Waktu kecil aku punya banyak sekali cita- cita.. disaat anak2 lain memilih jadi dokter, aku malah tertarik jadi insinyur.. yang laen pengen jadi pengacara, aku malah pengen jadi pramugari (Alhamdulillah kesampean walo cuma jadi hajj attendant J ).. disaat semua tertarik jadi arsitek, aku memilih dosen.. cita –cita yg terakhir ini bertahan cukup lama dalam mindset ku sampai menjelang tamat SMA..

Kenapa jadi dosen? Hmm.. jawaban klise adalah mengikuti jejak ortu ku krn mereka kedua2 nya adalah pengajar.. papa seorang dosen dan mama seorang guru.. lagipula dosen itu pekerjaan mulia, mencerdaskan bangsa.. awalnya kupikir segampang itu.. tapi ternyata persoalan ‘mencerdaskan bangsa’ itu tidak melulu soal mengajar pengetahuan kepada anak bangsa tetapi juga mengenai pembentukan karakter dari generasi itu sendiri..

Di awal2 seorang anak tumbuh, lingkungan luar selain rumah adalah lingkungan sekitar tempat tinggal dan juga lingkungan sekolah. Guru dalam hal ini berperan membentuk karakter pada saat seorang anak belajar di sekolah.. Aku masih ingat waktu jaman SD dulu, setiap sampul buku teks pelajaran tercantum kata CBSA a.k.a Cara Belajar Siswa Aktif. Dengan metode ini diharapkan siswa dapat bertanya dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga tidak bersifat satu arah aja (dari Guru ke siswa).. Tapi seingatku lagi,itu cuma sekedar semboyan ajah karena yang kurasakan justru sebaliknya, walopun untuk pelajaran seperti keterampilan dan seni kita dibebaskan berkreasi (ya eya lah, namanya juga pelajaran keterampilan hehe)..

Kalo jaman sekarang? Wuuiihh, jangan ditanya.. banyak sekali lembaga pendidikan yang memberikan pembelajaran dengan metode fun education ato smart learning, memadukan unsur games dalam belajar dan tidak melulu kaku di dalam kelas tapi bisa sembari keluar dan berwisata.. hmm benar2 iri deh sama anak2 jaman sekarang!! Pantesan aja mereka makin pintar2 dan kritis.. J

Patut berbahagia di satu sisi krn akses ke pendidikan berkualitas dapat dengan mudah diperoleh, tetapi sisi lainnya adalah biaya yang dikeluarkan menjadi tidak sedikit sehingga yg benar2 mampu menikmati pendidikan berkualitas itu hanya segelintir kalangan aja. Sekarang dengan adanya program dari Depdiknas mengenai sekolah gratis (dalam hal operasional sekolah saja, sementara utk kebutuhan pribadi tetap menjadi tanggungjawab orang tua) diharapkan dapat membantu agar anak2 Indonesia tetap dapat bersekolah dengan layak.

Balik ke cita-cita dosen tadi, seiring berkembangnya pemikiranku (halah gayaa…!!) dan perkembangan bakatku (yang ternyata kurang cocok menjadi dosen :p) akhirnya dengan berat hati cita-cita itu pupus dengan sendirinya.. Tergantikan menjadi seorang Sarjana Teknik yg pernah 3 bulan menjadi Pramugari,  kemudian jadi Bankir terus yang sekarang kembali ke maincore keilmuan teknik ku..

Setelah kutelusuri, baru kutemukan benang merah dari ketiga pengalaman kerja ku ini.. bahwa semuanya adalah service company dengan maincore bisnis yang berbeda2 tapi tetap 1 tujuan utama, memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan.. dan aku rasa sesuai dengan karakter diriku yang memang senang bertemu dengan banyak orang, kenal dengan orang baru dan lingkungan baru dan berusaha untuk menyenangkan dan memberikan yang terbaik kepada orang lain..

Padahal kata sodara2 dan kerabat, waktu kecil aku pendiam loohh.. hmmm, karakter diriku ini.. apakah karakter baru? Ato memang ada dan menunggu untuk kutemukan?

*thinking..

(bersambung)