dian Sastro yang lain, mahasiswa PhD yang lain, dan pastinya saya. Karena supir taksi saja punya cerita, kalau kamu?