preload
Aug 03

Gue punya sebuah rahasia. Gue telah memendamnya setahun setelah kejadian berlalu dan gue akan membongkarnya secara umum sekarang:

Gue benci Batman

Cuma Batman doang, kok baru berani ngomong sekarang…Tapi dalam paragraph pertama pun gue yakin ada yang mulai kurang seneng. Coba bayangkan sanksi sosial yang bakal gue terima jika gue menyatakan ini tahun lalu, ketika film ini baru pertama kali rilis.

 

Editor MSN Singapura waktu itu bahkan pernah mengatakan, cuma orang yang gak ngerti film saja yang akan bilang film The Dark Knight itu jelek. Macamnya cuma orang pintar yang minum jamu tertentu. Gengsi dibilang buta film, gue terpaksa setuju membuat review bintang 5 untuk Batman.

 

Suer. Pada awalnya gue pun bersemangat tanpa pesimisme sedikitpun menyambut film Batman yang dipuja-puja bangsa itu. Gue ingat bersusah payah mendapatkan tiket di hari pertama pemutaran, berhasil menemukannya hanya di sebuah bioskop tua dengan toilet berlampu berdengung di sudut Singapura, karena bioskop top sudah fully booked dari dua minggu sebelumnya. Gue melihat seluruh bioskop juga muncul dengan wajah penuh harap, dan berkata pada diri sendiri, Kayaknya oke nih!

 

Dua jam 32 menit berlalu. Dan gue melihat bioskop kini dipenuhi oleh wajah orang-orang yang lemas dan bingung. Bukan lemas karena habis begitu tegang nonton. Bingung bukan karena sedang memikirkan arti film yang dalam. Tapi semacam lemas karena ngantuk dan bingung hilang arah, tak mengerti, tak menikmati.

 

Tapi begitu keesokan harinya film tersebut dibahas di koran nasional, cuma ada sanjungan dan pujian. Film ini ga seperti film superhero dangkal pada umumnya. Karakter Batmannya dapet banget. Jokernya bikin gue ga bisa tidur. Efeknya ga murahan…. Dan segenap dukungan lain, baik dari insan film maupun bukan, yang sudah nonton maupun belum. Bahkan orang-orang dalam bioskop yang berwajah bingung tadi kini berbalik mendukung film tersebut.

 

Ini adalah pertama kalinya selera gue bertentangan dengan selera pasar. Sungguhlah gue orang yang mudah dibodoh-bodohi. Gue suka semua film box-office. Gemar menyanyi-nyanyi lagu-lagu top 40. Nekad bolos pramuka saat ABG supaya tidak ketinggalan MTV Asia Hit List.

 

Sebagai bagian dari masyarakat banyak dan umum ini, gue selalu percaya bahwa lagu, film, mode disebut bagus karena memang semua orang menyukainya dan dilegitimasi oleh mereka yang memang ‘ahli’ pada bidangnya. Barulah di saat gue harus melawan opini massa, timbul pertanyaan, memangnya siapa yang punya hak untuk menentukan sebuah hasil kebudayaan sebagai bagus dan tidak, buat gue?

 

Tentunya ada orang film senior, sutradara ngetop dan ahli sinematografis yang mendasarkan pendapatnya atas pengetahuan yang didapat dari pengalaman yang mendalam. Kolom review mereka, cuplikan pendapat mereka atas sebuah film, pastinya merupakan sebuah sumber pembentuk opini yang valid.

 

Tapi para tokoh film yang sangat gue hormati itu hanyalah beberapa persen dari materi pembentuk selera gue dan kebanyakan orang lain. Dari sebuah ide tercetus di kepala hingga dikonsumsi masyakarat, hingga direview hingga direproduksi, ada banyak ‘penjaga gawang’ lain yang terlibat.

 

Pekerja film menentukan ide yang ingin dibuat film. Penyandang dana memilih film yang ingin disponsori. Organisasi media menentukan film yang tayang, yang direview, yang didukung dan tidak. Kekuatan iklan plus promosi menentukan jangkauan film dan bagaimana orang menerimanya.

 

Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu sehingga ketika sampai ke gue, budaya pop bukanlah sesuatu yang objektif. Ada berbagai kepentingan dan cara pandang serta definisi pengetahuan subjektif yang diselipkan dalam setiap produknya.

 

Tapi saat itu, gue tidak pernah mempertanyakan keabsahan penilaian sistem ini. Dan jadilah film yang ‘kata orang’ bagus menjadi bagus. Biarpun gue ga tahu siapa ‘orang’ yang berkata demikian, atau yang pertama menyebutnya sebagai bagus. Biarpun gue lupa bertanya kenapa disebut bagus. Biarpun biar gue sudah membaca resensinya dan mereka bilang film itu bagus karena lightingnya keren, gue pun tidak pernah belajar lighting untuk memahami lighting yang bagus. Pokoknya kelihatan bagus.

 

Begitu juga jika ditanya apakah film Batman bagus, gue akan menjawab iya, karena semua bilang bagus. Bahkan meskipun menurut gue alurnya lambat. Bahkan meskipun menurut gue banyak latar belakang yang bertele-tele dan tidak diperlukan. Bahkan meskipun menurut gue fokus film jadi kurang berasa dengan kemunculan dua antagonis sekaligus. Bahkan meskipun menurut gue Heath Ledger main bagus tapi ga akan menang Oscar kalau tidak secara posthumous. Bahkan meskipun gue hampir tertidur saat nonton.

 

Sebaliknya teman gue yang nge-fans Batman-pun tak bisa secara pasti menjelaskan mengapa menurutnya Batman bagus.
“Batman bagusnya dimana sih?”
“Hmm..Jokernya keren.”
“Iya, kerennya dimana?”
“Yaa..aktingnya keren aja,”
“Coba, bagian mana yang paling keren?”
“HEATH LEDGER MATI GARA-GARA JADI JOKER TAU GA SIH LOE?!”

 

Secara rasional, meninggal, bukan jaminan film yang bagus. Lagipula masih jadi spekulasi apakah benar Heath meninggal karena terinspirasi Joker. Tapi teman gue begitu yakin pendapatnya masuk akal dan sah. Seolah-olah dalam dirinya telah terbentuk ingatan buatan yang melahirkan pemikiran, membentuk selera tertentu atas dasar rasio dan identitas yang jelas. Padahal mungkin identitas bukanlah hasil pemikiran pribadi, tapi pendapat media sosial sekitar yang kemudian diadopsi jadi opini pribadi.

 

Sebuah identitas dan pemikiran yang menjadikannya (dan gue) bagian dari kerumunan besar, mass culture.. Menjadi berbeda adalah salah dan tidak berpengetahuan. Makanya tak ada satu pun teman gue yang jika ditanya akan menjawab Batman jelek. Barulah jika gue buka kartu bahwa gue sebenarnya tidak mengerti makna dibalik film, beberapa akan ikut mengaku, sebenarnya gue juga kurang ngerti…

 

Padahal, seperti kata para filsuf postmodic yang sering meninggal tragis, tidak mungkin untuk memaksakan satu ideologi sebagai kebenaran dalam masyakarat. Lingkup sosial kita tersusun oleh berbagai jenis identitas dan karakter yang semuanya valid.

 

Setiap orang punya sistem nilai dan pola pikir yang berbeda, yang tidak bisa dieliminasi seenaknya hanya karena sebagian besar tidak berpikir sedemikian adanya. Maka sah-sah saja kalau gue bilang Batman jelek. Gue memang tak mampu menangkap makna film yang dalam itu!

 

Entah mengapa gue tiba-tiba berhasrat buka mulut sekarang. Bagaimanapun juga, di luar Batman, gue suka semua hal yang orang lain bilang bagus. Ibaratnya, biarpun top 40 selalu dikutuk-kutuk karena disebut sebagai hasil manipulasi perusahaan rekaman, mempersulit anak indie untuk didengar, danlainsebagainya, top 40 tetaplah top 40. Lagu-lagu di tangga top 40 tetaplah lagu yang enak dan paling digemari.

 

Kultur pop atau kultur massa atau low culture atau apapun orang menyebutnya ada dan akan selalu ada. Karena memang sesuai dengan selera kebanyakan orang. Atau karena memang mayoritas orang telah dibentuk seleranya sehingga selalu menyukainya.

 

Banyak orang yang suka Batman dengan alasan yang sah dan menyakinkan. Hanya saja, mungkin ada juga segelintir orang norak ga ngerti film seperti gue yang ga suka, ga sehati, dan ga bisa mengidentifikasikan diri dengan film yang dianggap bagus tersebut. Dan kami-pun adalah kisah-kisah yang sama aslinya sama benarnya dan sama bagusnya seperti film Batman.

Jul 08

Ahh..gara-gara pada ngomongin Pemilu, jadi ingin nge-post tulisan ini lagi…

“Loe ntar nyontreng, Gie?”

“Iye”

“Oh ya? Warga negara yang baik ye?” teman menggeleng-gelengkan kepala dengan nada minor

“Ngg..bokap gue ketua RT…”

“Ohh..pantes…Klo ga, ga bakal milih kan, kaek gue?”

“Iya lah…ngapain juga?hahahaha…” gue tertawa palsu.

Sesaat setelah percakapan itu, gue jadi bingung sendiri, kenapa gue harus punya alasan untuk ikut Pemilu? Kenapa kok kesannya memalukan banget masuk daftar DPT?

Selamat datang di era reformasi. Jika 10 tahun lalu orang dipaksa aparat pedesaan untuk memilih partai tertentu, sekarang orang ditekan kelompok sosial untuk tidak memilih.

Gue bukan masyarakat sadar politik yang gemar mencela kaum Golput. Sejujurnya, ketika gue, mamih, dan kakak mendapat tiga lembar surat suara berukuruan raksasa dengan nama-nama yang tidak dikenal, sontak kita langsung berdiskusi dengan suara rendah di bilik suara, macamnya anak SD lagi contek-contekkan saat UAN.

Mamih: “Psst…Kok caleg yang kmaren bagi kalender di RT kita kagak ada si?”

Gue: Iya ya? mungkin bukan dari daerah pemilihan kita

Kakak: Angelina Sondakh juga ga ada!

Mamih: Klo Adjie Massaid?
Gue: Kagak ada juga, emang dari Jakarta?

Kakak: Jadi pilih sapa dong?

Gue: Katanya, pilih caleg perempuan

Mamih: Klo gitu pilih yang cantik ya?

Kakak: jangaann! Klo cantik ntar duit rakyat buat oprasi plastik!

Gue: bener juga, yang ini aja nih, ada DRA-nya, kayaknya berpendidikan

Mamih: jadi yang itu?

Gue: Iya

Kakak: Bener ya? Gue contreng nih…satu..dua..tiga…

Mamih: Udah kecontreng

Gue: Ya udah, kertas berikut…

Wajar saja orang malas mencontreng. Gue saja sempat pingin walk-out saja, seperti siswa yang mendapat soal ujian kelewat sulit sehingga langsung ditinggal pulang. Tapi diluar esensi terpenting sebuah Pemilu (yaitu memberi suara), gue sangat menikmati pengalaman lima tahun sekali itu.

Pemilu di mata gue bukanlah sebuah kewajiban yang memberatkan, dimana karenanya gue harus mempertanyakan kegunaan gue berpartisipasi. Gue juga tidak terlalu sering memusingkan bagaimana satu suara gue itu menentukan nasib rakyat. Atau alasan pasti mengapa gue memilih salah seorang partai.

Pemilu adalah sebuah kenduri besar. Warga RT yang jarang keluar rumah jadi berkumpul. Kami sekeluarga foto-foto di TPS. Si mamih bahkan sudah menyesuaikan pakaian yang dipakai dengan Megawati, lalu berjalan kaki pulang ke rumah supaya makin mirip sama sang mantan presiden. Lebih seru karena semua penduduk ikut menonton penghitungan suara, yang diiringi sorak sorai dan saling ejek antar suporter. Semua ditutup oleh minum Starbuck gratis bersama-sama.

Tidak beda dengan nonton bulu tangkis. Di ajang Indonesia Open kemarin, suporter Indonesia dengan lantang mendukung pasangan ganda putra Korea Selatan yang sedang melawan Cina. Tapi dalam pertandingan berikutnya, ketika ganda putri Malaysia melawan Cina, satu Senayan sontak bersorak CINA!CINA! CINA!

