preload
Oct 15

Aku pernah. Kata orang, aku wanita yang mempesona. Namun, aku ingin membunuh diriku sendiri. Aku yang tidak punya rasa. Aku yang angkuh.

Ada seseorang yang menyatakan segala rasanya padaku. Aku hanya terdiam. Bahkan aku mengacuhkannya. Aku punya pacar. Aku tidak mau mengkhianati ikatan ini. Sudah terlampau lama aku menjaganya. Namun, seseorang itu terlalu baik untuk disakiti. Seseorang yang memberikan segala bentuk perhatian dan pengertiannya tanpa lelah. Seperti matahari yang menyinari bumi. Tak pernah berhenti untuk menyinari, walau diacuhkan. Aku terlalu manja. Aku yang selalu minta perhatian tanpa dapat membalas. Aku tidak berkhianat pada ikatan tetapi aku berkhianat pada rasa.

Waktu berlalu. Ikatan yang selama ini aku jaga ternyata hanya ikatan biasa. Tanpa rasa. Kaku. Ada hal kecil yang tak terlihat. Seseorang itu selalu membuat aku tertawa, membuat aku kembali semangat, membuat aku menjadi diri aku, tanpa aku menyuruhnya untuk berbuat itu padaku. Aku terkadang merasa bahwa aku sulit dimengerti olehnya. Aku terkadang menganggap dia tidak mengerti sama sekali tentang diriku, karena aku sendiri mungkin tidak tahu siapa diriku. Aku hanya sering bilang padanya, “Kamu tidak akan pernah mengerti aku, kamu hanya mengikuti nafsumu untuk menyukaiku.” Dia hanya menjawab “Mungkin.”

Suatu hari, aku lihat dia bersama wanita lain. Aku menangis karena aku merasa dia tidak serius padaku. Aku terlalu dalam untuk memasuki rasa ini. Aku benci dia. Aku mengacuhkan segala permohonan maafnya. Menolak semua ajakan untuk bertemu. Menolak semua penjelasannya. Yang ku ingat dia hanya bilang “itu teman ceritaku.” Aku tetap dingin. Hingga ia memberikan surat yang digenggamku saat ini. Surat yang berumur satu bulan.

-buat kamu yang disana-

Aku selalu berusaha untuk menjadikan semuanya seimbang. Menjadi sayap untuk membantumu terbang.

Aku selalu berusaha untuk memberikan sesuatu yang manis dikala kepahitan menghampirimu.

Aku selalu berusaha untuk menjadi alas saat kamu berpijak.

Aku selalu berusaha menarik garis tawamu yang tak pernah terukir.

Aku hanya ingin kamu bahagia.

Pernah membayangkan surga dengan segala keindahannya?

Apapun yang disebutkan orang mulai dari bidadari cantik sampai mengambil buah dengan mudah, tetap saja kita tidak akan pernah menembus kejutan yang akan Tuhan berikan. Ilmu apapun tidak akan dapat mencapai ilmu rencana Tuhan. Aku hanya berusaha semoga rencana Tuhan saat ini adalah mendekatkan dirimu padaku. Membuat kamu dapat mengerti arti semua rasa yang kuberikan. Membuat kamu untuk tetap bahagia.

Mungkin 2 hari lalu aku bersama wanita lain, tahukah kamu? Aku belajar dari dia arti mencinta wanita. Dia adalah adikku. Dia mengajarkan bahwa wanita untuk dimengerti, wanita haus akan kasih sayang dan perhatian, wanita yang perasa. Aku belajar semua dari adikku.

Maafkan untuk semua rasa yang telah mengganggu. Aku hanya ingin jujur pada rasa yang kualami.

Terima kasih telah menjadi sumber kekuatan untuk diri yang tak kuasa tanpa senyummu.

-seseorang yang ingin kamu selalu bahagia-

Kini aku hanya menyesali ‘ketangguhan’ yang aku perlihatkan padanya. Padahal aku berdiri lemah disini. Aku membohongi rasa yang seharusnya aku tangisi, bukan rasa yang aku angkuhi. Ego ini terlalu membuncah untuk membecinya. Aku yang sulit dimengerti, karena untuk memengerti diri sendiri pun aku telalu angkuh, apalagi mengerti rasa itu.

Dengan segala air mata yang terbuang percuma atas keegoanku, aku hanya dapat berdoa untuk dia. Semoga kini dia dapat menemukan bidadari di dalam istananya yang megah di tempat yang orang bilang surga. Semoga dia tetap dapat membuat aku tersenyum dari sana. Kini aku hanya bisa berandai-andai. Seandainya dia masih disini. Aku ingin membalas apa yang dia berikan.

PujiPrabowo, 14 Oktober 2009.

Tagged with:
Oct 15

Ayo sahabatku. Kita ukir esok hari dengan keindahan. Keindahan yang akan selalu kita kenang. Aku berada disini bukan untuk menjadi pemimpinmu, bukan juga untuk mengekor dirimu. Kita berdiri berdampingan untuk membuat hidup kita berarti.

Ayo sahabatku. Aku akan berusaha meberikan seluruh kemampuanku untuk membantu kamu. Aku ingin membantumu sepenuh hatiku. Karena aku ingin kamu berhasil.

Ayo sahabatku. Aku merasa persahabatan ini sudah menjadi nyawa. Aku tidak mau semuanya berlalu dan membuatku menyesal setelah kehilangan.

Ayo sahabatku. Kamu ingat pepatah “Jika seluruh sahabatku melompat dari suatu jurang, aku tak akan mengikuti mereka, Aku akan berada di dasar jurang untuk menangkap mereka” ? Ayo kita belajar untuk itu.

Ayo sahabatku. Kita diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi. Aku ingin menaruh sebagian nyawaku didirimu. Agar dapat selalu bersamamu dikala raga ini tak sanggup tuk bersama.

Ayo sahabatku. Aku memang bukan orang kaya, aku bukan artis, aku bukan ‘pemeran utama’ dalam dunia ini. Aku hanya mempunyai peran kecil, Aku yang belajar untuk menjadi sahabat terbaikmu.

PujiPrabowo, 14 Oktober 2009.

Tagged with:
Oct 15

Malam meredup.
Menghirup embun.
Pesan singkat darimu.
SELAMAT PAGI.
Keindahan pagi.
Memberikan sinar tambahan.
Aku membalasnya dalam hati.
SEMOGA MENJADI HARI YANG INDAH.

PujiPrabowo, 14 Oktober 2009.

Tagged with:
Oct 15

Jadi ikatan dibentuk oleh perasaan? Atau perasaan dibentuk ikatan?
Jadi siapa yang bertanggung jawab? Hati yang memilih atau hati yang dipilih?

PujiPrabowo, 14 Oktober 2009.

Oct 15

Terlalu banyak yang berteriak.
Semua bergejolak mencari arti.
Ruang ini terlalu sesak dengan segala kegundahan.
Semua berhimpit untuk menghimpit pikiran.

Ruang yang tak beraturan tatanannya.
Kau mengisinya terlalu banyak.
Membuat kegaduhan untukku membalas.
Rasa ini sangat bising.

PujiPrabowo.

Tagged with:
Oct 15

Bintang itu tersenyum manis melihatmu.
Bintang yang kau tunjuk.
Bintang yang menjatuhkan diri.
Bintang yang kau minta.

Bintang itu mendengar permintaanmu.
Bintang berusaha memenuhi permintaanmu.
Namun ada yang tidak terkabul.
Apa? Tanyamu.
Semuanya. Jawabnya.

PujiPrabowo.

Tagged with:
Oct 15

Kilau itu tetap bersemi.
Kau yang bersinar.
Kau mempesona.
Kau yang lupa..

Kau yang meninggi.
Kau yang kalut.
Kau yang bergemuruh.
Kau yang lupa..

PujiPrabowo.

Tagged with:
Oct 15

Halimun ini tertata rapih.
Menyamarkan segala tatanan.
Sayup-sayup terdengar.
Mumbuncah hati yang ngilu.
Angin yang menerpa wajahku ikut berbisik.
Selamat datang di penyesalan.

PujiPrabowo.

Tagged with:
Oct 15

Ujung jemari itu mengarah ke utara.
Halimbubu menari.
Alam yang sudah tidak bergairah.
Ketika diserang secara simultan.
Badai klasik menginvasi.
Menyadarkan.
Sosok manusia yang kejam.
Terhempas.

PujiPrabowo.

Tagged with: