The Design Company.

You can change this area in header.php

Special Sidebar

You can add any content in this area by go to
Admin->Design->Widgets->Sidebar4

Identifikasi Perilaku dari Hasil Pemberitaan Media Massa

Masih melekat dalam ingatan kita kasus mutilasi “Ryan Jombang” yang diekspos secara besar-besaran oleh media massa. Hingga kemudian, muncul kembali kasus serupa yaitu pembunuhan mutilasi “Bus Mayasari Bekasi” yang juga tidak lepas pemberitaannya. Rentetan kasus yang terjadi hanya berselang tiga bulan tersebut, seolah-olah telah menjadi bahan olahan bagus yang akan laku dikonsumsi. Liberalisasi pers dalam pemberitaan membuat pemberitaan di Trans TV, khususnya dalam acara “Reportase” menyuguhkan hal-hal yang tidak seharusnya diberikan secara gamblang dan tanpa-filter kepada publik. Terasa bahwa “Bad News is Good News” telah menjadi prinsip pemberitaannya. Maksudnya, “Reportase” tidak berpikir panjang dalam mempelajari dampak yang akan terjadi pada publik bila menyuguhkan berita seperti itu.

Setiap pemberitaan yang diberikan media massa pasti akan memberikan efek kepada publik yang mengkonsumsinya. Bagi publik yang selektif pasti mampu melindungi diri mereka dari efek negatif yang diberikan media massa. Namun, sebagian publik di Indonesia yang menyaksikan program dan berita di media massa kurang selektif dalam memilah tayangan yang baik dan kurang-baik. Akibat pesan yang ditelan mentah-mentah tersebut, maka publik akan terkena efek yang diserang di beberapa faktor kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung sesuai kondisi sosial maupun psikologis masing-masing. Bisa jadi pula, kasus mutilasi yang baru saja terjadi merupakan dampak dari efek pemberitaan kasus mutilasi sebelumnya yang dijadikan acuan atau contoh seseorang untuk melakukan hal serupa (proses identifikasi).

Media massa mampu menyerang aspek kognitif, afektif dan konatif publik. Maksudnya, pesan-pesan yang dirancang kemudian disampaikan media massa akan mempengaruhi sisi psikis publik. Sisi psikis tersebut menyangkut pandangan dan paradigma publik tentang pesan sebagai hal informatif. Kemudian berkembang dan menarik emosional publik yang memicu empati, pembentukan skema pemikiran terhadap keadaan, juga proses identifikasi dan imitasi ide bahkan perilaku dari pesan media massa yang disampaikan. Layaknya kasus mutilasi “Bus Mayasari Bakti”. Kasus yang mencuat ke permukaan tiga bulan setelah munculnya kasus mutilasi “Ryan Jombang”, seolah-olah merupakan replika kejadian sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemajuan. Terbukti dengan sulitnya polisi untuk mengungkap tersangka di balik kasus mutilasi terbaru dan petunjuk lainnya.

Rangkaian kejadian yang hampir serupa tersebut, sebenarnya tidak lepas dari peranan media massa (dalam hal ini acara “Reportase”) yang tidak mampu mengontrol isi pesan yang disampaikan pada publik. Selayaknya, “Reportase” tidak perlu untuk memberitahukan reka ulang kejadian pembunuhan mutilasi secara mendetail maupun memberi informasi cara memutilasi orang, hingga publik pun mengerti cara-cara tersebut. Hal seperti itu dapat memicu orang untuk bersugesti bahwa dia pun bisa melakukan hal yang sama. Begitu juga, “Reportase” yang menayangkan dan membahas kasus kejadian yang sama terus-menerus dan berkelanjutan, maka akan muncul persepsi publik yaitu kejadian seperti itu sudah lazim dilakukan dan bukan perihal baru maupun tabu di masyarakat. Suatu musibah besar bagi kita, apabila nilai yang tabu di masyarakat berubah menjadi nilai lazim!


Selanjutnya, “Reportase” hendaklah memberikan informasi yang bernilai positif dan mengarahkan masyarakat lebih bermoral dan menjadikan masyarakat yang berpendidikan. Namun, apabila memang hal-hal mendesak penting untuk diinformasikan namun sedikit menentang nilai-nilai moral di Indonesia, hendaknya untuk memberikan batasan dan filterisasi tentang isi pesan yang akan disampaikan. Karena dalam aplikasinya, nilai negatif lebih cepat menyebar di publik dibandingkan dengan nilai positif yang sulit diterima publik. Sehingga, secara sadar media massa harus mengetahui dan mengaplikasikan nilai-nilai prososial yang mampu bertanggungjawab pada kepentingan publik dan tidak terlalu mengacu pada “Rating” dan profit saja.


Penulis adalah mahasiswa universitas pasundan bandung

Tags: , , , , , ,

2 Responses to “Identifikasi Perilaku dari Hasil Pemberitaan Media Massa”

  1. andriemulyana Says:

    waw nice post!
    emg kayak gitu
    makin kontroversi, makin menyita perhatian, makin banyak yang lihat…
    dan akhirnya rating naek deh…

    pokoknya laku dijual dah, didramatisir dikit biar lebih seru… :)

    wah mahasiswa UNPAS, Bandung ya, saya mahasiswa UPI, Bandung…

  2. dessyandriyani Says:

    Seperti diungkapkan Jalaluddin Rakhmat, acara televisi itu harus mengandung 2B: breast dan blood. Seks dan kekerasan. “No sex, no rating, no bussiness”.

Leave a Reply

Sidebar3 : Please add some widgets here.