Ingat Candi Singosari, Jago, dan Kidal yang salah satunya kini berdiri canggung di tengah perumahan bak gapura 17 Agustus-an? Atau masih ingat bahwa selain Tanah Lot di Bali, masih ada pantai lain yang punya pura di tengah laut?
Jujur, kalau gue: tidak. Dan perjalanan gue ke Malang kemarin membuat gue merasa khawatir dengan jawaban gue itu.
Kerajaan Singosari merupakan kerajaan termasyur di masa Hindu Jawa Timur, yang melahirkan generasi raja-raja Jawa, termasuk dalam Kerajaan terbesar yang pernah ada di nusantara, Majapahit. Tapi selain Candi Singosari, peninggalan yang lain macamnya tak pernah eksis.
Pamor Taman Tirta, kolam pemandian putri kerjaan luntur digerus jaman, kalah dengan ‘Pemandian Ken Dedes’, sebuah kompleks kolam renang mirip waterboom yang laris manis dikunjungi puluhan keluarga.
Gue adalah satu-satunya turis ‘normal’ di taman yang tersembunyi dari jalanan itu. Sisa pengunjung adalah empat orang paranormal, satu orang yang berdiri di bawah pohon beringin sambil ngomong sendiri dan membakar kemenyan, serta dua gadis yang mengharapkan berendam di tempat yang sama bisa membuat mereka setidaknya mendekati rupa Ken Dedes.
Jika bukan untuk minta wangsit, pingin cantik, mau jadi presiden, atau mau mencuri dan memenggal kepala arca-arca kuno di pinggir kolam sampai botak-botak, gak banyak yang mau bertandang ke Taman Tirta.
Sedangkan Pulau Wisanggeni, lepas pantai Balekambang tempat berdirinya Pura di tengah lautan Hindia, tersembunyi di tengah hutan yang tak tembus matahari. Gue tertipu habis-habisan dengan klaim accessible via public transport. Boro-boro public transport, tanya dulu dong, jalanannya ada nggak? Kecuali jika jalan setapak bolong-bolong maut yang tidak terjangkau sinyal HP dianggap sebagai jalanan….
Kenyataan gue tak ingat Singosari dan Balekambang, meski dengan segala kejayaannya dan keelokkannya, berbuntut pertanyaan yang lain: Apakah Indonesia akan bernasib sama seperti Singosari? Sebuah bangsa yang besar dan termasyur tapi kemudian kalah oleh pergerakan jaman dan dilupakan orang? Atau bahkan bernasib seperti Balekambang yang bahkan tak pernah dikenal dan makanya tak pernah diingat?
Ketika mobil gue terhambat arak-arakan Reog Ponorogo di depan muka setelah turun dari Penanjakan Semeru, gue sadar, inilah pertama kalinya gue melihatnya secara nyata. Selain di siaran TV pembukaan PON Jawa Timur tahun 2000, tak pernah terlintas untuk nonton REOG. Mending nonton film India dhe!
Wajar-wajar saja kalau Reog akhirnya diakui Malaysia. Dunia mana yang sanggup mengingatnya sebagai milik Indonesia kalau cuma warga di atas gunung yang masih bisa terhibur dengan Reog? Sedangkan yang mampu akan butuh hiburan import dan mencari candi sampai ke negara lain.
Gue kadang berpikir, We’re not a proud nation. Saat gue mau ke Jogja di malam tahun baru kemarin, komentar yang akrab di telinga adalah, ‘Kok turun pangkat, sih?’ Seolah Jogja berderajat lebih rendah dari Singapura.
Gue dan teman-teman gue secara sadar dan tak sadar telah merasa tak bangga dengan apa yang dimiliki. Tak menganggap indah kesenian dan alam yang ada. Dan perlahan, mulai melupakan budaya, sejarah dan geografis yang membentuk sebuah konsep bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Gue cemas, Negara Indonesia akan bubar, warisannya diterlantarkan karena diabaikan generasi penerus, sama seperti Singosari yang dilupakan keturunannya. (yaitu kita-kita ini). Gue cemas, wilayah Indonesia akan digerogoti Negara tetangga hingga hilang dari peta dunia seperti Balekambang yang tak punya titik di peta wisata Indonesia, karena warganya tak tahu ujung-ujung negaranya sendiri. Gue cemas, gue akan jadi bagian dari bangsa yang tak dikenal orang, pasti gue-nya lebih tak diingat lagi.
Makanya gue memasang foto-foto dari seputar Malang ini. Supaya ketika saat gue mau berlibur di pantai Thailand, saat akan menguap pas nonton tari tradisional, saat lagi sok-sok mengagungkan Bahasa Inggris, gue ingat, Indonesia.
- Candi era Singosari yang terawat dan terjangkau dunia luar...
- Pura Wisanggeni, yang sepintas mirip Pura Tanah Lot, plus pantai landai yang bisa direnangi
- Ini nih jembatan menuju Pulau Wisanggeni, agak mengkhawatirkan memang wujudnya...
- Bisa lihat dasarnya ga? Saya bisa lho! Tapi di potret keliatan ga ya?
- Pasirnya memang gak putih, tapi yang menodai cuma koral, ga ada sampah, dan ombaknya..putih...putih...
- "Tapi ingat ya, Mbak, kalau dikasih, yang ngasih Tuhan, anggap aja air ini Neozep.." kata juru kunci tentang air yang bisa bikin cantik.
- "Dapat apa, Mbak?" tanya si juru kunci sambil menunjukkan foto yang jika diperbesar memunculkan wajah Ken Dedes. "saya ga mau pak! Ga mau dapat apa-apa! Sumpah!" Gue panik. "Yah, gapapa Mbak, ciptaan Tuhan, kalau sudah sampai rumah, dilihat ya fotonya ada apa..." HIIIII!
- Mau jadi presiden? Menurut gosip yang beredar di kalangan paranormal dan jurnalis ibukota, ini nih tempat mandinya Soeharto, SBY dan Megawati pas sebelum Pemilu!
- Jalan menuju kepresidenan memang sulit...
- Dibalik sawah ini, terbentang jalan menuju kursi kepresidenan, mau?
- Mau ke Bromo, malah ketemu Reog
- kesurupan beneran nampaknya...
- Beneran! Ini lagi upacara adat Suku Tengger, di Semeru! Jawa Timur!
- Masih dalam usaha mencapai Bromo, malah ketemu upacara adat Suku Tengger
- Dikasih tahu sih nama upacaranya, tapi...maaf...saya lupa...
- Kelompok ini berkeliling lapangan beberapa kali sambil diiringi tetabuhan, lalu mulai mengarah ke jalan menanjak Semeru
- Sudah jelas, perjalanannya lebih bewarna daripada hasil akhir! Habis Bromo sedang berkabut...
- Bahkan foto dari perjalanan dan bukan dari Puncak Penanjakan saja terlihat lebih jelas karena tidak terlalu berkabut
























