Selayaknya orang tua yang memberikan bekal kata-kata agar kita dapat mengucapkan kata-kata dasar seperti ibu, bapak, papa, mama, kakek, nenek, kakak, makan, minum dll. Lalu kini kita berkembang dengan banyak pembendaharaan kata. Orang tua tidak menginginkan anaknya hanya terdiam seribu bahasa dalam menghadapi perbincangan di kemudian hari. Mungkin yang diberikan oleh orang tua hanya beberapa persen dari seratus persen dari apa yang telah banyak kita ucapkan kini. Namun, kontribusi beberapa persen dari orang tua yang mungkin tidak terlihat itu, kini telah menggenapkan seratus persen kemampuan berbahasa kita. Bayangkan jika orang tua kita tidak mengajarkan satu katapun saat kita berada di dalam box bayi.
Saya mempelajari suatu hal yang menarik di daerah lingkungan rumah saya. Anak-anak kecil sudah diajarkan untuk beroganisasi, sudah diajak untuk belajar mengurusi sesuatu di lingkungan masyarakat. Tidak pernah orang dewasa meremehkan ataupun mengucilkan tindak dari sang anak. Karena orang-orang itu percaya, generasi berikutnya ada di tangan anak-anak kecil ini. Orang-orang tua itu tidak mau anak-anak terlambat untuk memahami artinya bersosialisasi dalam masyarakat.
Anak –anak kecil bersama teman-teman yang lainnya melakukan banyak hal positif dari mulai membagikan daging hasil qurban, mengurusi tajil untuk berbuka puasa, hingga membuat acara 17-an. Mereka semua melakukannya dengan penuh semangat, canda tawa dan penuh ketulusan. Mungkin mereka hanya merasa bahagia saja karena dapat bermain dan berkumpul dengan teman-teman yang lain. Tetapi apa yang diperoleh mereka setelah mereka ‘lulus’ menjadi anak kecil itu?
Pertama, mereka mempunyai pertemanan yang kuat. Ikatan yang terjalin yang mungkin sewaktu kecil hanya disadari sebagai objek melepas kepenatan sekolah, namun ikatan itu sekarang berbuah manis sebagai jaringan yang dapat saling membantu. Kekuatan persaudaraan yang terbangun melebihi arti saudara yang sebenarnya. Dimana jika ada kesulitan, biasanya temanlah yang membantu, saudara belum tentu menjadi prioritas utama untuk dimintai pertolongan.
Kedua, mereka belajar untuk dapat menghargai satu sama lain, dapat menghargai yang lebih muda ataupun menghargai yang lebih tua. Karena kita hidup bermasyarakat tidak melulu seangkatan/seumuran dengan kita. Dalam kehidupan masyarakat, kita hidup dengan orang yang seumuran dengan kita, bapak kita bahkan seumuran dengan kakek kita. Yang diperlukan dalam bermasyarakat/bertetangga yaitu saling menghargai satu sama lain.
Ketiga, mereka belajar untuk dapat bertahan hidup dengan bersosialisasi dan berorganisasi. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa “sebaik-baiknya orang adalah orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya”, mereka diajarkan secara tidak langsung bagaimana organisasi dalam masyarakat. Belajar bagaimana menghadapi dinamika kehidupan di masyarakat. Belajar bagaimana bersosialisasi dengan sekitar.
Keempat, mereka dulu mungkin terlihat hanya bermain saja, namun mereka dapat memperoleh pelajaran yang sangat berharga untuk di kemudian hari dibandingkan yang hanya terkungkung didalam rumah. Dengan bermain bersama masyarakat, mereka mengerti artinya hidup, mengerti untuk menghargai orang dengan berbagai karakter latar belakang, mengerti artinya persahabatan, dan mengerti artinya untuk bertahan hidup.
Kelima, mereka dapat menunjukkan karya-karya mereka di kehidupan real. Karena mereka telah digojlok sejak usia dini. Banyak yang sudah menunjukkan tajinya di perusahaan besar seperti Conoco Philips, TransTv, Prambors Radio, FFWD records, dll.
