<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Belajar dan Bermain di 'T.K. Blogging'</title>
	<atom:link href="http://blog.beswandjarum.com/margareta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta</link>
	<description>Margareta Astaman's blog di Beswan Djarum</description>
	<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:32:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersaing dalam Kemacetan</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/10/22/bersaing-dalam-kemacetan/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/10/22/bersaing-dalam-kemacetan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia Pusaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Jalan yang sedang gue lalui saat ini cuma dua jalur, dua arah; jika dilihat dari batas marka jalan bewarna putih yang samar-samar terlihat di balik ban puluhan mobil. Tapi gue berada di jalur ketiga, sedangkan mikrolet yang sarat penumpang itu berada di antara baris keempat dan kelima, atau pertama dan kedua dari arah sebaliknya.
 
Kok bisa?
 
“Orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Jalan yang sedang gue lalui saat ini cuma dua jalur, dua arah; jika dilihat dari batas marka jalan bewarna putih yang samar-samar terlihat di balik ban puluhan mobil. Tapi gue berada di jalur ketiga, sedangkan mikrolet yang sarat penumpang itu berada di antara baris keempat dan kelima, atau pertama dan kedua dari arah sebaliknya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><em><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Kok bisa?</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“Orang Indonesia itu oportunis ya?” gue nyeletuk, sambil meredakan ketegangan dalam mobil.<span>  </span>Gue menunjukkan pemandangan jalan dua jadi lima yang membentang panjang. “Kalau ngantri sudah pasti lama, tapi kalau nyerobot, mungkin bisa lebih cepet, tapi ternyata..yahhh malah bikin tambah macet!”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Lawan bicara yang bertugas sebagai supir hari itu langsung <em>nyureng</em>. “Yang kaya gini nih yang bikin Indonesia gak bisa maju!” cetusnya. <em>Sensitif amat sih, mentang-mentang situ yang nyetir</em>, batin gue dalam hati. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“Iya lah, namanya juga macet, ya nggak bisa maju, kalau lancar, baru mobilnya bisa maju,” gue menjawab ringan, berharap bisa mengganti topik pembicaraan. Tapi lawan bicara punya kehendak lain. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“Dig deeper,” ujarnya. <em>Sudah macet, disuruh mikir</em>, gue kembali membatin.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“Ini bukan masalah ngambil risiko, tapi masalah ga tau aturan, sehingga tidak menaati dan akhirnya berantakan!” lanjut lawan bicara. Gue menghela nafas tertahan. Gue punya feeling,<span>  </span>jalanan benar-benar macet saat ini akan memberi kami begitu banyak waktu untuk membahas kemacetan dan kemajuan&#8230;</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Menurut rekan bicara, ia benar-benar sudah muak dengan kemacetan semacam di jalan ini, karena itu terjadi di aspek hidup orang Indonesia mana saja, akibat manifestasi sifat orang Indonesia yang mutlak dan mengakar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Yaitu: orang Indonesia tidak lahir dengan aturan. Segala hal yang ada di bumi pertiwi ini terlihat acak kadut berantakan sejak tangis bayi pertama. Makanya, sang bayi tidak pernah belajar menaati aturan. Jangankan paham untuk taat; tahu bahwa aturan itu ada atau tidak saja belum tentu! Padahal, tak kenal maka tak sayang. Karena tak pernah tau betapa baiknya guna sebuah aturan, tak pernah ada keinginan untuk menggunakannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Lihat saja jalanan ini. Berapa orang dalam mobil yang mengantri sungguh-sungguh ikut tes mengemudi dan menghafal marka jalan? Mungkin bisa dihitung sebelah jari. Sisanya nembak SIM. Makanya, mereka (ya, termasuk dalam mobil yang<span>  </span>gue tumpangi ini), tidak paham arti marka jalan. Bahwa ini cuma dua jalur, bukan LIMA.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Satu-satunya yang mereka paham adalah jika melanggar marka jalan akan kena kemplang tilang&#8230;kalau ada polisi! Seolah aturan dibuat karena ada polisi. Padahal polisi jumlahnya lebih sedikit dari jumlah jalanan Jakarta. Akibatnya, macet gundah gulana. Seandainya saja mereka paham kegunaan tertib lalu lintas, tentunya akan taat supaya semua bisa sampai di tujuan dengan selamat, baik raga maupun kejiwaan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Dan gaya menyetir dengan kepribadian semacam itu dibawa dalam setiap aspek kehidupan setiap orang Indonesia. Tidak paham jika membeli kaset bajakan itu salah, karena memang tidak pernah tahu aturan hak cipta. Hanya membeli produk software asli karena takut disidak di bandara, bukan karena mengetahui keuntungan menggunakan produk yang sah di mata hukum. Pokoknya setiap perbuatan tidak dikaji atas dasar ketepatan dengan aturan yang berlaku.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Buntutnya, macet dimana-mana. Kredit macet. Pembangunan macet. Pengembangan inovasi macet. Konversi tabung gas macet. Dengan macet-macet dalam setiap jalan hidup akibat ulah manusia tak kenal aturan ini, bagaimana inovasi bisa berkembang? Pembangunan apapun harus difasilitasi, dan itu yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah negeri ini. Semua sibuk berpartisipasi dalam keacak-kadutan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Gue manggut-manggut. Bener juga. Gue teringat sepasang suami istri pemilik usaha sepatu yang ingin bertetangga dengan pabrik tempat bokap gue bekerja. Mereka cinta Indonesia, melihat potensi mendirikan usaha, dan ingin berinvestasi disini, membagi sedikit teknologi yang dikuasai bagi warga negeri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Tapi ternyata Indonesia tak seindah Bali dan tak senikmat sate ayam. Prosedur mendirikan perusahaan di Indonesia begitu berbelit-belit. Aparat negara yang mau dibantu malah minta persenan terlebih dahulu. Akhirnya minggatlah mereka dan menanam modal di Vietnam.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Peraturan membuat usaha, membayar pajak, perlindungan hak cipta hingga pengadaan keamanan nasional seringkali dibuat berputar-putar tak jelas. Bahkan terkadang para penegak hukum dan pencipta aturan juga tidak khatam dengan aturan bikinan sendiri. Membuat bingung, membuat malas ‘kemana-mana’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Kalau sudah begini, siapa yang mau mengembangkan diri? Mau usaha baik-baik saja<span>  </span>harus main ‘jelek’ dulu. Ibaratnya nyetir, yang nyetirnya taat aturan, tidak nyerobot-nyerobot, bakal sampai paling belakang! Memuakkan!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Tapi&#8230;apakah macet dan nyerobot itu selalu jelek?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Gue pernah hidup di sebuah Negara dimana tidak pernah ada kemacetan sedikitpun. Becandaannya, <em>kalau disini mah orang itu ga pernah macet, tapi ngantri di jalan&#8230;</em>Habisnya mobil bisa dirunut ke belakang dalam satu garis lurus, tidak ada yang berusaha ‘memperbaiki nasib’ dengan nyelip di antara dua jalur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Sebuah negara yang begitu teratur, rapi, bersih <em>loh jenawi.</em> Negara yang segala aspek kehidupannya diatur dan diurus oleh pihak berwenang dengan jelas. Nyaris tidak pernah ada pertanyaan di negeri ini. Segalanya telah diatur dan direncanakan sedemikian rupa. Setiap warga paham aturan, hidup berdasarkan aturan, dan tak perlu sibuk ‘mengacau.’</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Begitu teraturnya hingga terkadang gue bertanya, apakah aturan dibuat untuk hidup atau orang diciptakan untuk sekadar memenuhi aturan? Di saat segalanya didefinisikan oleh aturan, ruang untuk kreasi menjadi semakin sempit. Peraturan menjadi ilmu absolut yang menguasai kehidupan, tanpa pernah mempertanyakan sebab keberadaannya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Dalam sebuah proses menciptakan inovasi, kasarnya ada dua tahap. Yang satu adalah tahap ‘mengembangkan’. Menelusuri sebuah ide dan konsep, menjadikannya nyata, dan membuatnya bernilai guna. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Keteraturan sangat menunjang proses ini. Negara yang gue sempat tinggal itu sangat peka terhadap ide yang muncul. Segala sesuatu yang membawa ke arah lebih baik akan difasilitasi, dibuat aturan mainnya, dan dijalankan dengan sempurna.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Tapi jauh sebelum proses yang satu itu, ada proses ‘menemukan’, mendapatkan ide dan konsep, mencetuskan sesuatu dan mengambil risiko untuk gagal dalam ide kasar ini. Ide baru pasti belum dibuat aturannya. Dan karena menuruti aturan adalah absolut, ide yang tidak ada dalam aturan ini bisa saja mati sebelum berkembang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Mengalami hidup di Negara yang begitu teratur mematikan ‘hidup’ gue. Semuanya hidup dalam satu garis lurus, hingga tak dimungkinkan membuat garis memotong yang masih dalam dunia khayal. Meski mungkin saja, garis memotong itu akan jadi trend seperti garis lurus suatu saat nanti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Berbeda dan nyentrik dianggap salah karena tak sesuai aturan yang berlaku. Lambat laun, memang tidak ada keinginan untuk menjadi berbeda. Semuanya didefinisikan dalam garis lurus tadi sehingga tak bisa melihat kehidupan di luar garis. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Membentuk manusia yang sadar dan taat aturan adalah wajib dan perlu. Tidak terbantahkan, negara yang gue tinggali itu merdeka belakangan dari Indonesia, tapi statusnya kini sudah menjadi ‘negara maju’. Pendapatan perkapita tinggi. Perkembangan ilmu teknologi begitu pesat. Tidak ada hal yang mereka inginkan dan tidak bisa mereka kerjakan. Bahkan balap malam-pun bisa mereka buat dengan sukses.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Tapi tinggal dan menjadi bagian dari negeri ini, gue merasakan ada yang hilang. Gue kangen ‘macet’. Ada sesuatu yang estetis dari tumpukkan mobil dalam posisi statis seperti saat ini. Rentetan motor, mikrolet, bajaj, mobil layak uji dan tidak layak uji emisi ini punya nilai seni yang tak bisa dijelaskan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Begitu banyak warna. Begitu banyak suara. Begitu banyak aroma. Begitu banyak bentuk, yang tidak akan muncul dalam sebuah keteraturan. Kesemerawutan ini telah menyemburatkan semangat, gairah, bahkan emosi, yang menandakan adanya kehidupan. </span></span><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Dan hanya manusia yang bisa maju dan membentuk bangsa, bukan robot. Kita masih membutuhkan semangat ‘oportunis’ dan keberanian membangkang aturan untuk mengembangkan diri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">TEEETT!!! Rentetan klakson melemparkan gue kembali ke dunia nyata, membuyarkan utopia macet yang begitu indah. Gue</span></span><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> kini berada di jalur kedua dari SATU jalur seharusnya, dan TIDAK bergerak sedikitpun. Gue menghela nafas panjang. Gue tetap mendukung keberanian &#8216;breaking the rules&#8217; saat aturan sudah tak lagi mendukung tujuannya. Tapi mungkin kita juga harus belajar dari negara tetangga, <em>in order to break the rules, you have to know the rules&#8230;</em></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/10/22/bersaing-dalam-kemacetan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Supir taksi BENAR-BENAR punya cerita</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/09/20/supir-taksi-benar-benar-punya-cerita/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/09/20/supir-taksi-benar-benar-punya-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 13:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nge-blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[“So what is your job?”
“I’m working in the media industry, sir, I’m an editor for a news website.”
“Is it a citizen journalism-kind of thing? Like blogging?”
“Not really, but I do blog as well.”
“That’s good. I think it’s very important to share your life and practicing in expressing yourself. One day I’m going to create my [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“So what is your job?”<br />
“I’m working in the media industry, sir, I’m an editor for a news website.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“Is it a citizen journalism-kind of thing? Like blogging?”<br />
“Not really, but I do blog as well.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“That’s good. I think it’s very important to share your life and practicing in expressing yourself. One day I’m going to create my own blog too.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">“That’s great, sir! I think you’ll have a lot of stories to share from your experience driving a cab”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><em><span lang="EN-GB">Gue melihat nomor ruko yang gue cari ada di sisi kiri </span></em><span lang="EN-GB">jalan “KIRI! KIRI! Ehhh! Sorry, I mean stop here, Sir!”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Demikianlah pertemuan singkat gue dalam taksi butut Singapura. Begitu singkat, tidak lebih dari 3 dolar 45 sen. Dan begitu melompat keluar, gue yang terburu-buru segera lupa pada sang supir taksi berbahasa indah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Beberapa bulan setelah perjalanan pendek itu, seorang supir taksi Singapura benar-benar menulis blog. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, karir blog beliau melambung tinggi. Berita tentang dirinya mewarnai berbagai media di Kota Singa. Tulisannya akan dibukukan awal tahun depan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Gue tidak tahu jika supir taksi istimewa ini adalah orang yang sama yang gue tumpangi beberapa bulan silam. Tapi lepas dari siapa beliau, gue bersyukur seorang supir taksi telah mengambil sebuah awal untuk membagi hal yang menarik perhatiannya dalam sebuah blog. Apa yang ditulis, telah memberi dimensi baru untuk gue dan Singapura, dan gue yakin, si supir sendiri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Blog, mungkin cuma sarana bagi Pak Supir menyalurkan potensinya. Sebelum menjadi blogger, Pak supir memang sudah punya ‘modal’. Ia berkali-kali meraih beasiswa hingga bergelar PhD dari <em>Stanford University</em> dan pernah membuat berbagai riset di pemerintahan Singapura. Gaya bahasanya mudah diikuti, mungkin buah pengalaman menulis tumpukan jurnal akademis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Tapi jika mengandalkan institusi riset, Pak Supir bisa menunggu puluhan tahun hingga perekonomian membaik dan tenaga riset ditambah, agar bisa berkarya dan berkontribusi bagi dunia. Di usia muda, sebagai akibat dari perubahan kebijakan yang tidak sensitif, Pak Supir kehilangan pekerjaannya sebagai <em>researcher</em> bergengsi. Kualifikasi S3 tidak membantunya mencari pekerjaan baru karena bidang yang sangat spesifik dan teoretis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Itulah yang menghantarkan Pak Profesor pada profesi barunya, supir taksi, pekerjaan yang saat itu bisa ia dapatkan dengan mudah. Beliau bisa saja terus konsen menyetir, dan hanya akan menyentuh satu dua penumpang taksi. Tapi Pak Supir nge-blog, menceritakan kisahnya, membuka mata masyarakat tentang system yang tidak sempurna.