Kita mendukung pasangan Cina, bukan karena kita simpatik pada pemainnya, tapi karena Manohara. Lebih jauh lagi, kita juga tidak paham sepenuhnya krisis Ambalat, atau siapa yang benar dalam kasus Mano. Yang jelas, mencela Malaysia membuat kita merasa punya musuh bersama, membuat yel-yel menjadi lebih meriah dan suporter lebih kompak.

Bahkan lebih…lebih jauh lagi, gue mungkin tidak terlalu peduli akan kekalahan semua pemain Indonesia. Kalau pemain Indonesia menang, tentunya lebih menyenangkan, bisa punya alasan untuk bersorak-sorai lebih lama. Tapi melihat prestasi bulu tangkis Indonesia akhir-akhir ini, ada alasan lain gue tetap berteriak-teriak di pinggir lapangan.

Selain karena berjiwa nasionalis, gue bersorak sorai karena kejuaraan bulu tangkis adalah sebuah pertunjukan. Menang kalah, siapa yang mati siapa yang pingsan, yang penting gue sudah mengisi hari dengan tujuan baik; membela Indonesia, plus mendapat tontonan menarik.

Gue, bagian dari masyarakat gladiator. Yang suka MENONTON, atau menjadikan segala sesuatunya tontonan. Tidak gemar berpikir makna sebenarnya, tidak gemar mengetahui pengorbanan setiap pihak, selama gue bisa terhibur .

Makanya Pemilu pun gue jadikan tontonan. Sebuah acara lima tahunan yang memberi selingan dalam hidup yang ‘begitu-begitu’ saja. Satu kali dalam lima tahun gue bisa ketawa-ketawa mendengar percakapan di angkot:

“Loe pilih Demokrat dong, biar SBY bisa jadi presiden lagi!”

“Kagak mau! Gue mau pilih nomer 31!”
“Yee..loe gimana sih? Klo SBY ga jadi presiden gmana? Kan kasihan?”

“Yee..bodo amat! Pokoknya pilihan gue nomer 31!”
“Payah loe! Buang-buang suara! Pilih Demokrat aja!”
“Hak orang dong mau milih apa! Klo gue mau milih nomer 31 ya biarin aja!”

Tidak peduli keduanya berantem tentang partai yang sebenarnya…sama…Yang penting Satu kali dalam lima tahun, ada topik pembicaraan yang lain dari biasanya…

Tapi sebagai anggota, gue pantang menjelek-jelekan masyarakat spectator. See from the bright side, biarpun jadi sering dikatain nasionalisme lapangan, penonton Indonesia yang heboh itu selalu membuat nyaman para pemain internasional (yang ganteng, dan yang lagi melawan Malaysia). Peter Gade bilang penonton dunia harus mencontoh orang Indonesia. Jadi selain komodo dan kita punya kebanggan baru: suporter olahraga.

Kalau di Pemilu, menjadi golput mungkin adalah tanda kedewasaan berpolitik, menyadari bahwa pilihannya bakal mempengaruhi masa depan berbangsa, dan oleh karenanya jika belum bisa bertanggung jawab atas hak tersebut, memilih untuk tidak memilih.

Tapi juga bisa mengindikasikan bahwa masyarakat penonton sudah berkembang ke arah bentuk yang paling kronis, yang keasyikan nonton sampai tidak mau berpartisipasi sedikitpun. Bahkan terlalu malas untuk bergerak dan menciptakan tontonan buat orang lain. Makanya orang yang ga golput itu sekarang jadi ga asik, mereka pekerja yang mengusahakan hiburan bagi nyonya besar.

Dan gue gak pergi belibur pas liburan PilPres ini. Bukan karena gue nasionalis, tapi semata karena ini adalah pesta, merayakan sebuah hak, menjadi bagian dari hiruk pikuk tetangga. Untungnya, yang jadi presiden pasti orang Indonesia, coba kalau di bulu tangkis, kan deg-degan kalau yang masuk final tak bisa didukung sepenuh hati…

Posting ini juga ada di http://margareta.kompasiana.com

Tagged with: