The Design Company.

You can change this area in header.php

Special Sidebar

You can add any content in this area by go to
Admin->Design->Widgets->Sidebar4

Archive for May, 2009

Music and Insomnia (Eng. Ver.)

People’s life is just like music. Their life needs rhythm that should be kept stable. There are lots of factors that affect the stability of people’s rhythm and one of them is sleep.

Human needs sleep to revitalize and to repair their damaged body cells. Also, sleep will help stabilize the body metabolism. If we have lack of sleep, or we are having problem with sleep, our body system will be in trouble, and it will affect our activity in the afternoon.Usually, we will be not very enthusiastic and moreover, we will be less vulnerable to many diseases.One of the symptoms of that sleep problem is insomnia. It is also being my problem at this moment.

An article in the internet (Prijosaksono, Sembel: 2002), implies that insomnia is a sleep problem that is experienced by feeling tired and fatigued all day. Also continually (usually more than ten days) having difficulty at sleeping or waking up in the midnight and not able to sleep again.

There are three types of insomnia: Sleep onset insomnia, Sleep maintenance insomnia and early awakening insomnia. The cause of insomnia comes from many factors. It can come from a psychological factor or physical factor. That was said by the leader of Insomnia Clinic at the United States, Dr. Nino Murcia. Then, based on what the expert said, there are at least 4 factors that cause insomnia. That is psychological and biological predisposition, like the usage of drugs, alcohol, high-caffeine beverage, smoke, disturbing environment, and bad habit and also many diseases that trigger insomnia, such as asthma, rheumatic, gastric, kidney problem, and thyroid.

After knowing insomnia and how does it cause, then, to find the answer, is by self diagnosis. The first step is to spare your time to look for and to analyze the cause of the insomnia. After that, we are able to look for the answer by choosing the right solution available.

The solution might be rearranging out bed time, refrain ourselves from smoke, alcohol and coffee, making our room and environment comfortable, try to do relaxation (such as yoga), do sports more often, soak ourselves in a warm bathtub and drink warm milk or tea before going to bed, go to the massage, or listening to the music. Perform the solution effectively until at last, it cures the insomnia. If it continues, you might want to go to the right doctor or psychiatrist.

Me, myself, prefer to listen to music to cure my insomnia. Music can calm our soul, stabilize our emotion and relax our tense muscle. By music, I can be more expressive when I’m expressing what I want to express, because music for me is more dynamic.

Music has brought me down to my past memories. Sometimes, when flash-backing, I choose warm tea and light snack for accompanying me. Indirectly, music has become a very important part in my life, until I have a motto, “Without music, life’s dry”.

There are lots of ways to enjoy music. I usually just lock myself in my room and make a play list of what I want to hear, and then listen it by the headset. Without being worried that I will disturb the other, I am able to express myself as much as I want.

Music has become a supplement and a vitamin for my soul. So, what about you?

Writer’s college student in Pasundan University

Identifikasi Perilaku dari Hasil Pemberitaan Media Massa

Masih melekat dalam ingatan kita kasus mutilasi “Ryan Jombang” yang diekspos secara besar-besaran oleh media massa. Hingga kemudian, muncul kembali kasus serupa yaitu pembunuhan mutilasi “Bus Mayasari Bekasi” yang juga tidak lepas pemberitaannya. Rentetan kasus yang terjadi hanya berselang tiga bulan tersebut, seolah-olah telah menjadi bahan olahan bagus yang akan laku dikonsumsi. Liberalisasi pers dalam pemberitaan membuat pemberitaan di Trans TV, khususnya dalam acara “Reportase” menyuguhkan hal-hal yang tidak seharusnya diberikan secara gamblang dan tanpa-filter kepada publik. Terasa bahwa “Bad News is Good News” telah menjadi prinsip pemberitaannya. Maksudnya, “Reportase” tidak berpikir panjang dalam mempelajari dampak yang akan terjadi pada publik bila menyuguhkan berita seperti itu.

Setiap pemberitaan yang diberikan media massa pasti akan memberikan efek kepada publik yang mengkonsumsinya. Bagi publik yang selektif pasti mampu melindungi diri mereka dari efek negatif yang diberikan media massa. Namun, sebagian publik di Indonesia yang menyaksikan program dan berita di media massa kurang selektif dalam memilah tayangan yang baik dan kurang-baik. Akibat pesan yang ditelan mentah-mentah tersebut, maka publik akan terkena efek yang diserang di beberapa faktor kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai kondisi sosial maupun psikologis masing-masing. Bisa jadi pula, kasus mutilasi yang baru saja terjadi merupakan dampak dari efek pemberitaan kasus mutilasi sebelumnya yang dijadikan acuan atau contoh seseorang untuk melakukan hal serupa (proses identifikasi).

Media massa mampu menyerang aspek kognitif, afektif dan konatif publik. Maksudnya, pesan-pesan yang dirancang kemudian disampaikan media massa akan mempengaruhi sisi psikis publik. Sisi psikis tersebut menyangkut pandangan dan paradigma publik tentang pesan sebagai hal informatif. Kemudian berkembang dan menarik emosional publik yang memicu empati, pembentukan skema pemikiran terhadap keadaan, juga proses identifikasi dan imitasi ide bahkan perilaku dari pesan media massa yang disampaikan. Layaknya kasus mutilasi “Bus Mayasari Bakti”. Kasus yang mencuat ke permukaan tiga bulan setelah munculnya kasus mutilasi “Ryan Jombang”, seolah-olah merupakan replika kejadian sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemajuan. Terbukti dengan sulitnya polisi untuk mengungkap tersangka di balik kasus mutilasi terbaru dan petunjuk lainnya.

Rangkaian kejadian yang hampir serupa tersebut, sebenarnya tidak lepas dari peranan media massa (dalam hal ini acara “Reportase”) yang tidak mampu mengontrol isi pesan yang disampaikan pada publik. Selayaknya, “Reportase” tidak perlu untuk memberitahukan reka ulang kejadian pembunuhan mutilasi secara mendetail maupun memberi informasi cara memutilasi orang, hingga publik pun mengerti cara-cara tersebut. Hal seperti itu dapat memicu orang untuk bersugesti bahwa dia pun bisa melakukan hal yang sama. Begitu juga, “Reportase” yang menayangkan dan membahas kasus kejadian yang sama terus-menerus dan berkelanjutan, maka akan muncul persepsi publik yaitu kejadian seperti itu sudah lazim dilakukan dan bukan perihal baru maupun tabu di masyarakat. Suatu musibah besar bagi kita, apabila nilai yang tabu di masyarakat berubah menjadi nilai lazim!


Selanjutnya, “Reportase” hendaklah memberikan informasi yang bernilai positif dan mengarahkan masyarakat lebih bermoral dan menjadikan masyarakat yang berpendidikan. Namun, apabila memang hal-hal mendesak penting untuk diinformasikan namun sedikit menentang nilai-nilai moral di Indonesia, hendaknya untuk memberikan batasan dan filterisasi tentang isi pesan yang akan disampaikan. Karena dalam aplikasinya, nilai negatif lebih cepat menyebar di publik dibandingkan dengan nilai positif yang sulit diterima publik. Sehingga, secara sadar media massa harus mengetahui dan mengaplikasikan nilai-nilai prososial yang mampu bertanggungjawab pada kepentingan publik dan tidak terlalu mengacu pada “Rating” dan profit saja.


Penulis adalah mahasiswa universitas pasundan bandung

PILIHAN PEMIMPIN IDEAL DI TAHUN 2009

Indonesia yang kini sedang dilanda krisis moral membutuhkan sosok pemimpin yang benar-benar menjadi panutan dan teladan bagi semua. Pemimpin yang mampu menggiring masyarakatnya untuk bersama-sama membenahi segala hal yang sudah keluar batas nilai-nilai yang harusnya dipegang teguh dalam kehidupan (yaitu Pancasila) demi suatu kesejahteraan.

Namun, sayang. “mereka” yang mengelu-elukan bahwa memiliki rasa nasionalisme tinggi dan rasa peduli dengan masyarakat, tidak mengerti dan tidak memahami sama sekali nilai-nilai Pancasila. Dan Kalaupun paham, mereka tidak mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang seharusnya mampu diperlihatkan dan dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat selama “mereka” menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat. Tidak menyalahkan “mereka” atau siapapun. Namun, tetap saja masyarakat haus dan tidak tahu harus bergantung kepada siapa lagi jika bukan kepada sang pemimpin. Sepantasnyalah pemimpin dan segenap pembantunya memberikan titik terang dan jalan keluar dari setiap permasalahan yang melanda semua.

Jika bertanya kriteria seperti apakah pemimpin yang masyarakat harapkan. Jawaban dari masyarakat pun pasti beragam. Tapi seberagam apapun jawaban masyarakat, tetaplah sederhana. (Dan saya pun menyimpulkan) bahwa masyarakat hanya butuh pemimpin yang punya hati, mampu berpikir rasional dan tegas. Hanya tiga poin itu saja, tetapi tiga poin tersebut telah mencakup kekompleksitasan sosok pemimpin yang ideal.

Pemimpin yang memiliki hati pasti mampu merasakan apapun keinginan, harapan, ketakutan dan hal lainnya yang menyangkut kesejahteraan hajat hidup bersama. Apalagi kesejahteraan hajat hidup “wong cilik” yang notabene-nya jauh dari kata layak. Kemudian, berpengalaman tidaklah menjadi satu poin penting dalam kriteria pemimpin ideal. Pengalaman hanyalah poin tambahan, karena kini diutamakan orang yang mampu berpikir rasional. Dengan berpikir rasional, orang mampu bersikap adil dan mampu menghasilkan suatu keputusan yang dipertimbangkan dari segala aspek tanpa perlu berat sebelah. Semua sesuai proporsinya. Yang terakhir pun tegas. Ketegasan mampu menghasilkan suatu kekuatan “menekan” tanpa perlu takut “ditekan” yang memungkinkan sang pemimpin berlaku kotor.

Banyak pilihan pemimpin di negeri kita. Akhir-akhir ini pun, menjelang digelarnya pesta demokrasi, beberapa nama mencuat ke permukaan dan masyarakat pun dibuat pusing karenanya. Mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Megawati, Wiranto, Sutiyoso, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rizal Ramli, Prabowo dan lainnya yang meng-klaim bahwa merekalah yang sangat pantas menjadi pemimpin selanjutnya.

Masyarakat tidaklah pusing karena nama-nama mereka namun pusing harus memilih yang mana, yang ideal untuk menjadi panutan (lagi). Karena masalahnya masyarakat tidak mengenal mereka begitu dalam dan hanya tahu begitu-begitu saja yang tampak dari luarnya. Padahal nama-nama tersebut adalah wajah lama yang pernah merasakan jadi pemimpin dari berbagai tingkatan.

Walaupun evaluasi dari masa kepemimpinan mereka, masih jauh dari apa yang masyarakat idam-idamkan. Jadi apakah masyarakat harus menerima mereka kembali dengan segala kekurangan mereka (karena dari beberapa nama di atas, ada yang masih tersandung kasus yang melibatkan dengan pertanggungjawaban mereka kepada masyarakat), tanpa diberikan suatu pilihan baru yang mampu menyegarkan dan mengisi kehausan masyarakat atas pemimpin yang ideal?

Setelah dihadapkan dengan kejenuhan dari stok pemimpin yang ada, masyarakat pun hanya bisa mengelus dada (kembali) dan memprediksikan dan juga menggantungkan harapannya dengan memilih sekena hatinya saja. Yah..seperti loterelah. Merasa “feeling”nya bagus dan cocok, itulah yang mereka pilih. Memang masyarakat kini pintar dan kritis dan mampu mendapatkan informasi tentang nama-nama tersebut dari segala media. Namun tetap saja, yang terlihat oleh masyarakat hanya tampak luarnya saja-kulitnya-bukan isinya. Transparansi tetaplah sulit ditemukan dan akhirnya balik lagi ke sistem lotere tadi, pilih sesuai “feeling”.

Dan jika boleh memprediksikan, nama SBY masih tetap populer menjadi kandidat pemimpin selanjutnya. Masyarakat yang jenuh berganti pemimpin, karena berpikir itu berarti harus berganti pula kebijakan dan hal itu hanya menambah rumit persoalan. Lebih baik melanjutkan apa yang sudah ada dan memperbaiki lagi kekurangannya. Toh..masyarakat juga sudah pada tahu “mereka” seperti apa saat masih merasakan kursi pemimpin karena masyarakat sendiri yang mengalami dan merasakannya.

“Feeling” dan harapan masyarakat untuk memiliki pemimpin ideal masih besar. Maka sepantasnyalah, masyarakat yang berharap untuk perubahan dan peningkatan kesejahteraan, memanfaatkan momen tersebut untuk memilih dan memilah, sosok mana yang akan menjadi pelayan masyarakat selanjutnya. Hak pilih sangat-sangat penting (ada pengulangan karena memang menjadi hal yang berharga) digunakan karena menyangkut hajat hidup masyarakat ke depannya. Hidup kita yang menentukan pun kita! Bukan pihak-pihak yang telah teracuni pikiran licik demi suatu kekuasaan semata.

Penulis adalah mahasiswa Universitas Pasundan Bandung

Sidebar3 : Please add some widgets here.