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><em><span lang="EN-GB">It’s all about getting yourself heard</span></em><span lang="EN-GB">. Dan blog adalah satu cara untuk mengekspresikan diri yang sangat demokratis. Siapa saja bisa nge-blog, termasuk seorang supir taksi, karena blog memberikan kesempatan sama besarnya dengan warga internet lainnya untuk ‘didengar’ oleh masyarakat luas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Lagipula kekuatan terbesar blog adalah sifatnya yang sangat personal. Sifat dasar blog adalah sebagai hasil ekspresi sebuah <strong>pribadi</strong>, atas kebutuhan <strong>individu</strong> untuk berbagi, tentang ketertarikan <span> </span>atau segala isu yang menjadi perhatian sang blogger itu <strong>sendiri</strong>. Karena setiap orang selalu dilahirkan dengan ketertarikan akan sesuatu, setiap orang, berpotensi membuat blog yang bermanfaat, termasuk Pak Supir, termasuk kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Dan jika memang blog adalah medium yang dipilih, tahap selanjutnya adalah membuat kita semakin ‘didengar’. Membuat hal yang jadi perhatian kita semakin jadi perhatian masyarakat luas agar dapat terjadi perubahan. Aktif dalam pelbagai kegiatan blog termasuk Lomba Blogging, adalah salah satunya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><span> </span>Lewat lomba blog, kita ‘memaksa’ setidaknya beberapa orang lain (setidaknya para juri), untuk mendengarkan uneg-uneg kita dalam tulisan. Membiarkan apa yang jadi perhatian kita, mendapat kesempatan diketahui oleh masyarakat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Karena tujuannya adalah untuk membagi apa yang penting bagi kita, posting dalam lomba blog bisa saja segala hal yang memang selalu jadi perhatian dan dekat dengan kita. Tema bisa dilihat dari berbagai dimensi dan diartikan secara luas. Bahkan kisah si Pak Profesor yang jadi Pak Supir-pun, bisa saja menceritakan tentang daya saing bangsa, karena Pak Profesor terpaksa menyupir karena didepak <em>‘foreign talent’.</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB">Dalam posting pertama gue di blog beswan, <a href="http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/02/supir-taksi-punya-cerita/"><span style="color: #0000ff">‘Supir taksi punya cerita’</span></a>? <span> </span>gue mengutarakan kekhawatiran jika para supir taksi dunia mulai nge-blog. Pastinya blogger-blogger lainnya bakal dicap kurang professional lantaran harus berbanding dengan para supir taksi yang punya terlalu banyak cerita menarik untuk di-post.</span></p>
<p></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.25in"><span lang="EN-GB"><span style="font-family: Calibri;font-size: small">Sudah jelas, kekhawatiran gue itu menjadi kenyataan. Tapi masih ada harapan! Pak Supir bukan alumni beswan dan tidak akan ikut lomba blog nanti. Itu berarti kesempatan menyetarakan diri dalam hal meraih perhatian masyarakat dan membuat perubahan masih terbuka lebar. Makanya, ayoo..tancap gas, langsung kebut daftarkan blog!</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/09/20/supir-taksi-benar-benar-punya-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Batman Returns a.k.a&#8230;Balik lagi ngomongin Batman</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/08/03/batman-returns-akabalik-lagi-ngomongin-batman/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/08/03/batman-returns-akabalik-lagi-ngomongin-batman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 15:01:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/08/03/batman-returns-akabalik-lagi-ngomongin-batman/</guid>
		<description><![CDATA[Gue punya sebuah rahasia. Gue telah memendamnya setahun setelah kejadian berlalu dan gue akan membongkarnya secara umum sekarang:
Gue benci Batman
Cuma Batman doang, kok baru berani ngomong sekarang&#8230;Tapi dalam paragraph pertama pun gue yakin ada yang mulai kurang seneng. Coba bayangkan sanksi sosial yang bakal gue terima jika gue menyatakan ini tahun lalu, ketika film ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left">Gue punya sebuah rahasia. Gue telah memendamnya setahun setelah kejadian berlalu dan gue akan membongkarnya secara umum sekarang:</p>
<p style="text-align: center">Gue benci Batman</p>
<p><em>Cuma Batman doang, kok baru berani ngomong sekarang&#8230;</em>Tapi dalam paragraph pertama pun gue yakin ada yang mulai kurang seneng. Coba bayangkan sanksi sosial yang bakal gue terima jika gue menyatakan ini tahun lalu, ketika film ini baru pertama kali rilis.</p>
<p> </p>
<p>Editor MSN Singapura waktu itu bahkan pernah mengatakan, cuma orang yang gak ngerti film saja yang akan bilang film <em>The Dark Knight</em> itu jelek. Macamnya cuma orang pintar yang minum jamu tertentu. Gengsi dibilang buta film, gue terpaksa setuju membuat review bintang 5 untuk Batman.</p>
<p> </p>
<p>Suer. Pada awalnya gue pun bersemangat tanpa pesimisme sedikitpun menyambut film Batman yang dipuja-puja bangsa itu. Gue ingat bersusah payah mendapatkan tiket di hari pertama pemutaran, berhasil menemukannya hanya di sebuah bioskop tua dengan toilet berlampu berdengung di sudut Singapura, karena bioskop top sudah fully booked dari dua minggu sebelumnya. Gue melihat seluruh bioskop juga muncul dengan wajah penuh harap, dan berkata pada diri sendiri, Kayaknya oke nih!</p>
<p> </p>
<p>Dua jam 32 menit berlalu. Dan gue melihat bioskop kini dipenuhi oleh wajah orang-orang yang lemas dan bingung. Bukan lemas karena habis begitu tegang nonton. Bingung bukan karena sedang memikirkan arti film yang dalam. Tapi semacam lemas karena ngantuk dan bingung hilang arah, tak mengerti, tak menikmati.</p>
<p> </p>
<p>Tapi begitu keesokan harinya film tersebut dibahas di koran nasional, cuma ada sanjungan dan pujian. <em>Film ini ga seperti film superhero dangkal pada umumnya. Karakter Batmannya dapet banget. Jokernya bikin gue ga bisa tidur. Efeknya ga murahan&#8230;.</em> Dan segenap dukungan lain, baik dari insan film maupun bukan, yang sudah nonton maupun belum. Bahkan orang-orang dalam bioskop yang berwajah bingung tadi kini berbalik mendukung film tersebut.</p>
<p> </p>
<p>Ini adalah pertama kalinya selera gue bertentangan dengan selera pasar. Sungguhlah gue orang yang mudah dibodoh-bodohi. Gue suka semua film <em>box-office</em>. Gemar menyanyi-nyanyi lagu-lagu <em>top 40.</em> Nekad bolos pramuka saat ABG supaya tidak ketinggalan<em> MTV Asia Hit List.</em></p>
<p> </p>
<p>Sebagai bagian dari masyarakat banyak dan umum ini, gue selalu percaya bahwa lagu, film, mode disebut bagus karena memang semua orang menyukainya dan dilegitimasi oleh mereka yang memang ‘ahli’ pada bidangnya. Barulah di saat gue harus melawan opini massa, timbul pertanyaan, memangnya siapa yang punya hak untuk menentukan sebuah hasil kebudayaan sebagai bagus dan tidak, buat gue?</p>
<p> </p>
<p>Tentunya ada orang film senior, sutradara ngetop dan ahli sinematografis yang mendasarkan pendapatnya atas pengetahuan yang didapat dari pengalaman yang mendalam. Kolom review mereka, cuplikan pendapat mereka atas sebuah film, pastinya merupakan sebuah sumber pembentuk opini yang valid.</p>
<p> </p>
<p>Tapi para tokoh film yang sangat gue hormati itu hanyalah beberapa persen dari materi pembentuk selera gue dan kebanyakan orang lain. Dari sebuah ide tercetus di kepala hingga dikonsumsi masyakarat, hingga direview hingga direproduksi, ada banyak ‘penjaga gawang’ lain yang terlibat.</p>
<p> </p>
<p>Pekerja film menentukan ide yang ingin dibuat film. Penyandang dana memilih film yang ingin disponsori. Organisasi media menentukan film yang tayang, yang direview, yang didukung dan tidak. Kekuatan iklan plus promosi menentukan jangkauan film dan bagaimana orang menerimanya.</p>
<p> </p>
<p>Serta pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu sehingga ketika sampai ke gue, budaya pop bukanlah sesuatu yang objektif. Ada berbagai kepentingan dan cara pandang serta definisi pengetahuan subjektif yang diselipkan dalam setiap produknya.</p>
<p> </p>
<p>Tapi saat itu, gue tidak pernah mempertanyakan keabsahan penilaian sistem ini. Dan jadilah film yang ‘kata orang’ bagus menjadi bagus. Biarpun gue ga tahu siapa ‘orang’ yang berkata demikian, atau yang pertama menyebutnya sebagai bagus. Biarpun gue lupa bertanya kenapa disebut bagus. Biarpun biar gue sudah membaca resensinya dan mereka bilang film itu bagus karena lightingnya keren, gue pun tidak pernah belajar lighting untuk memahami lighting yang bagus. Pokoknya kelihatan bagus.</p>
<p> </p>
<p>Begitu juga jika ditanya apakah film Batman bagus, gue akan menjawab iya, karena semua bilang bagus. <em>Bahkan meskipun menurut gue alurnya lambat. Bahkan meskipun menurut gue banyak latar belakang yang bertele-tele dan tidak diperlukan. Bahkan meskipun menurut gue fokus film jadi kurang berasa dengan kemunculan dua antagonis sekaligus. Bahkan meskipun menurut gue Heath Ledger main bagus tapi ga akan menang Oscar kalau tidak secara posthumous. Bahkan meskipun gue hampir tertidur saat nonton. </em></p>
<p> </p>
<p>Sebaliknya teman gue yang nge-fans Batman-pun tak bisa secara pasti menjelaskan mengapa menurutnya Batman bagus.<br />
“Batman bagusnya dimana sih?”<br />
“Hmm..Jokernya keren.”<br />
“Iya, kerennya dimana?”<br />
“Yaa..aktingnya keren aja,”<br />
“Coba, bagian mana yang paling keren?”<br />
“HEATH LEDGER MATI GARA-GARA JADI JOKER TAU GA SIH LOE?!”</p>
<p> </p>
<p>Secara rasional, meninggal, bukan jaminan film yang bagus. Lagipula masih jadi spekulasi apakah benar Heath meninggal karena terinspirasi Joker. Tapi teman gue begitu yakin pendapatnya masuk akal dan sah. Seolah-olah dalam dirinya telah terbentuk ingatan buatan yang melahirkan pemikiran, membentuk selera tertentu atas dasar rasio dan identitas yang jelas. Padahal mungkin identitas bukanlah hasil pemikiran pribadi, tapi pendapat media sosial sekitar yang kemudian diadopsi jadi opini pribadi.</p>
<p> </p>
<p>Sebuah identitas dan pemikiran yang menjadikannya (dan gue) bagian dari kerumunan besar, <em>mass culture</em>.. Menjadi berbeda adalah salah dan tidak berpengetahuan. Makanya tak ada satu pun teman gue yang jika ditanya akan menjawab Batman jelek. Barulah jika gue buka kartu bahwa gue sebenarnya tidak mengerti makna dibalik film, beberapa akan ikut mengaku, sebenarnya gue juga kurang ngerti&#8230;</p>
<p> </p>
<p>Padahal, seperti kata para filsuf <em>postmodic</em> yang sering meninggal tragis, tidak mungkin untuk memaksakan satu ideologi sebagai kebenaran dalam masyakarat. Lingkup sosial kita tersusun oleh berbagai jenis identitas dan karakter yang semuanya valid.</p>
<p> </p>
<p>Setiap orang punya sistem nilai dan pola pikir yang berbeda, yang tidak bisa dieliminasi seenaknya hanya karena sebagian besar tidak berpikir sedemikian adanya. Maka sah-sah saja kalau gue bilang Batman jelek. Gue memang tak mampu menangkap makna film yang dalam itu!</p>
<p> </p>
<p>Entah mengapa gue tiba-tiba berhasrat buka mulut sekarang. Bagaimanapun juga, di luar Batman, gue suka semua hal yang orang lain bilang bagus. Ibaratnya, biarpun <em>top 40</em> selalu dikutuk-kutuk karena disebut sebagai hasil manipulasi perusahaan rekaman, mempersulit anak indie untuk didengar, danlainsebagainya,<em> top 40</em> tetaplah <em>top 40</em>. Lagu-lagu di tangga <em>top 40</em> tetaplah lagu yang enak dan paling digemari.</p>
<p> </p>
<p>Kultur pop atau kultur massa atau low culture atau apapun orang menyebutnya ada dan akan selalu ada. Karena memang sesuai dengan selera kebanyakan orang. Atau karena memang mayoritas orang telah dibentuk seleranya sehingga selalu menyukainya.</p>
<p> </p>
<p>Banyak orang yang suka Batman dengan alasan yang sah dan menyakinkan. Hanya saja, mungkin ada juga segelintir orang norak ga ngerti film seperti gue yang ga suka, ga sehati, dan ga bisa mengidentifikasikan diri dengan film yang dianggap bagus tersebut. Dan kami-pun adalah kisah-kisah yang sama aslinya sama benarnya dan sama bagusnya seperti film Batman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/08/03/batman-returns-akabalik-lagi-ngomongin-batman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton Pemilu</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/07/08/nonton-pemilu/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/07/08/nonton-pemilu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 15:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<category><![CDATA[Belajar politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/07/08/nonton-pemilu/</guid>
		<description><![CDATA[Ahh..gara-gara pada ngomongin Pemilu, jadi ingin nge-post tulisan ini lagi&#8230;
“Loe ntar nyontreng, Gie?”
“Iye”
“Oh ya? Warga negara yang baik ye?” teman menggeleng-gelengkan kepala dengan nada minor
“Ngg..bokap gue ketua RT…”
“Ohh..pantes…Klo ga, ga bakal milih kan, kaek gue?”
“Iya lah…ngapain juga?hahahaha…” gue tertawa palsu.
Sesaat setelah percakapan itu, gue jadi bingung sendiri, kenapa gue harus punya alasan untuk ikut Pemilu? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ahh..gara-gara pada ngomongin Pemilu, jadi ingin nge-post tulisan ini lagi&#8230;</p>
<p>“Loe ntar nyontreng, Gie?”</p>
<p>“Iye”</p>
<p>“Oh ya? Warga negara yang baik ye?” teman menggeleng-gelengkan kepala dengan nada minor</p>
<p>“Ngg..bokap gue ketua RT…”</p>
<p>“Ohh..pantes…Klo ga, ga bakal milih kan, kaek gue?”</p>
<p>“Iya lah…ngapain juga?hahahaha…” gue tertawa palsu.</p>
<p>Sesaat setelah percakapan itu, gue jadi bingung sendiri, kenapa gue harus punya alasan untuk ikut Pemilu? Kenapa kok kesannya memalukan banget masuk daftar DPT?</p>
<p>Selamat datang di era reformasi. Jika 10 tahun lalu orang dipaksa aparat pedesaan untuk memilih partai tertentu, sekarang orang ditekan kelompok sosial untuk tidak memilih.</p>
<p>Gue bukan masyarakat sadar politik yang gemar mencela kaum Golput. Sejujurnya, ketika gue, mamih, dan kakak mendapat tiga lembar surat suara berukuruan raksasa dengan nama-nama yang tidak dikenal, sontak kita langsung berdiskusi dengan suara rendah di bilik suara, macamnya anak SD lagi contek-contekkan saat UAN.</p>
<p>Mamih: “Psst…Kok caleg yang kmaren bagi kalender di RT kita kagak ada si?”</p>
<p>Gue: Iya ya? mungkin bukan dari daerah pemilihan kita</p>
<p>Kakak: Angelina Sondakh juga ga ada!</p>
<p>Mamih: Klo Adjie Massaid?<br />
Gue: Kagak ada juga, emang dari Jakarta?</p>
<p>Kakak: Jadi pilih sapa dong?</p>
<p>Gue: Katanya, pilih caleg perempuan</p>
<p>Mamih: Klo gitu pilih yang cantik ya?</p>
<p>Kakak: jangaann! Klo cantik ntar duit rakyat buat oprasi plastik!</p>
<p>Gue: bener juga, yang ini aja nih, ada DRA-nya, kayaknya berpendidikan</p>
<p>Mamih: jadi yang itu?</p>
<p>Gue: Iya</p>
<p>Kakak: Bener ya? Gue contreng nih…satu..dua..tiga…</p>
<p>Mamih: Udah kecontreng</p>
<p>Gue: Ya udah, kertas berikut…</p>
<p>Wajar saja orang malas mencontreng. Gue saja sempat pingin walk-out saja, seperti siswa yang mendapat soal ujian kelewat sulit sehingga langsung ditinggal pulang. Tapi diluar esensi terpenting sebuah Pemilu (yaitu memberi suara), gue sangat menikmati pengalaman lima tahun sekali itu.</p>
<p>Pemilu di mata gue bukanlah sebuah kewajiban yang memberatkan, dimana karenanya gue harus mempertanyakan kegunaan gue berpartisipasi. Gue juga tidak terlalu sering memusingkan bagaimana satu suara gue itu menentukan nasib rakyat. Atau alasan pasti mengapa gue memilih salah seorang partai.</p>
<p>Pemilu adalah sebuah kenduri besar. Warga RT yang jarang keluar rumah jadi berkumpul. Kami sekeluarga foto-foto di TPS. Si mamih bahkan sudah menyesuaikan pakaian yang dipakai dengan Megawati, lalu berjalan kaki pulang ke rumah supaya makin mirip sama sang mantan presiden. Lebih seru karena semua penduduk ikut menonton penghitungan suara, yang diiringi sorak sorai dan saling ejek antar suporter. Semua ditutup oleh minum Starbuck gratis bersama-sama.</p>
<p>Tidak beda dengan nonton bulu tangkis. Di ajang Indonesia Open kemarin, suporter Indonesia dengan lantang mendukung pasangan ganda putra Korea Selatan yang sedang melawan Cina. Tapi dalam pertandingan berikutnya, ketika ganda putri Malaysia melawan Cina, satu Senayan sontak bersorak CINA!CINA! CINA!</p>
<p>Kita mendukung pasangan Cina, bukan karena kita simpatik pada pemainnya, tapi karena Manohara. Lebih jauh lagi, kita juga tidak paham sepenuhnya krisis Ambalat, atau siapa yang benar dalam kasus Mano. Yang jelas, mencela Malaysia membuat kita merasa punya musuh bersama, membuat yel-yel menjadi lebih meriah dan suporter lebih kompak.</p>
<p>Bahkan lebih…lebih jauh lagi, gue mungkin tidak terlalu peduli akan kekalahan semua pemain Indonesia. Kalau pemain Indonesia menang, tentunya lebih menyenangkan, bisa punya alasan untuk bersorak-sorai lebih lama. Tapi melihat prestasi bulu tangkis Indonesia akhir-akhir ini, ada alasan lain gue tetap berteriak-teriak di pinggir lapangan.</p>
<p>Selain karena berjiwa nasionalis, gue bersorak sorai karena kejuaraan bulu tangkis adalah sebuah pertunjukan. Menang kalah, siapa yang mati siapa yang pingsan, yang penting gue sudah mengisi hari dengan tujuan baik; membela Indonesia, plus mendapat tontonan menarik.</p>
<p>Gue, bagian dari masyarakat gladiator. Yang suka MENONTON, atau menjadikan segala sesuatunya tontonan. Tidak gemar berpikir makna sebenarnya, tidak gemar mengetahui pengorbanan setiap pihak, selama gue bisa terhibur .</p>
<p>Makanya Pemilu pun gue jadikan tontonan. Sebuah acara lima tahunan yang memberi selingan dalam hidup yang ‘begitu-begitu’ saja. Satu kali dalam lima tahun gue bisa ketawa-ketawa mendengar percakapan di angkot:</p>
<p>“Loe pilih Demokrat dong, biar SBY bisa jadi presiden lagi!”</p>
<p>“Kagak mau! Gue mau pilih nomer 31!”<br />
“Yee..loe gimana sih? Klo SBY ga jadi presiden gmana? Kan kasihan?”</p>
<p>“Yee..bodo amat! Pokoknya pilihan gue nomer 31!”<br />
“Payah loe! Buang-buang suara! Pilih Demokrat aja!”<br />
“Hak orang dong mau milih apa! Klo gue mau milih nomer 31 ya biarin aja!”</p>
<p>Tidak peduli keduanya berantem tentang partai yang sebenarnya…sama…Yang penting Satu kali dalam lima tahun, ada topik pembicaraan yang lain dari biasanya…</p>
<p>Tapi sebagai anggota, gue pantang menjelek-jelekan masyarakat spectator. See from the bright side, biarpun jadi sering dikatain nasionalisme lapangan, penonton Indonesia yang heboh itu selalu membuat nyaman para pemain internasional (yang ganteng, dan yang lagi melawan Malaysia). Peter Gade bilang penonton dunia harus mencontoh orang Indonesia. Jadi selain komodo dan kita punya kebanggan baru: suporter olahraga.</p>
<p>Kalau di Pemilu, menjadi golput mungkin adalah tanda kedewasaan berpolitik, menyadari bahwa pilihannya bakal mempengaruhi masa depan berbangsa, dan oleh karenanya jika belum bisa bertanggung jawab atas hak tersebut, memilih untuk tidak memilih.</p>
<p>Tapi juga bisa mengindikasikan bahwa masyarakat penonton sudah berkembang ke arah bentuk yang paling kronis, yang keasyikan nonton sampai tidak mau berpartisipasi sedikitpun. Bahkan terlalu malas untuk bergerak dan menciptakan tontonan buat orang lain. Makanya orang yang ga golput itu sekarang jadi ga asik, mereka pekerja yang mengusahakan hiburan bagi nyonya besar.</p>
<p>Dan gue gak pergi belibur pas liburan PilPres ini. Bukan karena gue nasionalis, tapi semata karena ini adalah pesta, merayakan sebuah hak, menjadi bagian dari hiruk pikuk tetangga. Untungnya, yang jadi presiden pasti orang Indonesia, coba kalau di bulu tangkis, kan deg-degan kalau yang masuk final tak bisa didukung sepenuh hati…</p>
<p>Posting ini juga ada di http://margareta.kompasiana.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/07/08/nonton-pemilu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>THE ULTIMATE GUIDE OF BEING&#8230;</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/26/the-ultimate-guide-of-being/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/26/the-ultimate-guide-of-being/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 14:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nge-blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Seorang penulis novel popular pernah menyarankan ‘Bagaimana menjadi penulis fiksi yang baik.’ Salah satu idenya adalah: hindari menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ini tidak akan bertahan lama. Anda akan menulis satu buku yang sangat booming tapi kemudian tidak mampu menulis novel berikutnya. 
 
Ada seorang penulis lain. Secara lugas dan utuh, ia mengadopsi dirinya dalam novel fiksinya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Seorang penulis novel popular pernah menyarankan ‘Bagaimana menjadi penulis fiksi yang baik.’ Salah satu idenya adalah: hindari menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ini tidak akan bertahan lama. Anda akan menulis satu buku yang sangat <em>booming</em> tapi kemudian tidak mampu menulis novel berikutnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Ada seorang penulis lain. Secara lugas dan utuh, ia mengadopsi dirinya dalam novel fiksinya. Pemeran utama dalam novel tersebut adalah seorang mantan Jesuit yang berjiwa petualang dan mendalami ilmu gaib. Secara menyeluruh ia menuangkan apa yang telah ia pelajari di kimia dalam buku tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Si pengarang ini kemudian menulis buku baru, tentang seseorang yang hidup dalam kehampaan dan mencari makna hidup. Buku berikutnya, adalah tentang seseorang yang mencari makna hidup hingga ke gurun pasir, dibumbui pencarian malaikat dan peristiwa mujizat. Jika melihat biografi hidupnya, sangat jelas bahwa banyak dari buku-bukunya bersumber dari diri si pengarang itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Pengarang ini bernama Paulo Coelho, penulis <em>the Alchemist</em>, dan hampir semua buku-bukunya menjadi best-seller dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Kalau ditanya yang mana benar, saya mungkin akan bilang: dua-duanya benar. Betapapun berbedanya prinsip mereka, keduanya berhasil menjual begitu banyak <em>copy</em> dari buku mereka masing-masing dan menarik pembaca dari segmen yang spesial. Mungkin jika penulis pertama pakai metode ala Paulo yang diimpor dari Brazil, novel dan filmnya ga bakalan sesukses sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dan setiap kali saya memberi workshop tentang blogging, dan menulis, saya selalu teringat dua penulis ini. Sangat mudah bagi seorang pembicara, nara sumber, dan sejenisnya untuk terjerumus dalam pemaparan ‘The Ultimate Guide of How to be a Good&#8230;”Padahal, saya bukan orang yang 100% percaya buku, presentasi, atau seminar tentang, “How to be a good&#8230;.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dari sekian banyak orang yang membaca buku kiat sukses ala Starbucks, cuma ada satu Starbucks di dunia ini. Sedangkan coffee shop kenamaan lainnya bikin resep sukses sendiri, yang bisa sangat beda dengan Starbucks, membuat saya meragukan kemanjuran guide “how to be a good&#8230;” tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Inget si panda gendut dalam film Kungfu Panda? Resep training yang sudah teruji perguruan silat ternama ternyata ga klop sama Po. Tapi pas dilatih dengan metode khusus untuk satu murid, Po bisa jadi jagoan kungfu. Karena <em>there’s no secret ingredient!</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Manusia itu kan diciptakan beda-beda yah&#8230; Bakatnya..gayanya..pribadinya..semuanya bervariasi. Oleh karena itu, saya ngerasa ga bakalan ada <em>one-size-fits-all</em> rule yang bisa menjamin kesuksesan semua orang. Masing-masing bakal punya resep sukses sendiri dan si factor X, yang bikin tiap orang <em>beda</em> itulah yang harus dieksploitasi supaya menonjol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Ayu Utami memang penulis handal. Tapi alangkah membosankannya jika seluruh penulis Indonesia mengarang dengan satu bahasa yang sama dengan topik yang sama juga. Bisa-bisa toko buku jadi ga seru lagi. Justru karena ada orang lain yang menulis novel roman picisan yang memberi variasi dalam dunia sastra&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Ga bisa dipungkiri, banyak banget buku-buku <em>guide of how to&#8230;</em> itu yang telah menginspirasikan banyak orang. Dengan mengkombinasikan unsur yang pas dari berbagai buku, kadang seseorang berhasil menemukan gayanya sendiri yang bikin sukses beratz. Belajar dan menyimak pengalaman orang lain adalah cara hemat dan murah untuk belajar daripada harus mengalami sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Tapi apapun yang dituliskan, atau diomongkan, akan selalu ada satu hal yang tidak bisa diajarkan: Tentang menjadi diri sendiri. Tentang menemukan hal yang paling menarik dan paling nyaman untuk diri sendiri dan menggunakannya sebagai kekuatan kita.<em></em></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/26/the-ultimate-guide-of-being/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi tanpa Mimpi</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/02/generasi-tanpa-mimpi-2/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/02/generasi-tanpa-mimpi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 14:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/02/generasi-tanpa-mimpi-2/</guid>
		<description><![CDATA[Apa hubungannya film Laskar Pelangi dan Soulnation? Engga ada. Kecuali bahwa gue menonton yang satu setelah yang satunya lagi. Dan dengan menonton secara berurutan membuat gue mengambil hipotesis tentang mimpi: Yang meraih mimpi dan difilmkan itu adalah anak-anak di Laskar Pelangi, bukan yang nonton Soulnation.
 
Ini membuat gue sedih.
Pas nonton Laskar Pelangi, sebagaimana penonton yang baik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa hubungannya film Laskar Pelangi dan Soulnation? Engga ada. Kecuali bahwa gue menonton yang satu setelah yang satunya lagi. Dan dengan menonton secara berurutan membuat gue mengambil hipotesis tentang mimpi: Yang meraih mimpi dan difilmkan itu adalah anak-anak di Laskar Pelangi, bukan yang nonton Soulnation.</p>
<p> </p>
<p>Ini membuat gue sedih.</p>
<p>Pas nonton Laskar Pelangi, sebagaimana penonton yang baik, emosi gue mendukung sepenuhnya perjuangan anak-anak SD Muhamadiyah yang jadi protagonis. Tapi dalam hati, gue jadi gelisah mempertanyakan, mengapa ga ada anak SD PN timah yang jadi ngetop? Apa yang salah dengan system pendidikan yang dianggap ‘bagus’?</p>
<p> </p>
<p>Maklum, demografi gue lebih mendekati penonton Soulnation daripada anak-anak Laskar Pelangi. Kalau gue boleh menempatkan diri dalam film tersebut, gue ga bakal jadi pemeran utama. Gue bakal jadi anak-anak SD PN Timah yang kalah cerdas cermat.</p>
<p> </p>
<p>Sejak kecil gue, dan sebagian rakyat kelas menengah kota besar di Indonesia, bersekolah di sekolah yang ‘lumayanan’. Biarpun bukan termasuk SD unggulan, juga tidak pake AC dan berbahasa pengantar Inggris, setidaknya sekolah gue memiliki fasilitas yang cukup, dan muridnya pakai seragam yang bersih.</p>
<p> </p>
<p>Teorinya, dengan fasilitas yang lebih baik dan guru-guru yang lebih banyak, gue atau teman-teman gue harusnya uda ada yang jadi ‘something’. Tapi nyatanya, disinilah gue, menulis blog dan bukan menulis bestseller; temen gue jadi pegawai kantoran bergaji 2 juta. Singkatnya, nasib kami tidak lebih baik daripada anak dari dusun terpencil yang rajin belajar lalu jadi juara Olympiade Fisika. Padahal, sperti sebuah pesan moril, jika dengan pendidikan yang minim aja seorang anak bisa meraih beasiswa, apalagi gue yang dididik oleh bukan Cuma satu tapi banyak guru yang berdedikasi tinggi. Harusnya beasiswa gue 200%.</p>
<p> </p>
<p>Gue lalu melakukan flashback ke 12 tahun silam, mencari apa yang salah dengan gue, dan menemukan&#8230;bahwa&#8230;Gue bisa aja mendapatkan apa yang gue cita-citakan dengan modal yang ada, tapi&#8230;gue ga akan meraih yang lebih dari teman-teman gue di SD daerah yg kecil karena&#8230;gue emang ga pernah mengharapkan lebih dari apa yang mereka cita-citakan.</p>
<p> </p>
<p>Ketika anak-anak itu bermimpi jadi dokter, gue juga Cuma bermimpi jadi dokter saja. Bukan dokter yang menemukan vaksinasi baru atau mendirikan rumah sakit sendiri. Ketika mereka mimpi jadi insinyur, gue juga Cuma mimpi jadi insinyur, saja, titik. Bukan insinyur yang bikin bangunan bisa jalan sendiri.</p>
<p> </p>
<p>Bedanya, untuk mereka, menjadi dokter itu mimpi, sedangkan buat gue, semua cita-cita itu rencana. Ketika seseorang dari daerah pelosok Papua ingin menjadi dokter, ada begitu banyak halangan yang muncul. Membayangkan si anak ini meneruskan sekolah sampai SMA lalu lulus seleksi kedokteran UI adalah kisah 1 banding 1000. Karena segala kemustahilan inilah maka keinginan menjadi dokter itu tepat disebut mimpi.</p>
<p> </p>
<p>Tapi adalah wajar bagi seorang anak lulusan sekolah terbaik di Indonesia untuk masuk fakultas kedokteran dan jadi spesialis. Segala tahap-tahap pendidikan telah dipersiapkan ke arah sana. Semuanya dalam batas jangkauan tangan manusia. Uang, fasilitas, kemampuan memang ada. Makanya cita-cita ini lebih mirip rencana daripada mimpi. Jadi&#8230;gue ga bisa meraih mimpi karena gue emang ga pernah mimpi!</p>
<p> </p>
<p>Gue lalu bertanya-tanya, kok bisa sih gue ga punya mimpi? Sebagai anak muda jaman sekarang, tentunya gue kurang suka menyalahkan diri sendiri. Ini pasti salah sistemnya! Semua sekolah memang mengajarkan kita untuk menggantung cita-cita setinggi langit, tapi dalam prakteknya, seringkali Cuma jadi jargon semata.</p>
<p> </p>
<p>Gue inget pertama kali punya cita-cita. Gara-gara suka banget Lima Sekawan, gue bercita-cita jadi Enyd Blyton, penulis kawakan yg dikenal seluruh dunia. Tapi terus gue masuk SD dan belajar bahwa menjadi penulis itu adalah profesi yang non-profit banget. Idealis dan anti kemapanan.</p>
<p> </p>
<p>Lalu gue pun mengganti cita-cita gue jadi: PENGUSAHA. Ternyata setelah mengeyam pendidikan 6 taon, gue menyadari bahwa Cuma 1 banding 1000 yang bisa jadi pengusaha sukses, sisanya bangkrut. Yang satu itu pun biasanya turunan Lim Siew Liong atau Mochtar Riyadi. Menyadari latar belakang keluarga yang ga punya perusahaan untuk diwariskan, dan kemampuan dagang yg kurang Cina, gue kembali menegosiasikan cita-cita gue&#8230;jadi insinyur aja deh! Gampang! Pasti kesampean asal bisa masuk IPA!</p>
<p> </p>
<p>Mungkin kondisi inilah yang membedakan gue dengan anak-anak didikan Ibu Muslimah. Meski tanpa sumber daya, ga pernah si ibu guru meremehkan anak muridnya sendiri. Mereka dipacu to dream the impossible, dan menghargai kemampuan diri.</p>
<p> </p>
<p>Sedangkan pendidikan gue banyak tapi-nya&#8230;gantungkan cita-cita setinggi bintang&#8230;TAPI&#8230;jangan lupa realitas&#8230;kamu itu biasa ajah&#8230;atao&#8230;cita-cita sih boleh, tapi jaman gini mana bisa klo ga punya duit&#8230;atau&#8230;Makin tinggi pohon jatuhnya makin sakit loh&#8230;kalau gagal masa uda diskolahin cape-cape mentok disitu?</p>
<p> </p>
<p>Bukan Cuma dari system pendidikan, hidup gue juga mungkin ga dikondisikan untuk berani ngimpi. Liat aja Soulnation. Humphh&#8230;biasanya mungkin gue ga akan mikir gitu, secara, kemungkinan besar gue akan jadi bagian dari yang nonton, dandan all-out dan ajojing dengan teman-teman.</p>
<p> </p>
<p>Tapi hari itu gue bukan si ibu editor yang slalu pake blazer dan stiletto matching. Gue lagi jadi si janda miskin dan anak terlantar: Wartawan kumal yang masuk gratis. Dengan spatu teplek dan muka keringetan, gue bgitu kontras dengan penonton Ashanti. Gue lebih cocok berada di luar; bersama dengan calo karcis dan preman parkiran.</p>
<p> </p>
<p>Dan melihat kaum gue yang kini bersebrangan dengan gue itu&#8230;gue bercermin&#8230;alangkah menyenangkannya hidup gue! Mampu membayar 500ribu rupiah untuk semalam penuh gemerlap, tata cahaya dan sound system&#8230;Mata dimanjakan si montok Ashanti&#8230;dancers yang asoy geboy&#8230;Why would I want to dream if I live in a dream? Ain’t it way too risky to pursue a dream and find myself stuck in a condition way below what I had before?</p>
<p> </p>
<p>Life has been too easy for me. Dengan fasilitas yang tersedia, gue hidup di tengah sajian mimpi yang melenakan gue dan membuat gue lupa untuk mikirin mimpi gue sendiri. Gue ga tau yang lain, kalau gue sih akhirnya jadi ‘males’ mimpi macem-macem. Daripada kehilangan idup yang cukup menyenangkan ini, mending ga usa neko-neko mempertaruhkan segalanya demi meraih cita-cita.</p>
<p> </p>
<p>Sedangkan buat orang-orang yang kondisinya jauh lebih sulit, there’s nothing to lose. Idup yang sekarang uda susah, mau usaha mati-matian, mungkin bisa maju, kalau ga ya uda, ga bisa lebih buruk dari ini. That’s why&#8230;mungkin&#8230;mungkin saja&#8230;justru mereka yang berani mimpi&#8230;</p>
<p> </p>
<p>Tapi&#8230;apa gue sudi tukeran tempat dan menjadi orang yang dididik untuk mimpi dan mewujudkannya?</p>
<p> </p>
<p>Humpphh&#8230;Sedih sih&#8230;but I’m a big city girl.. Pas di Laos banyak temen gue yang bisa menemukan jati diri di tengah komunitas komunis yang ga masuk listrik. Menarik sih, tapi gue lebih menemukan kebahagiaan ketika kabur nyebrang sungai Mekong untuk shopping di Thailand. Gue lahir, hidup dan bernafas dalam music top 40 yang menandakan penjajahan budaya, mall yang mendukung konsumerisme, dan budaya hura-hura hedonisme. Pokoknya semua yang gue cela-cela telah membuat gue ga bisa mimpi, boro-boro mewujudkannya. Tapi itulah hidup gue dan at least, gue mensyukuri apa yang gue miliki sekarang daripada terus berkeluh kesah mencela-cela.</p>
<p> </p>
<p>Lagipula, mengingat cerita kesulitan dan penderitaan di muka bumi ini, rasanya gue ga akan keberatan jika mereka jadi lebih sukses dari gue. They struggle harder, so I guess they deserve it&#8230; J</p>
<p> </p>
<p>nb: tulisan ini telah di-post di blog margarittta.multiply.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/06/02/generasi-tanpa-mimpi-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Indonesia</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 10:43:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesia Pusaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.beswandjarum.com/margareta/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut? 
 
Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><span> </span>Kerajaan Singosari merupakan kerajaan termasyur di masa Hindu Jawa Timur, yang melahirkan generasi raja-raja Jawa, termasuk dalam Kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara, Majapahit. Tapi selain Candi Singosari, peninggalan yang lain macamnya tak pernah eksis.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Pamor Taman Tirta, kolam pemandian putri kerjaan<span>  </span>luntur digerus jaman, kalah dengan ‘Pemandian Ken Dedes’, sebuah kompleks kolam renang mirip <em>waterboom</em> yang laris manis dikunjungi puluhan keluarga. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Gue adalah satu-satunya turis ‘normal’ di taman yang tersembunyi dari jalanan itu. Sisa pengunjung adalah empat orang paranormal, satu orang yang berdiri di bawah pohon beringin sambil ngomong sendiri dan membakar kemenyan, serta dua gadis yang mengharapkan berendam di tempat yang sama bisa membuat mereka setidaknya mendekati rupa Ken Dedes. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Jika bukan untuk minta wangsit, pingin cantik,<span>  </span>mau jadi presiden, atau mau mencuri dan memenggal kepala arca-arca kuno di pinggir kolam sampai botak-botak, gak banyak yang mau bertandang ke Taman Tirta.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Sedangkan Pulau Wisanggeni, lepas pantai Balekambang tempat berdirinya Pura di tengah lautan Hindia, tersembunyi di tengah hutan yang tak tembus matahari. Gue tertipu habis-habisan dengan klaim <em>accessible via public transport</em>. Boro-boro public transport, tanya dulu dong, jalanannya ada nggak? Kecuali jika jalan setapak bolong-bolong maut yang tidak terjangkau sinyal HP dianggap sebagai jalanan&#8230;.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Kenyataan gue tak ingat Singosari dan Balekambang, meski dengan segala kejayaannya dan keelokkannya, berbuntut pertanyaan yang lain: <span> </span>Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Singosari? Sebuah bangsa yang besar dan termasyur tapi kemudian kalah oleh pergerakan jaman dan dilupakan orang? Atau bahkan bernasib seperti Balekambang yang bahkan tak pernah dikenal dan makanya tak pernah diingat?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Ketika mobil gue terhambat arak-arakan Reog Ponorogo di depan muka setelah turun dari Penanjakan Semeru, gue sadar, inilah pertama kalinya gue melihatnya secara nyata. Selain di siaran TV pembukaan PON Jawa Timur tahun 2000, tak pernah terlintas untuk nonton REOG. <em>Mending nonton film India dhe!</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Wajar-wajar saja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kalau cuma warga di atas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog? Sedangkan yang mampu akan butuh hiburan import dan mencari candi sampai ke negara lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Gue kadang berpikir, <em>We’re not a proud nation. </em>Saat gue mau ke Jogja di malam tahun baru kemarin, komentar yang akrab di telinga adalah<em>, ‘Kok turun pangkat, sih?’</em> Seolah Jogja berderajat lebih rendah dari Singapura. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Gue dan teman-teman gue secara sadar dan tak sadar telah merasa tak bangga dengan apa yang dimiliki. Tak menganggap indah kesenian dan alam yang ada. Dan perlahan, mulai melupakan budaya, sejarah dan geografis yang membentuk sebuah konsep bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Gue cemas, Negara Indonesia akan bubar, warisannya diterlantarkan karena diabaikan generasi penerus, sama seperti Singosari yang dilupakan keturunannya. (yaitu kita-kita ini). Gue cemas, wilayah Indonesia akan digerogoti Negara tetangga hingga hilang dari peta dunia seperti Balekambang yang tak punya titik di peta wisata Indonesia, karena warganya tak tahu ujung-ujung negaranya sendiri. Gue cemas, gue akan jadi bagian dari bangsa yang tak dikenal orang, pasti gue-nya lebih tak diingat lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><span lang="EN-GB"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Makanya gue memasang foto-foto dari seputar Malang ini. Supaya ketika saat gue mau berlibur di pantai Thailand, saat akan menguap pas nonton tari tradisional, saat lagi sok-sok mengagungkan Bahasa Inggris, gue ingat, Indonesia. </span></span></p>
<div></div>
<p><span lang="EN-GB"></p>
<div class="mceTemp">

<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/singosari/' title='Candi Singosari'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/singosari-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang21/' title='Pantai Balekambang'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang21-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang31/' title='Balekambang-menuju Wisanggeni'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang31-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang1/' title='Pura Wisanggeni'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang1-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang61/' title='Menuju Wisanggeni'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang61-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang41/' title='Menghadap Laut Selatan'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang41-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang71/' title='Pantai balekambang'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang71-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/balekambang51/' title='balekambang51'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/balekambang51-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/arca-taman-tirta1/' title='Taman Tirta'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/arca-taman-tirta1-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/taman-tirta/' title='Taman Tirta'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/taman-tirta-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/sumberawan/' title='Candi Sumberawan'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/sumberawan-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/setapak-sumberawan/' title='Setapak Sumberawan'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/setapak-sumberawan-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/sawah/' title='Sawah Sumberawan'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/sawah-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/reog/' title='Reog Ponorogo'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/reog-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/musik-reog/' title='Musik Reog'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/musik-reog-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/kuda-lumping/' title='Atraksi Kuda Lumping mengiringi Reog Ponorogo'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/kuda-lumping-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/kesurupanm/' title='Kuda Lumping Reog Ponorog'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/kesurupanm-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/gendang1/' title='Pengiring Kuda Lumping Reog Ponorogo'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/gendang1-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/grebek-sewu1/' title='Bukan Bali'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/grebek-sewu1-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/grebek-sewu4/' title='Upacara Adat Suku Tengger'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/grebek-sewu4-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/grebek-sewu3/' title='Namanya apa ya?'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/grebek-sewu3-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/grebek-sewu2/' title='Peserta upacara adat'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/grebek-sewu2-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/bromo/' title='Bromo'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/bromo-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
<a href='http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/semeru/' title='Bromo dibalik gunung'><img src="http://blog.beswandjarum.com/margareta/files/2009/05/semeru-150x150.jpg" width="150" height="150" class="attachment-thumbnail" alt="" /></a>
</div>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/18/mengingat-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Supir Taksi Punya Cerita&#8230;.kalau kamu?</title>
		<link>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/02/supir-taksi-punya-cerita/</link>
		<comments>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/02/supir-taksi-punya-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 10:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>margareta</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nge-blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Butuh teman? Kesepian? Ingin bepergian dengan nyaman? Jangan khawatir! Bagi kamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, ikuti cara saya! Hubungi saja nomor suka-suka 7917**** kapan saja kamu membutuhkan, 24 jam non-stop. Dalam sesaat, cowok yang dinanti akan datang dengan mobilnya yang khas, dengan lampu di atas badan mobil menyala bertuliskan&#8230;TAKSI&#8230;
 
Dan kalau kamu sudah di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Butuh teman? Kesepian? Ingin bepergian dengan nyaman? Jangan khawatir! Bagi kamu yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, ikuti cara saya! Hubungi saja nomor suka-suka 7917**** kapan saja kamu membutuhkan, 24 jam non-stop. Dalam sesaat, cowok yang dinanti akan datang dengan mobilnya yang khas, dengan lampu di atas badan mobil menyala bertuliskan&#8230;TAKSI&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dan kalau kamu sudah di dalam, jangan lupa buka kuping dan buka mata terhadap si Pak Supir, serap ilmu politik, sosial, ekonomi, serta gosip-gosip teranyar yang belum tayang di <em>infotainment</em>. Dijamin perjalanan kamu akan makin berkesan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri">Pernah suatu kali saya disetiri oleh mantan karyawan bos Al-Qaeda, Osama Bin Laden di Oman. Pak Supir menceritakan pengalamannya selama 4 tahun, termasuk betapa eratnya hubungan antara Oman dengan Indonesia. Buktinya, semua pembantu di rumah Osama pada masanya berasal dari Cianjur, yang tersohor <em>geulis,</em> sedangkan satpamnya banyak yang dari Banten, daerah yang terkenal akan <em>aji-ajiannya.</em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Beliau juga membuat saya begitu bersyukur tinggal di Indonesia yang <em>tanam padi tumbuh padi</em>. Segala usahanya menanam mangga, kangkung daun pandan di halaman rumah Osama yang sudah termasuk subur ukuran Timur Tengah gagal total. Apapun yang ditanam, yang tumbuh korma lagi korma lagi&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Di lain kesempatan, supir yang lain selama tiga jam non-stop MENDONGENG. Macet total yang mematikan jadi tidak terasa karena diisi oleh legenda daerah Jawa Tengah, seperti Kuntilanak, Nyai Roro Kidul dan Petani Miskin, hingga tentang pelbagai siluman. Pada saat saya sampai rumah, kisah putri bungsu Kerajaan Jalasutra, sebuah kerajaan siluman buaya, yang jatuh cinta pada pemuda desanya hingga menarik beliau ke dasar anak sungai Bengawan Solo sudah mencapai kata tamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Tidak semua supir taksi memuaskan hati. Ada juga supir yang lebih pendiam (atau lebih jutek?) agar lebih konsen menjalankan tugas yang utama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><span>            </span>“Pak, apa kabarnya narik hari ini, Pak?” saya bertanya sok-sok akrab.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt 36pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">“Ya biasa aja neng, namanya juga nyopir, mau gimana lagi, sehari-harian di mobil terus, ga kemana-mana, ga ngeliat apa-apa, ga ketemu siapa-siapa.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt 36pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">“Tapi kan penumpangnya macem-macem, Pak&#8230;” saya berusaha menghibur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt 36pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">“Ya..” Pak supir menjawab pendek sambil menancap gas yang membuat saya semakin berdebar-debar!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Saat sedang berada dalam taksi, kadang saya jadi merasa sehati sejiwa dengan para pengemudinya. Dalam hidup, kita semua adalah supir taksi. Yang melalui jalan-jalan kehidupan dengan satu tujuan awal dan akhir, yang singgah sana sini, kadang lama kadang sebentar. Dalam perjalanan itu, akan banyak orang yang ditemui, hal-hal yang terliat di pinggir jalan, yang bisa dicela, dikeluhkesahkan, diketawain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Sekarang terserah saya, apakah mau jadi supir taksi yang memberi makna lebih bagi para penumpang saya dengan berbagi cerita-cerita menarik, memberikan opini, dan menginspirasikan mereka? Atau saya bakal jadi supir taksi yang pelit cerita, yang menganggap hidupnya terlalu monoton untuk dibagi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small"><span style="font-family: Calibri"><em>Life is an extremely huge story book. </em>Tidak ada hidup seseorang yang begitu membosankannya sehingga habis dirangkum dalam sebuah buku. Cukup naik taksi saja sudah mendapat hal baru. Coba bayangkan kalau si supir taksi ini nge-blog. Dari hidup yang cuma terdiri dari gigi satu ke gigi dua, gas sama rem saja bisa dibuat posting tak berkesudahan!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Hidup terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. Selalu ada hal baru, selalu ada pelajaran menarik, selalu ada hikmahnya. Saya tidak perlu lari ke gunung&#8230;.merenungi nasib di gua, atau bahkan mencari supir taksi untuk mengamati hidup. Yang perlu dilakukan cuma menggunakan indra: memelototkan mata, menyibak rambut di kuping, menarik nafas panjang dan TADAAA&#8230;ada drama yang sedang berlangsung! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Bahkan seandainya saya terjebak dalam rumah saja, tetap ada TV yang menayangkan Cinta Laura, dan Cinta Laura bisa diambil </span><a href="http://margarittta.multiply.com/journal/item/21/Chincya_Lawra"><span style="font-size: small;color: #0000ff;font-family: Calibri">hikmahnya</span></a><span style="font-size: small;font-family: Calibri">. Bahkan kalau ga ada Cinta Laura, setidaknya ada saya sendiri. Mendengarkan apa yang pikiran saya ocehkan, melihat apa yang selama ini jadi pandangan saya, memikirkan mengapa saya punya pikiran tertentu, dan menemukan, cerita lain dalam hidup milik sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Berangkat dari keyakinan ini saya memberanikan diri mulai membuat blog beberapa waktu yang lalu. Itung-itung sebagai latihan menjadi tukang taksi yang baik&#8230;Supaya sebosan apapun rutinitas, se-‘segitu-segitunya’ nasib, tetap bisa bersemangat dalam melihat hidup dan membaginya untuk calon penumpang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dalam perjalanannya, si blog </span><a href="http://margarittta.multiply.com/"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">biasa saja tentang seorang mahasiswa perempuan kota besar yang tinggal nge-kos</span></a><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> ini secara kebetulan mampir di hidup Dian Sastro yang mungkin habis cape syuting sehingga mudah terhibur oleh </span><a href="http://margarittta.multiply.com/journal/item/23/Empat_Sifat_Anak_Perawan"><span style="font-size: small;color: #0000ff;font-family: Calibri">lelucon pendek</span></a><span style="font-size: small;font-family: Calibri">. Lalu mampir dalam hidup seorang perempuan di Saudi Arabia yang kemudian jadi yakin untuk kembali ke Indonesia dan </span><a href="http://margarittta.multiply.com/journal/item/52/Ujan_Batu_di_Negri_Orang"><span style="font-size: small;color: #0000ff;font-family: Calibri">mencari kebahagiaan menurut definisi sendiri.</span></a><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> Postingan lain singgah di mata seorang mahasiswa PhD yang lalu memutuskan untuk mengejar </span><a href="http://margarittta.multiply.com/journal/item/63/Generasi_tanpa_mimpi"><span style="font-size: small;color: #0000ff;font-family: Calibri">mimpi</span></a><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> masa kecil meski berarti harus berhenti kuliah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dengan keyakinan yang sama juga saya manggut-manggut saja ketika diminta Pak Daniel Tumiwa dari Djarum untuk menjadi pembimbing blog Beswan, supaya lebih banyak lagi supir-supir (ehh..maksudnya blogger-blogger) handal yang berbagi lewat jalur internet. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Bukan karena saya yakin blog saya yang paling bagus. Justru saya, sebagai bukan selebritis dan hidup dalam rutinitas, adalah yang paling mirip dengan rekan-rekan blogger atau calon blogger di Beswan ini. Hanya saja, ibaratnya supir taksi, saya sudah ‘narik’ duluan dan mencari ‘penumpang’ lebih banyak. Siapa tahu saya bisa memberi tips tentang jalan tikus yang bisa diambil dalam trayek tertentu, cara ‘mengemudi’ biar irit bensin, atau taktik meraih hati ‘konsumen’ agar bisa dapat ‘penumpang’ lebih banyak lagi!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt"><span style="font-size: small;font-family: Calibri">Dan saya yakin masih banyak lagi cerita, pandangan, dan kehidupan dari teman-teman di Beswan yang wajib di-share untuk menginspirasikan hidup Dian Sastro yang lain, mahasiswa PhD yang lain, dan pastinya saya. Karena supir taksi saja punya cerita, kalau kamu?</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.beswandjarum.com/margareta/2009/05/02/supir-taksi-punya-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