Di dalam perusahaan, saya mempelajari suatu hal yang menarik pula, layaknya kehidupan bermasyarakat, disana terdapat berbagai orang dengan berbagai latar belakang. Bos yang tentunya orang dengan penuh pendidikan tinggi, office boy dengan batasan pendidikannya, divisi marketing yang diisi orang social, divisi teknik diisi orang teknik, dan divisi desain yang diisi oleh orang seni. Semuanya datang dari latar belakang yang berbeda dan karakter yang berbeda. Jika kita mau masuk perusahaan atau suatu kehidupan bermasyarakat, tentunya kita memahami karakter-karakter yang berbeda.
Kita cenderung mengotak-ngotakkan diri dengan memilih bermain dengan siapa. Kita cenderung membatasi diri untuk lebih terbuka menerima banyak teman. Kita lebih memilih untuk berteman dengan aman. Jadi tidak mengetahui begitu berharganya pertemanan dan jaringan yang luas diluar sana.
Seperti yang disampaikan yoris Sebastian, bahwa networking menjadi penting dari suatu perkumpulan. Ya, karena kita akan menjadi belajar banyak, belajar menghargai, belajar menambah wawasan dan tentu saja dapat saling membantu di kemudian hari. Siapa yang tahu jika keberuntungan kita ada bersama teman-teman kita.
Saya cenderung menangkap bahwa yang bodoh tidak akan sukses dan imbasnya dia diremehkan oleh kaum yang merasa pintar. Namun, saya memperoleh jawaban yang pasti, bahwa jangan pernah meremehkan seseorang untuk keadaannya sekarang, karena mungkin saja orang itu sedang berproses menjadi jauh lebih baik dari orang yang meremehkannya. Karena semuanya terbukti, orang-orang disekitar saya yang dulu diremehkan, kini berbalik unggul dan jauh lebih baik dibanding yang dulu hanya mencemooh. Karena setiap orang dapat berubah 180 derajat kapanpun dia mau.
Seperti napoleon yang pendek namun berhasil menjadi pemimpin super, kangen band (yang menurut umum tampilannya tidak seperti band lain) mau tidak mau akhirnya orang-orang mengakui, kangen band membuktikan mereka berproses menjadi sukses karena banyak yang meyukai karyanya.
Orang-orang sukses berproses yakin dengan apa yang dilakukannya. Seperti yoris Sebastian yang dulu ‘bermain kreatif’ lalu menjadi GM termuda hard rock café, hingga sekarang memperoleh banyak penghargaan atas hasil kreatifnya. Dia memiliki paham yang dia buat sendiri yaitu happynomics yang berarti melakukan suatu hal yang dia lakukan secara happy dari passionnya namun menghasilkan uang.
Jika belajar dianggap positif dan bermain dianggap negatif, maka bermainlah untuk belajar. Dan hasilkan suatu karya yang akan membuat orang yang meremehkanmu menjadi bungkam seribu bahasa. Dengan impak yang kecil namun dapat berdampak besar. Lakukanlah hal positif yang dapat membuatmu positif dan produktif dalam batas kewajaran.
Dengan menghargai betapa pentingnya kehadiran teman-teman, betapa begitu berharganya teman-teman karena mengalirkan ilmu, wawasan dan pengisi energi batin yang baik.
Mari berteman. Mari membuat sejarah hidup kita dengan pengalaman yang banyak, untuk bekal anak dan cucu kita suatu saat nanti. Mari menjadikan diri kita pantas untuk tidak diremehkan.
PujiPrabowo, 10 januari 2010.



January 11th, 2010 at 2:38 am
Hai mas Uji (ups.. bener ga ya mangginya
) ..
Akhirnya bisa ada waktu mampir di blog mas uji.
Sip.. Sip.. saya setuju bermain untuk belajar itu lebih mengasyikan. Gak bikin Stress jg, tp untungnya orang tua saya tak pernah menganggap bermain itu negatif ^_^ I love my parent
January 11th, 2010 at 9:51 am
hello puspita, salam kenal ya
makasih loh udah mau buka blog ini dan baca2..heu
wah bersyukur ya kita, sama2 punya orang tua yang pengen anaknya bisa belajar darimana saja, asal ada prestasi tentunya